4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  

4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  
  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  


  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  
Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  


Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  
Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  


Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  

Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Laa Ilaha Illallah Bakda Shalat, Penting Diamalkan

Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi

Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Laa Ilaha Illallah Bakda Shalat, Penting Diamalkan

Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi
Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi


Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  
Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  


Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  
Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  


Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid
Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1331523286&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  
Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  


Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  
Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  


Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  

Begini Cara Menghitung Zakat Penghasilan yang Tepat, Simpanan 6 Juta Rupiah Sudah Kena Zakat

Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi

Begini Cara Menghitung Zakat Penghasilan yang Tepat, Simpanan 6 Juta Rupiah Sudah Kena Zakat

Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi
Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi


Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan?

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 QRIS donasi Yufid

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan?

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 QRIS donasi Yufid
Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1339257904&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 3)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid

Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 3)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid
Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid


Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid

Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 1).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan) 1.1. Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-Qoyyuumiyyah 1.1.1. Tuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum? 2. Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkan 3. Kesimpulan Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan)Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-QoyyuumiyyahAl-Qoyyuum adalah salah satu nama Allah yang husna (terindah). Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan kesimpulan makna Al-Qoyyuum yang mengandung dua makna pokok, yaitu:1) Yang Maha mandiri, sehingga tidak membutuhkan kepada sesuatu apapun dan tidak butuh kepada selain-Nya. Hal ini berarti nama Allah Al-Qayyuum mengandung sifat kaya yang sempurna. Allah tidak membutuhkan seluruh makhluk-Nya.Allah Ta’ala tidak membutuhkan kita dalam mengurus seluruh makhluk-Nya. Allah Ta’ala tidak membutuhkan ketaatan dan ibadah kita. Ketaatan kita tidak bermanfaat bagi Allah Ta’ala dan kemaksiatan hamba juga tidak membahayakan bagi Allah Ta’ala sedikit pun.2) Yang Maha mengurus segala sesuatu, sehingga semuanya membutuhkan kepada-Nya. Tidak ada satu pun di antara makhluk-Nya dapat bertahan di muka bumi kecuali diurus dan dipelihara oleh-Nya. Tiada satupun hamba-Nya dapat taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menghindari larangan-Nya kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan kemahakuasaan Allah Ta’ala. Nama Allah Al-Qayyuum juga mengandung sifat kuasa yang sempurna. Dengan demikian, Al-Qoyyuum bermakna yang Maha mandiri lagi Maha mengurus segala sesuatu.Al-Qoyyuum termasuk Al-Asma’ul Husna. Sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah dengan Asma’ul Husna. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا“Dan hanya milik Allah-lah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan Al-Asma’ul Husna tersebut” (QS. Al-A’raf: 180).Selain berdoa dengan menyebut nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan isi doa, kita juga harus beribadah dengan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum. Setiap nama dan sifat Allah Ta’ala mengandung tuntutan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyatakan,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanTuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum?Tuntutannya adalah seorang hamba meyakini kemahamandirian-Nya, kemahakayaan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan kemahapengurusan-Nya terhadap segala sesuatu. Dengan demikian, hal tersebut melahirkan sikap selalu membutuhkan-Nya dan berusaha meraih segala kebaikan dengan maksimal disertai menyandarkan hatinya kepada Allah semata. Selain itu, selalu berusaha memohon pertolongan kepada-Nya semata dan tidak bergantung kepada dirinya sendiri. Tidak pula bergantung kepada seluruh makhluk. Buah dari hal tersebut adalah ia tidak merasa besar di sisi Allah, memandang dirinya tidak memiliki kekuatan sama sekali kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak membangga-banggakan dirinya sendiri.Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkanAllah Ta’ala berfirman,اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu” (QS. Al-Muzzammil: 5).Ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri dan Qotadah Rahimahumallah menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Al-Qur’an itu berat pengamalannya. Sebagaimana ditafsirkan oleh ulama tafsir Muqotil dan Qotadah Rahimahumallah dalam ucapan yang lain bahwa kewajiban, perintah, dan larangan, serta batasan syariat yang ada dalam Al-Qur’an itu berat pengamalannya.Memang syariat Islam ini mudah. Namun berat diamalkan jika bukan Allah Ta’ala yang memudahkan. Oleh karena itu, jangan sombong dan merasa seolah-olah pasti bisa beribadah dengan baik pada bulan Ramadan. Allah Ta’ala akan memudahkan pengamalan Islam ini pada bulan Ramadan dan pada bulan selainnya bagi orang yang mendapatkan taufik-Nya. Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Ta’ala semata sembari bertawakal kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya semata.Mari kita renungkan beberapa contoh sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa beliau akan berat mengamalkan ketaatan, jika tidak Allah mudahkan. Bahkan beliau menunjukkan sikap mustahil melakukannya tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang terbaik. Rasulullah Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling paham ilmu syariat, paling sempurna amal salehnya, dan paling bertakwa kepada Allah Ta’ala.Al-Bara’ bin ‘Aazib Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Ahzab ikut serta memindahkan tanah galian Khandaq bersama kami. Bahkan tanah tersebut sampai menutupi kulit putih perut beliau. Beliau melantunkan syair,وَاللَّهِ لَوْلَا أَنْتَ ما اهْتَدَيْنَا… وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا‘Demi Allah, kalaulah bukan karena Engkau (Ya Allah), tentulah kami tidak akan mendapatkan hidayah # Dan kami tidak bisa bersedekah, dan kami tidak pula bisa menunaikan salat. Maka sungguh turunkanlah kepada kami ketenangan’ (HR. Bukhari dan Muslim).”Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu agar selalu meminta pertolongan kepada Allah pada setiap salatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا مُعاذُ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّكَ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّك“Wahai Mu’adz, Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu!”Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Lalu beliau bersabda,أوصيكَ يا معاذُ لا تدَعنَّ في دُبُر كلِّ صلاةٍ تقولُ: اللَّهمَّ أعنِّي على ذِكْرِكَ، وشُكْرِكَ، وحُسنِ عبادتِكَ“Saya wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah sekali-kali Engkau tinggalkan di akhir setiap salat, sebuah doa, ‘Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu (dengan baik)’” (HR. Abu Dawud, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan saja memohon pertolongan untuk bisa beribadah kepada Allah dan beramal saleh, namun -dalam hadis yang lain- beliau juga berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari berbuat buruk dan berbagai macam dosa serta mengikuti hawa nafsu yang tercela. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ من منكراتِ الأَخلاقِ والأعمالِ والأَهْواءِ“Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari akhlak batin yang mungkar, amal zahir yang mungkar, dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari segala kemungkaran, terkait dengan akhlak batin, amal zahir, dan hawa nafsu. Akhlak batin yang mungkar misalnya hasad, sombong, buruk sangka kepada saudaranya yang beriman, dan yang semisalnya. Amal zahir yang mungkar misalnya mencela, menuduh tanpa bukti, zina, membunuh, zalim, dan lainnya. Sedangkan hawa nafsu yang mungkar yakni seluruh sikap mengikuti hawa nafsu yang dibenci oleh Allah dan diingkari pelakunya.Dalam hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan terkena tipu daya setan yang menyesatkan manusia dari jalan Allah. Tipu daya setan terbagi menjadi dua, yaitu:1) Mengikuti syubhat, yang menjerumuskan kepada kekafiran atau bid’ah dan merusak kekuatan ilmiyyah hati.2) Mengikuti syahwat, yang menjerumuskan kepada dosa besar maupun kecil, terutama syahwat perut dan kemaluan. Keduanya adalah pokok syahwat dan merusak kekuatan kehendak baik hati yang membuahkan amal saleh.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن مما أخشى عليكم شهوات الغي في بطونكم وفروجكم ومضلات الهوى“Sesungguhnya termasuk perkara yang aku khawatirkan atas diri kalian adalah syahwat yang menyimpang pada perut dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan.”Di antara bentuk ketergantungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah semata adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنا على طاعَتِكَ“Ya Allah, sang pengatur hati, arahkan hati kami kepada ketaatan kepada-Mu” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon kepada Allah yang Maha mengatur hati manusia agar mengarahkan hati beliau kepada segala bentuk ketaatan kepada Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, zahir maupun batin, yang dicintai oleh Allah Ta’ala.Bahkan untuk urusan hati, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berdoa agar ditetapkan di atas agama Islam. Ini pun beliau sering berdoa kepada Allah agar menetapkan hati beliau di atas agama-Nya.Syahr bin Hausyab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Mukminin, apakah doa yang paling banyak diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat berada disisimu?”Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Dahulu doa yang paling banyak beliau ucapkan adalah,يا مُقلِّبَ القلوبِ ثبِّت قلبي على دينِكَ‘Wahai Sang Pembolak balik hati [1], tetapkan hatiku di atas agama-Mu.'”Ummu Salamah berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah mengapa doa yang paling banyak Engkau ucapkan adalah Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinika?'” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا أمَّ سلمةَ إنَّهُ لَيسَ آدميٌّ إلّا وقلبُهُ بينَ أصبُعَيْنِ من أصابعِ اللَّهِ، فمَن شاءَ أقامَ، ومن شاءَ أزاغَ‘Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari jemari Allah. Barang siapa yang Allah kehendaki (kebaikan), niscaya Allah akan menegakkan hati tersebut. Sedangkan barang siapa yang Allah kehendaki (keburukan), niscaya Allah akan menyimpangkannya.'”Lalu Mu’adz pun membaca doa,رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kami” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Ash-Shan’ani Rahimahullah menyatakan bahwa hati itu menyimpan rahasia-rahasia. Tidak ada yang mengetahui semuanya kecuali Allah semata. Oleh karena itu, selagi masih hidup, janganlah kita merasa aman dari fitnah syubhat maupun syahwat. Sesungguhnya rahasia hati itu akan muncul tandanya di akhir hayat kita.Apabila Allah mengetahui apa yang tersimpan di hati seorang hamba adalah kelurusan niat dan kejujuran hati, maka Allah akan tutup akhir hayatnya husnul khatimah dengan Allah beri taufik untuk beramal saleh di akhir hayatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّما الأعْمالُ بالخَواتِيمِ“Sesungguhnya amal itu ditentukan di akhir hayat seseorang” (HR. Bukhari).Maksudnya, sesungguhnya amal seorang hamba di akhir hayatnya itu lebih berhak dan inilah yang jadi patokan penilaian. Barang siapa yang beralih dari amal keburukan, meninggalkannya, dan beralih kepada ketaatan di akhir hayatnya, berarti dia sudah bertaubat. Barang siapa yang beralih dari ketaatan kepada keburukan di akhir hayatnya, maka dia su’ul khatimah. Dan barang siapa yang beralih dari keimanan kepada kekafiran, maka berarti ia murtad. Wal’iyaadzu billah.Al-Baji Rahimahullah berkata,لا عليكم أن لا تعجبوا بعمل أحد حتى تنظروا بم يختم له“Tidak masalah bagi kalian untuk tidak kagum pada amalan seseorang sampai kalian melihat amal akhir hayatnya.”Baca Juga: Semoga Kita Diampuni Selama RamadhanKesimpulanSebagaimana yang disampaikan Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam bahwa seorang hamba butuh untuk terus memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam setiap melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Begitu pun terus memohon dalam setiap sabar terhadap semua takdir, baik di dunia maupun saat menghadapi kengerian di alam barzakh dan hari kiamat.Tidak ada yang mampu menolong kecuali Allah ‘Azza wa jalla. Barang siapa yang benar-benar memohon pertolongan kepada Allah atas semua hal itu, maka Allah Ta’ala akan menolongnya. Barang siapa yang tidak memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan justru minta pertolongan kepada selain-Nya, niscaya Allah Ta’ala akan alihkan urusannya kepada selain-Nya. Dengan demikian, ia jadi ditelantarkan dan tidak medapat pertolongan dari Allah Ta’ala.[Bersambung]Baca Juga:Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar RamadhanGerakan Membela Ramadhan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1]  Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya sesuai dengan kehendak, kebijaksanaan dan keadilan serta karunia-Nya antara keimanan dan kekafiran, ketaatan dan kemaksiatan, serta hati-hati dan lalai.🔍 Bid'ah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Arti Astaghfirullah Wa Atubu Ilaih, Hadits Tentang Tasawuf, Sholat IdTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid

Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 1).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan) 1.1. Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-Qoyyuumiyyah 1.1.1. Tuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum? 2. Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkan 3. Kesimpulan Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan)Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-QoyyuumiyyahAl-Qoyyuum adalah salah satu nama Allah yang husna (terindah). Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan kesimpulan makna Al-Qoyyuum yang mengandung dua makna pokok, yaitu:1) Yang Maha mandiri, sehingga tidak membutuhkan kepada sesuatu apapun dan tidak butuh kepada selain-Nya. Hal ini berarti nama Allah Al-Qayyuum mengandung sifat kaya yang sempurna. Allah tidak membutuhkan seluruh makhluk-Nya.Allah Ta’ala tidak membutuhkan kita dalam mengurus seluruh makhluk-Nya. Allah Ta’ala tidak membutuhkan ketaatan dan ibadah kita. Ketaatan kita tidak bermanfaat bagi Allah Ta’ala dan kemaksiatan hamba juga tidak membahayakan bagi Allah Ta’ala sedikit pun.2) Yang Maha mengurus segala sesuatu, sehingga semuanya membutuhkan kepada-Nya. Tidak ada satu pun di antara makhluk-Nya dapat bertahan di muka bumi kecuali diurus dan dipelihara oleh-Nya. Tiada satupun hamba-Nya dapat taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menghindari larangan-Nya kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan kemahakuasaan Allah Ta’ala. Nama Allah Al-Qayyuum juga mengandung sifat kuasa yang sempurna. Dengan demikian, Al-Qoyyuum bermakna yang Maha mandiri lagi Maha mengurus segala sesuatu.Al-Qoyyuum termasuk Al-Asma’ul Husna. Sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah dengan Asma’ul Husna. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا“Dan hanya milik Allah-lah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan Al-Asma’ul Husna tersebut” (QS. Al-A’raf: 180).Selain berdoa dengan menyebut nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan isi doa, kita juga harus beribadah dengan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum. Setiap nama dan sifat Allah Ta’ala mengandung tuntutan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyatakan,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanTuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum?Tuntutannya adalah seorang hamba meyakini kemahamandirian-Nya, kemahakayaan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan kemahapengurusan-Nya terhadap segala sesuatu. Dengan demikian, hal tersebut melahirkan sikap selalu membutuhkan-Nya dan berusaha meraih segala kebaikan dengan maksimal disertai menyandarkan hatinya kepada Allah semata. Selain itu, selalu berusaha memohon pertolongan kepada-Nya semata dan tidak bergantung kepada dirinya sendiri. Tidak pula bergantung kepada seluruh makhluk. Buah dari hal tersebut adalah ia tidak merasa besar di sisi Allah, memandang dirinya tidak memiliki kekuatan sama sekali kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak membangga-banggakan dirinya sendiri.Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkanAllah Ta’ala berfirman,اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu” (QS. Al-Muzzammil: 5).Ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri dan Qotadah Rahimahumallah menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Al-Qur’an itu berat pengamalannya. Sebagaimana ditafsirkan oleh ulama tafsir Muqotil dan Qotadah Rahimahumallah dalam ucapan yang lain bahwa kewajiban, perintah, dan larangan, serta batasan syariat yang ada dalam Al-Qur’an itu berat pengamalannya.Memang syariat Islam ini mudah. Namun berat diamalkan jika bukan Allah Ta’ala yang memudahkan. Oleh karena itu, jangan sombong dan merasa seolah-olah pasti bisa beribadah dengan baik pada bulan Ramadan. Allah Ta’ala akan memudahkan pengamalan Islam ini pada bulan Ramadan dan pada bulan selainnya bagi orang yang mendapatkan taufik-Nya. Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Ta’ala semata sembari bertawakal kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya semata.Mari kita renungkan beberapa contoh sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa beliau akan berat mengamalkan ketaatan, jika tidak Allah mudahkan. Bahkan beliau menunjukkan sikap mustahil melakukannya tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang terbaik. Rasulullah Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling paham ilmu syariat, paling sempurna amal salehnya, dan paling bertakwa kepada Allah Ta’ala.Al-Bara’ bin ‘Aazib Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Ahzab ikut serta memindahkan tanah galian Khandaq bersama kami. Bahkan tanah tersebut sampai menutupi kulit putih perut beliau. Beliau melantunkan syair,وَاللَّهِ لَوْلَا أَنْتَ ما اهْتَدَيْنَا… وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا‘Demi Allah, kalaulah bukan karena Engkau (Ya Allah), tentulah kami tidak akan mendapatkan hidayah # Dan kami tidak bisa bersedekah, dan kami tidak pula bisa menunaikan salat. Maka sungguh turunkanlah kepada kami ketenangan’ (HR. Bukhari dan Muslim).”Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu agar selalu meminta pertolongan kepada Allah pada setiap salatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا مُعاذُ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّكَ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّك“Wahai Mu’adz, Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu!”Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Lalu beliau bersabda,أوصيكَ يا معاذُ لا تدَعنَّ في دُبُر كلِّ صلاةٍ تقولُ: اللَّهمَّ أعنِّي على ذِكْرِكَ، وشُكْرِكَ، وحُسنِ عبادتِكَ“Saya wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah sekali-kali Engkau tinggalkan di akhir setiap salat, sebuah doa, ‘Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu (dengan baik)’” (HR. Abu Dawud, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan saja memohon pertolongan untuk bisa beribadah kepada Allah dan beramal saleh, namun -dalam hadis yang lain- beliau juga berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari berbuat buruk dan berbagai macam dosa serta mengikuti hawa nafsu yang tercela. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ من منكراتِ الأَخلاقِ والأعمالِ والأَهْواءِ“Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari akhlak batin yang mungkar, amal zahir yang mungkar, dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari segala kemungkaran, terkait dengan akhlak batin, amal zahir, dan hawa nafsu. Akhlak batin yang mungkar misalnya hasad, sombong, buruk sangka kepada saudaranya yang beriman, dan yang semisalnya. Amal zahir yang mungkar misalnya mencela, menuduh tanpa bukti, zina, membunuh, zalim, dan lainnya. Sedangkan hawa nafsu yang mungkar yakni seluruh sikap mengikuti hawa nafsu yang dibenci oleh Allah dan diingkari pelakunya.Dalam hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan terkena tipu daya setan yang menyesatkan manusia dari jalan Allah. Tipu daya setan terbagi menjadi dua, yaitu:1) Mengikuti syubhat, yang menjerumuskan kepada kekafiran atau bid’ah dan merusak kekuatan ilmiyyah hati.2) Mengikuti syahwat, yang menjerumuskan kepada dosa besar maupun kecil, terutama syahwat perut dan kemaluan. Keduanya adalah pokok syahwat dan merusak kekuatan kehendak baik hati yang membuahkan amal saleh.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن مما أخشى عليكم شهوات الغي في بطونكم وفروجكم ومضلات الهوى“Sesungguhnya termasuk perkara yang aku khawatirkan atas diri kalian adalah syahwat yang menyimpang pada perut dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan.”Di antara bentuk ketergantungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah semata adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنا على طاعَتِكَ“Ya Allah, sang pengatur hati, arahkan hati kami kepada ketaatan kepada-Mu” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon kepada Allah yang Maha mengatur hati manusia agar mengarahkan hati beliau kepada segala bentuk ketaatan kepada Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, zahir maupun batin, yang dicintai oleh Allah Ta’ala.Bahkan untuk urusan hati, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berdoa agar ditetapkan di atas agama Islam. Ini pun beliau sering berdoa kepada Allah agar menetapkan hati beliau di atas agama-Nya.Syahr bin Hausyab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Mukminin, apakah doa yang paling banyak diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat berada disisimu?”Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Dahulu doa yang paling banyak beliau ucapkan adalah,يا مُقلِّبَ القلوبِ ثبِّت قلبي على دينِكَ‘Wahai Sang Pembolak balik hati [1], tetapkan hatiku di atas agama-Mu.'”Ummu Salamah berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah mengapa doa yang paling banyak Engkau ucapkan adalah Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinika?'” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا أمَّ سلمةَ إنَّهُ لَيسَ آدميٌّ إلّا وقلبُهُ بينَ أصبُعَيْنِ من أصابعِ اللَّهِ، فمَن شاءَ أقامَ، ومن شاءَ أزاغَ‘Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari jemari Allah. Barang siapa yang Allah kehendaki (kebaikan), niscaya Allah akan menegakkan hati tersebut. Sedangkan barang siapa yang Allah kehendaki (keburukan), niscaya Allah akan menyimpangkannya.'”Lalu Mu’adz pun membaca doa,رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kami” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Ash-Shan’ani Rahimahullah menyatakan bahwa hati itu menyimpan rahasia-rahasia. Tidak ada yang mengetahui semuanya kecuali Allah semata. Oleh karena itu, selagi masih hidup, janganlah kita merasa aman dari fitnah syubhat maupun syahwat. Sesungguhnya rahasia hati itu akan muncul tandanya di akhir hayat kita.Apabila Allah mengetahui apa yang tersimpan di hati seorang hamba adalah kelurusan niat dan kejujuran hati, maka Allah akan tutup akhir hayatnya husnul khatimah dengan Allah beri taufik untuk beramal saleh di akhir hayatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّما الأعْمالُ بالخَواتِيمِ“Sesungguhnya amal itu ditentukan di akhir hayat seseorang” (HR. Bukhari).Maksudnya, sesungguhnya amal seorang hamba di akhir hayatnya itu lebih berhak dan inilah yang jadi patokan penilaian. Barang siapa yang beralih dari amal keburukan, meninggalkannya, dan beralih kepada ketaatan di akhir hayatnya, berarti dia sudah bertaubat. Barang siapa yang beralih dari ketaatan kepada keburukan di akhir hayatnya, maka dia su’ul khatimah. Dan barang siapa yang beralih dari keimanan kepada kekafiran, maka berarti ia murtad. Wal’iyaadzu billah.Al-Baji Rahimahullah berkata,لا عليكم أن لا تعجبوا بعمل أحد حتى تنظروا بم يختم له“Tidak masalah bagi kalian untuk tidak kagum pada amalan seseorang sampai kalian melihat amal akhir hayatnya.”Baca Juga: Semoga Kita Diampuni Selama RamadhanKesimpulanSebagaimana yang disampaikan Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam bahwa seorang hamba butuh untuk terus memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam setiap melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Begitu pun terus memohon dalam setiap sabar terhadap semua takdir, baik di dunia maupun saat menghadapi kengerian di alam barzakh dan hari kiamat.Tidak ada yang mampu menolong kecuali Allah ‘Azza wa jalla. Barang siapa yang benar-benar memohon pertolongan kepada Allah atas semua hal itu, maka Allah Ta’ala akan menolongnya. Barang siapa yang tidak memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan justru minta pertolongan kepada selain-Nya, niscaya Allah Ta’ala akan alihkan urusannya kepada selain-Nya. Dengan demikian, ia jadi ditelantarkan dan tidak medapat pertolongan dari Allah Ta’ala.[Bersambung]Baca Juga:Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar RamadhanGerakan Membela Ramadhan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1]  Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya sesuai dengan kehendak, kebijaksanaan dan keadilan serta karunia-Nya antara keimanan dan kekafiran, ketaatan dan kemaksiatan, serta hati-hati dan lalai.🔍 Bid'ah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Arti Astaghfirullah Wa Atubu Ilaih, Hadits Tentang Tasawuf, Sholat IdTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid
Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 1).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan) 1.1. Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-Qoyyuumiyyah 1.1.1. Tuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum? 2. Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkan 3. Kesimpulan Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan)Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-QoyyuumiyyahAl-Qoyyuum adalah salah satu nama Allah yang husna (terindah). Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan kesimpulan makna Al-Qoyyuum yang mengandung dua makna pokok, yaitu:1) Yang Maha mandiri, sehingga tidak membutuhkan kepada sesuatu apapun dan tidak butuh kepada selain-Nya. Hal ini berarti nama Allah Al-Qayyuum mengandung sifat kaya yang sempurna. Allah tidak membutuhkan seluruh makhluk-Nya.Allah Ta’ala tidak membutuhkan kita dalam mengurus seluruh makhluk-Nya. Allah Ta’ala tidak membutuhkan ketaatan dan ibadah kita. Ketaatan kita tidak bermanfaat bagi Allah Ta’ala dan kemaksiatan hamba juga tidak membahayakan bagi Allah Ta’ala sedikit pun.2) Yang Maha mengurus segala sesuatu, sehingga semuanya membutuhkan kepada-Nya. Tidak ada satu pun di antara makhluk-Nya dapat bertahan di muka bumi kecuali diurus dan dipelihara oleh-Nya. Tiada satupun hamba-Nya dapat taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menghindari larangan-Nya kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan kemahakuasaan Allah Ta’ala. Nama Allah Al-Qayyuum juga mengandung sifat kuasa yang sempurna. Dengan demikian, Al-Qoyyuum bermakna yang Maha mandiri lagi Maha mengurus segala sesuatu.Al-Qoyyuum termasuk Al-Asma’ul Husna. Sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah dengan Asma’ul Husna. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا“Dan hanya milik Allah-lah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan Al-Asma’ul Husna tersebut” (QS. Al-A’raf: 180).Selain berdoa dengan menyebut nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan isi doa, kita juga harus beribadah dengan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum. Setiap nama dan sifat Allah Ta’ala mengandung tuntutan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyatakan,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanTuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum?Tuntutannya adalah seorang hamba meyakini kemahamandirian-Nya, kemahakayaan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan kemahapengurusan-Nya terhadap segala sesuatu. Dengan demikian, hal tersebut melahirkan sikap selalu membutuhkan-Nya dan berusaha meraih segala kebaikan dengan maksimal disertai menyandarkan hatinya kepada Allah semata. Selain itu, selalu berusaha memohon pertolongan kepada-Nya semata dan tidak bergantung kepada dirinya sendiri. Tidak pula bergantung kepada seluruh makhluk. Buah dari hal tersebut adalah ia tidak merasa besar di sisi Allah, memandang dirinya tidak memiliki kekuatan sama sekali kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak membangga-banggakan dirinya sendiri.Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkanAllah Ta’ala berfirman,اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu” (QS. Al-Muzzammil: 5).Ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri dan Qotadah Rahimahumallah menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Al-Qur’an itu berat pengamalannya. Sebagaimana ditafsirkan oleh ulama tafsir Muqotil dan Qotadah Rahimahumallah dalam ucapan yang lain bahwa kewajiban, perintah, dan larangan, serta batasan syariat yang ada dalam Al-Qur’an itu berat pengamalannya.Memang syariat Islam ini mudah. Namun berat diamalkan jika bukan Allah Ta’ala yang memudahkan. Oleh karena itu, jangan sombong dan merasa seolah-olah pasti bisa beribadah dengan baik pada bulan Ramadan. Allah Ta’ala akan memudahkan pengamalan Islam ini pada bulan Ramadan dan pada bulan selainnya bagi orang yang mendapatkan taufik-Nya. Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Ta’ala semata sembari bertawakal kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya semata.Mari kita renungkan beberapa contoh sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa beliau akan berat mengamalkan ketaatan, jika tidak Allah mudahkan. Bahkan beliau menunjukkan sikap mustahil melakukannya tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang terbaik. Rasulullah Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling paham ilmu syariat, paling sempurna amal salehnya, dan paling bertakwa kepada Allah Ta’ala.Al-Bara’ bin ‘Aazib Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Ahzab ikut serta memindahkan tanah galian Khandaq bersama kami. Bahkan tanah tersebut sampai menutupi kulit putih perut beliau. Beliau melantunkan syair,وَاللَّهِ لَوْلَا أَنْتَ ما اهْتَدَيْنَا… وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا‘Demi Allah, kalaulah bukan karena Engkau (Ya Allah), tentulah kami tidak akan mendapatkan hidayah # Dan kami tidak bisa bersedekah, dan kami tidak pula bisa menunaikan salat. Maka sungguh turunkanlah kepada kami ketenangan’ (HR. Bukhari dan Muslim).”Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu agar selalu meminta pertolongan kepada Allah pada setiap salatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا مُعاذُ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّكَ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّك“Wahai Mu’adz, Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu!”Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Lalu beliau bersabda,أوصيكَ يا معاذُ لا تدَعنَّ في دُبُر كلِّ صلاةٍ تقولُ: اللَّهمَّ أعنِّي على ذِكْرِكَ، وشُكْرِكَ، وحُسنِ عبادتِكَ“Saya wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah sekali-kali Engkau tinggalkan di akhir setiap salat, sebuah doa, ‘Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu (dengan baik)’” (HR. Abu Dawud, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan saja memohon pertolongan untuk bisa beribadah kepada Allah dan beramal saleh, namun -dalam hadis yang lain- beliau juga berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari berbuat buruk dan berbagai macam dosa serta mengikuti hawa nafsu yang tercela. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ من منكراتِ الأَخلاقِ والأعمالِ والأَهْواءِ“Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari akhlak batin yang mungkar, amal zahir yang mungkar, dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari segala kemungkaran, terkait dengan akhlak batin, amal zahir, dan hawa nafsu. Akhlak batin yang mungkar misalnya hasad, sombong, buruk sangka kepada saudaranya yang beriman, dan yang semisalnya. Amal zahir yang mungkar misalnya mencela, menuduh tanpa bukti, zina, membunuh, zalim, dan lainnya. Sedangkan hawa nafsu yang mungkar yakni seluruh sikap mengikuti hawa nafsu yang dibenci oleh Allah dan diingkari pelakunya.Dalam hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan terkena tipu daya setan yang menyesatkan manusia dari jalan Allah. Tipu daya setan terbagi menjadi dua, yaitu:1) Mengikuti syubhat, yang menjerumuskan kepada kekafiran atau bid’ah dan merusak kekuatan ilmiyyah hati.2) Mengikuti syahwat, yang menjerumuskan kepada dosa besar maupun kecil, terutama syahwat perut dan kemaluan. Keduanya adalah pokok syahwat dan merusak kekuatan kehendak baik hati yang membuahkan amal saleh.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن مما أخشى عليكم شهوات الغي في بطونكم وفروجكم ومضلات الهوى“Sesungguhnya termasuk perkara yang aku khawatirkan atas diri kalian adalah syahwat yang menyimpang pada perut dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan.”Di antara bentuk ketergantungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah semata adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنا على طاعَتِكَ“Ya Allah, sang pengatur hati, arahkan hati kami kepada ketaatan kepada-Mu” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon kepada Allah yang Maha mengatur hati manusia agar mengarahkan hati beliau kepada segala bentuk ketaatan kepada Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, zahir maupun batin, yang dicintai oleh Allah Ta’ala.Bahkan untuk urusan hati, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berdoa agar ditetapkan di atas agama Islam. Ini pun beliau sering berdoa kepada Allah agar menetapkan hati beliau di atas agama-Nya.Syahr bin Hausyab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Mukminin, apakah doa yang paling banyak diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat berada disisimu?”Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Dahulu doa yang paling banyak beliau ucapkan adalah,يا مُقلِّبَ القلوبِ ثبِّت قلبي على دينِكَ‘Wahai Sang Pembolak balik hati [1], tetapkan hatiku di atas agama-Mu.'”Ummu Salamah berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah mengapa doa yang paling banyak Engkau ucapkan adalah Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinika?'” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا أمَّ سلمةَ إنَّهُ لَيسَ آدميٌّ إلّا وقلبُهُ بينَ أصبُعَيْنِ من أصابعِ اللَّهِ، فمَن شاءَ أقامَ، ومن شاءَ أزاغَ‘Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari jemari Allah. Barang siapa yang Allah kehendaki (kebaikan), niscaya Allah akan menegakkan hati tersebut. Sedangkan barang siapa yang Allah kehendaki (keburukan), niscaya Allah akan menyimpangkannya.'”Lalu Mu’adz pun membaca doa,رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kami” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Ash-Shan’ani Rahimahullah menyatakan bahwa hati itu menyimpan rahasia-rahasia. Tidak ada yang mengetahui semuanya kecuali Allah semata. Oleh karena itu, selagi masih hidup, janganlah kita merasa aman dari fitnah syubhat maupun syahwat. Sesungguhnya rahasia hati itu akan muncul tandanya di akhir hayat kita.Apabila Allah mengetahui apa yang tersimpan di hati seorang hamba adalah kelurusan niat dan kejujuran hati, maka Allah akan tutup akhir hayatnya husnul khatimah dengan Allah beri taufik untuk beramal saleh di akhir hayatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّما الأعْمالُ بالخَواتِيمِ“Sesungguhnya amal itu ditentukan di akhir hayat seseorang” (HR. Bukhari).Maksudnya, sesungguhnya amal seorang hamba di akhir hayatnya itu lebih berhak dan inilah yang jadi patokan penilaian. Barang siapa yang beralih dari amal keburukan, meninggalkannya, dan beralih kepada ketaatan di akhir hayatnya, berarti dia sudah bertaubat. Barang siapa yang beralih dari ketaatan kepada keburukan di akhir hayatnya, maka dia su’ul khatimah. Dan barang siapa yang beralih dari keimanan kepada kekafiran, maka berarti ia murtad. Wal’iyaadzu billah.Al-Baji Rahimahullah berkata,لا عليكم أن لا تعجبوا بعمل أحد حتى تنظروا بم يختم له“Tidak masalah bagi kalian untuk tidak kagum pada amalan seseorang sampai kalian melihat amal akhir hayatnya.”Baca Juga: Semoga Kita Diampuni Selama RamadhanKesimpulanSebagaimana yang disampaikan Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam bahwa seorang hamba butuh untuk terus memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam setiap melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Begitu pun terus memohon dalam setiap sabar terhadap semua takdir, baik di dunia maupun saat menghadapi kengerian di alam barzakh dan hari kiamat.Tidak ada yang mampu menolong kecuali Allah ‘Azza wa jalla. Barang siapa yang benar-benar memohon pertolongan kepada Allah atas semua hal itu, maka Allah Ta’ala akan menolongnya. Barang siapa yang tidak memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan justru minta pertolongan kepada selain-Nya, niscaya Allah Ta’ala akan alihkan urusannya kepada selain-Nya. Dengan demikian, ia jadi ditelantarkan dan tidak medapat pertolongan dari Allah Ta’ala.[Bersambung]Baca Juga:Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar RamadhanGerakan Membela Ramadhan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1]  Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya sesuai dengan kehendak, kebijaksanaan dan keadilan serta karunia-Nya antara keimanan dan kekafiran, ketaatan dan kemaksiatan, serta hati-hati dan lalai.🔍 Bid'ah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Arti Astaghfirullah Wa Atubu Ilaih, Hadits Tentang Tasawuf, Sholat IdTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid


Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 1).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan) 1.1. Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-Qoyyuumiyyah 1.1.1. Tuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum? 2. Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkan 3. Kesimpulan Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan)Prinsip kedua: menghayati nama Allah Al-Qoyyuum dan sifat-Nya Al-QoyyuumiyyahAl-Qoyyuum adalah salah satu nama Allah yang husna (terindah). Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan kesimpulan makna Al-Qoyyuum yang mengandung dua makna pokok, yaitu:1) Yang Maha mandiri, sehingga tidak membutuhkan kepada sesuatu apapun dan tidak butuh kepada selain-Nya. Hal ini berarti nama Allah Al-Qayyuum mengandung sifat kaya yang sempurna. Allah tidak membutuhkan seluruh makhluk-Nya.Allah Ta’ala tidak membutuhkan kita dalam mengurus seluruh makhluk-Nya. Allah Ta’ala tidak membutuhkan ketaatan dan ibadah kita. Ketaatan kita tidak bermanfaat bagi Allah Ta’ala dan kemaksiatan hamba juga tidak membahayakan bagi Allah Ta’ala sedikit pun.2) Yang Maha mengurus segala sesuatu, sehingga semuanya membutuhkan kepada-Nya. Tidak ada satu pun di antara makhluk-Nya dapat bertahan di muka bumi kecuali diurus dan dipelihara oleh-Nya. Tiada satupun hamba-Nya dapat taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menghindari larangan-Nya kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan kemahakuasaan Allah Ta’ala. Nama Allah Al-Qayyuum juga mengandung sifat kuasa yang sempurna. Dengan demikian, Al-Qoyyuum bermakna yang Maha mandiri lagi Maha mengurus segala sesuatu.Al-Qoyyuum termasuk Al-Asma’ul Husna. Sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah dengan Asma’ul Husna. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا“Dan hanya milik Allah-lah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan Al-Asma’ul Husna tersebut” (QS. Al-A’raf: 180).Selain berdoa dengan menyebut nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan isi doa, kita juga harus beribadah dengan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum. Setiap nama dan sifat Allah Ta’ala mengandung tuntutan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyatakan,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanTuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama Al-Qoyyuum?Tuntutannya adalah seorang hamba meyakini kemahamandirian-Nya, kemahakayaan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan kemahapengurusan-Nya terhadap segala sesuatu. Dengan demikian, hal tersebut melahirkan sikap selalu membutuhkan-Nya dan berusaha meraih segala kebaikan dengan maksimal disertai menyandarkan hatinya kepada Allah semata. Selain itu, selalu berusaha memohon pertolongan kepada-Nya semata dan tidak bergantung kepada dirinya sendiri. Tidak pula bergantung kepada seluruh makhluk. Buah dari hal tersebut adalah ia tidak merasa besar di sisi Allah, memandang dirinya tidak memiliki kekuatan sama sekali kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak membangga-banggakan dirinya sendiri.Prinsip ketiga: Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkanAllah Ta’ala berfirman,اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu” (QS. Al-Muzzammil: 5).Ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri dan Qotadah Rahimahumallah menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Al-Qur’an itu berat pengamalannya. Sebagaimana ditafsirkan oleh ulama tafsir Muqotil dan Qotadah Rahimahumallah dalam ucapan yang lain bahwa kewajiban, perintah, dan larangan, serta batasan syariat yang ada dalam Al-Qur’an itu berat pengamalannya.Memang syariat Islam ini mudah. Namun berat diamalkan jika bukan Allah Ta’ala yang memudahkan. Oleh karena itu, jangan sombong dan merasa seolah-olah pasti bisa beribadah dengan baik pada bulan Ramadan. Allah Ta’ala akan memudahkan pengamalan Islam ini pada bulan Ramadan dan pada bulan selainnya bagi orang yang mendapatkan taufik-Nya. Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Ta’ala semata sembari bertawakal kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya semata.Mari kita renungkan beberapa contoh sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa beliau akan berat mengamalkan ketaatan, jika tidak Allah mudahkan. Bahkan beliau menunjukkan sikap mustahil melakukannya tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang terbaik. Rasulullah Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling paham ilmu syariat, paling sempurna amal salehnya, dan paling bertakwa kepada Allah Ta’ala.Al-Bara’ bin ‘Aazib Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Ahzab ikut serta memindahkan tanah galian Khandaq bersama kami. Bahkan tanah tersebut sampai menutupi kulit putih perut beliau. Beliau melantunkan syair,وَاللَّهِ لَوْلَا أَنْتَ ما اهْتَدَيْنَا… وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا‘Demi Allah, kalaulah bukan karena Engkau (Ya Allah), tentulah kami tidak akan mendapatkan hidayah # Dan kami tidak bisa bersedekah, dan kami tidak pula bisa menunaikan salat. Maka sungguh turunkanlah kepada kami ketenangan’ (HR. Bukhari dan Muslim).”Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu agar selalu meminta pertolongan kepada Allah pada setiap salatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا مُعاذُ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّكَ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّك“Wahai Mu’adz, Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu!”Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Lalu beliau bersabda,أوصيكَ يا معاذُ لا تدَعنَّ في دُبُر كلِّ صلاةٍ تقولُ: اللَّهمَّ أعنِّي على ذِكْرِكَ، وشُكْرِكَ، وحُسنِ عبادتِكَ“Saya wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah sekali-kali Engkau tinggalkan di akhir setiap salat, sebuah doa, ‘Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu (dengan baik)’” (HR. Abu Dawud, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan saja memohon pertolongan untuk bisa beribadah kepada Allah dan beramal saleh, namun -dalam hadis yang lain- beliau juga berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari berbuat buruk dan berbagai macam dosa serta mengikuti hawa nafsu yang tercela. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ من منكراتِ الأَخلاقِ والأعمالِ والأَهْواءِ“Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari akhlak batin yang mungkar, amal zahir yang mungkar, dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari segala kemungkaran, terkait dengan akhlak batin, amal zahir, dan hawa nafsu. Akhlak batin yang mungkar misalnya hasad, sombong, buruk sangka kepada saudaranya yang beriman, dan yang semisalnya. Amal zahir yang mungkar misalnya mencela, menuduh tanpa bukti, zina, membunuh, zalim, dan lainnya. Sedangkan hawa nafsu yang mungkar yakni seluruh sikap mengikuti hawa nafsu yang dibenci oleh Allah dan diingkari pelakunya.Dalam hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan terkena tipu daya setan yang menyesatkan manusia dari jalan Allah. Tipu daya setan terbagi menjadi dua, yaitu:1) Mengikuti syubhat, yang menjerumuskan kepada kekafiran atau bid’ah dan merusak kekuatan ilmiyyah hati.2) Mengikuti syahwat, yang menjerumuskan kepada dosa besar maupun kecil, terutama syahwat perut dan kemaluan. Keduanya adalah pokok syahwat dan merusak kekuatan kehendak baik hati yang membuahkan amal saleh.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن مما أخشى عليكم شهوات الغي في بطونكم وفروجكم ومضلات الهوى“Sesungguhnya termasuk perkara yang aku khawatirkan atas diri kalian adalah syahwat yang menyimpang pada perut dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan.”Di antara bentuk ketergantungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah semata adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنا على طاعَتِكَ“Ya Allah, sang pengatur hati, arahkan hati kami kepada ketaatan kepada-Mu” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon kepada Allah yang Maha mengatur hati manusia agar mengarahkan hati beliau kepada segala bentuk ketaatan kepada Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, zahir maupun batin, yang dicintai oleh Allah Ta’ala.Bahkan untuk urusan hati, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berdoa agar ditetapkan di atas agama Islam. Ini pun beliau sering berdoa kepada Allah agar menetapkan hati beliau di atas agama-Nya.Syahr bin Hausyab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Mukminin, apakah doa yang paling banyak diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat berada disisimu?”Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Dahulu doa yang paling banyak beliau ucapkan adalah,يا مُقلِّبَ القلوبِ ثبِّت قلبي على دينِكَ‘Wahai Sang Pembolak balik hati [1], tetapkan hatiku di atas agama-Mu.'”Ummu Salamah berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah mengapa doa yang paling banyak Engkau ucapkan adalah Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinika?'” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يا أمَّ سلمةَ إنَّهُ لَيسَ آدميٌّ إلّا وقلبُهُ بينَ أصبُعَيْنِ من أصابعِ اللَّهِ، فمَن شاءَ أقامَ، ومن شاءَ أزاغَ‘Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari jemari Allah. Barang siapa yang Allah kehendaki (kebaikan), niscaya Allah akan menegakkan hati tersebut. Sedangkan barang siapa yang Allah kehendaki (keburukan), niscaya Allah akan menyimpangkannya.'”Lalu Mu’adz pun membaca doa,رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kami” (HR. At-Tirmidzi, sahih).Ash-Shan’ani Rahimahullah menyatakan bahwa hati itu menyimpan rahasia-rahasia. Tidak ada yang mengetahui semuanya kecuali Allah semata. Oleh karena itu, selagi masih hidup, janganlah kita merasa aman dari fitnah syubhat maupun syahwat. Sesungguhnya rahasia hati itu akan muncul tandanya di akhir hayat kita.Apabila Allah mengetahui apa yang tersimpan di hati seorang hamba adalah kelurusan niat dan kejujuran hati, maka Allah akan tutup akhir hayatnya husnul khatimah dengan Allah beri taufik untuk beramal saleh di akhir hayatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّما الأعْمالُ بالخَواتِيمِ“Sesungguhnya amal itu ditentukan di akhir hayat seseorang” (HR. Bukhari).Maksudnya, sesungguhnya amal seorang hamba di akhir hayatnya itu lebih berhak dan inilah yang jadi patokan penilaian. Barang siapa yang beralih dari amal keburukan, meninggalkannya, dan beralih kepada ketaatan di akhir hayatnya, berarti dia sudah bertaubat. Barang siapa yang beralih dari ketaatan kepada keburukan di akhir hayatnya, maka dia su’ul khatimah. Dan barang siapa yang beralih dari keimanan kepada kekafiran, maka berarti ia murtad. Wal’iyaadzu billah.Al-Baji Rahimahullah berkata,لا عليكم أن لا تعجبوا بعمل أحد حتى تنظروا بم يختم له“Tidak masalah bagi kalian untuk tidak kagum pada amalan seseorang sampai kalian melihat amal akhir hayatnya.”Baca Juga: Semoga Kita Diampuni Selama RamadhanKesimpulanSebagaimana yang disampaikan Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam bahwa seorang hamba butuh untuk terus memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam setiap melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Begitu pun terus memohon dalam setiap sabar terhadap semua takdir, baik di dunia maupun saat menghadapi kengerian di alam barzakh dan hari kiamat.Tidak ada yang mampu menolong kecuali Allah ‘Azza wa jalla. Barang siapa yang benar-benar memohon pertolongan kepada Allah atas semua hal itu, maka Allah Ta’ala akan menolongnya. Barang siapa yang tidak memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan justru minta pertolongan kepada selain-Nya, niscaya Allah Ta’ala akan alihkan urusannya kepada selain-Nya. Dengan demikian, ia jadi ditelantarkan dan tidak medapat pertolongan dari Allah Ta’ala.[Bersambung]Baca Juga:Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar RamadhanGerakan Membela Ramadhan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1]  Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya sesuai dengan kehendak, kebijaksanaan dan keadilan serta karunia-Nya antara keimanan dan kekafiran, ketaatan dan kemaksiatan, serta hati-hati dan lalai.🔍 Bid'ah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Arti Astaghfirullah Wa Atubu Ilaih, Hadits Tentang Tasawuf, Sholat IdTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid

Perbedaan Wasiat dan Hibah

Perbedaan Wasiat dan Hibah Pertanyaan: Assalamualaikum Ustadz, mohon penjelasan tentang apa bedanya wasiat dan hibah? Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Kedua akad ini sama-sama akad memberi. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut. Pertama, kalau wasiat harta baru bisa diterima setelah pemberinya meninggal. Adapun hibah adalah harta sudah bisa menjadi hak milik seketika ketika akad diucapkan, tidak harus menunggu pemberi hibah meninggal dunia. Kedua, wasiat tidak boleh lebih dari ⅓ harta peninggalan, adapun hibah boleh lebih bahkan boleh seluruh hartanya. (Referensi: Fatawa Islam nomor 598) Sebagaimana keterangan dalam Sa’ad bin Abi Waqqas berikut, يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَنَا ذُو مَالٍ , وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا اِبْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ , أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ ؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ ؟ قَالَ : اَلثُّلُثُ , وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ , إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ اَلنَّاسَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)  “Ya Rasulullah, aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisi kecuali anak perempuanku satu-satunya. Bolehkah aku bersedekah dengan ⅔ hartaku?“ “Jangan.” Jawab Nabi. Aku bertanya kembali, “Bagaimana kalau aku setengahnya ya Rasulullah?“ Beliau menjawab, “Jangan.” Kalau sepertiganya bagaimana ya Rasulullah?“ Beliau menjawab “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada orang.” Muttafaq Alaih. Ketiga, hibah tidak sah jika pemberinya adalah orang safih (dungu dalam urusan duit/harta). Berbeda dengan wasiat, ia sah meski pemberinya adalah orang yang safih. Keempat, hibah boleh diberikan kepada ahli waris, adapun wasiat tidak boleh diberikan kepada ahli waris kecuali jika ahli waris yang lain merelakannya. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, لا وصية لوارث إلا أن يجيز الورثة “Tidak boleh ada wasiat kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain membolehkan/merelakan.” (HR. Daruqutni, dari sahabat Amr bin Syu’aib) Hadis ini dikuatkan oleh pernyataan sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, لا تجوز وصية لوارث إلا أن يشاء الورثة. “Tidak boleh wasiat diberikan kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain merelakannya.” Wallahu a’lam bish shawab. Baca tulisan kami terkait tema ini: Status Harta Wasiat untuk Ahli Waris https://muslim.or.id/67879-status-harta-wasiat-untuk-ahli-waris.html Referensi: – Website ilmiah asuhan Syaikh Abdul Qadir Assegaf: https://dorar.net/feqhia/5925/ – Website ilmiah Fatawa Islam: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/569/ *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Kalimat Tauhid Arab, Ya'jud Dan Ma'jud, Perempuan Keluar Air Mani, Perhiasan Wanita Emas, Hukum Orang Berzina, Cairan Yang Keluar Saat Hamil Muda Visited 91 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 QRIS donasi Yufid

Perbedaan Wasiat dan Hibah

Perbedaan Wasiat dan Hibah Pertanyaan: Assalamualaikum Ustadz, mohon penjelasan tentang apa bedanya wasiat dan hibah? Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Kedua akad ini sama-sama akad memberi. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut. Pertama, kalau wasiat harta baru bisa diterima setelah pemberinya meninggal. Adapun hibah adalah harta sudah bisa menjadi hak milik seketika ketika akad diucapkan, tidak harus menunggu pemberi hibah meninggal dunia. Kedua, wasiat tidak boleh lebih dari ⅓ harta peninggalan, adapun hibah boleh lebih bahkan boleh seluruh hartanya. (Referensi: Fatawa Islam nomor 598) Sebagaimana keterangan dalam Sa’ad bin Abi Waqqas berikut, يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَنَا ذُو مَالٍ , وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا اِبْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ , أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ ؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ ؟ قَالَ : اَلثُّلُثُ , وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ , إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ اَلنَّاسَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)  “Ya Rasulullah, aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisi kecuali anak perempuanku satu-satunya. Bolehkah aku bersedekah dengan ⅔ hartaku?“ “Jangan.” Jawab Nabi. Aku bertanya kembali, “Bagaimana kalau aku setengahnya ya Rasulullah?“ Beliau menjawab, “Jangan.” Kalau sepertiganya bagaimana ya Rasulullah?“ Beliau menjawab “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada orang.” Muttafaq Alaih. Ketiga, hibah tidak sah jika pemberinya adalah orang safih (dungu dalam urusan duit/harta). Berbeda dengan wasiat, ia sah meski pemberinya adalah orang yang safih. Keempat, hibah boleh diberikan kepada ahli waris, adapun wasiat tidak boleh diberikan kepada ahli waris kecuali jika ahli waris yang lain merelakannya. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, لا وصية لوارث إلا أن يجيز الورثة “Tidak boleh ada wasiat kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain membolehkan/merelakan.” (HR. Daruqutni, dari sahabat Amr bin Syu’aib) Hadis ini dikuatkan oleh pernyataan sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, لا تجوز وصية لوارث إلا أن يشاء الورثة. “Tidak boleh wasiat diberikan kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain merelakannya.” Wallahu a’lam bish shawab. Baca tulisan kami terkait tema ini: Status Harta Wasiat untuk Ahli Waris https://muslim.or.id/67879-status-harta-wasiat-untuk-ahli-waris.html Referensi: – Website ilmiah asuhan Syaikh Abdul Qadir Assegaf: https://dorar.net/feqhia/5925/ – Website ilmiah Fatawa Islam: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/569/ *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Kalimat Tauhid Arab, Ya'jud Dan Ma'jud, Perempuan Keluar Air Mani, Perhiasan Wanita Emas, Hukum Orang Berzina, Cairan Yang Keluar Saat Hamil Muda Visited 91 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 QRIS donasi Yufid
Perbedaan Wasiat dan Hibah Pertanyaan: Assalamualaikum Ustadz, mohon penjelasan tentang apa bedanya wasiat dan hibah? Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Kedua akad ini sama-sama akad memberi. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut. Pertama, kalau wasiat harta baru bisa diterima setelah pemberinya meninggal. Adapun hibah adalah harta sudah bisa menjadi hak milik seketika ketika akad diucapkan, tidak harus menunggu pemberi hibah meninggal dunia. Kedua, wasiat tidak boleh lebih dari ⅓ harta peninggalan, adapun hibah boleh lebih bahkan boleh seluruh hartanya. (Referensi: Fatawa Islam nomor 598) Sebagaimana keterangan dalam Sa’ad bin Abi Waqqas berikut, يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَنَا ذُو مَالٍ , وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا اِبْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ , أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ ؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ ؟ قَالَ : اَلثُّلُثُ , وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ , إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ اَلنَّاسَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)  “Ya Rasulullah, aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisi kecuali anak perempuanku satu-satunya. Bolehkah aku bersedekah dengan ⅔ hartaku?“ “Jangan.” Jawab Nabi. Aku bertanya kembali, “Bagaimana kalau aku setengahnya ya Rasulullah?“ Beliau menjawab, “Jangan.” Kalau sepertiganya bagaimana ya Rasulullah?“ Beliau menjawab “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada orang.” Muttafaq Alaih. Ketiga, hibah tidak sah jika pemberinya adalah orang safih (dungu dalam urusan duit/harta). Berbeda dengan wasiat, ia sah meski pemberinya adalah orang yang safih. Keempat, hibah boleh diberikan kepada ahli waris, adapun wasiat tidak boleh diberikan kepada ahli waris kecuali jika ahli waris yang lain merelakannya. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, لا وصية لوارث إلا أن يجيز الورثة “Tidak boleh ada wasiat kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain membolehkan/merelakan.” (HR. Daruqutni, dari sahabat Amr bin Syu’aib) Hadis ini dikuatkan oleh pernyataan sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, لا تجوز وصية لوارث إلا أن يشاء الورثة. “Tidak boleh wasiat diberikan kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain merelakannya.” Wallahu a’lam bish shawab. Baca tulisan kami terkait tema ini: Status Harta Wasiat untuk Ahli Waris https://muslim.or.id/67879-status-harta-wasiat-untuk-ahli-waris.html Referensi: – Website ilmiah asuhan Syaikh Abdul Qadir Assegaf: https://dorar.net/feqhia/5925/ – Website ilmiah Fatawa Islam: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/569/ *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Kalimat Tauhid Arab, Ya'jud Dan Ma'jud, Perempuan Keluar Air Mani, Perhiasan Wanita Emas, Hukum Orang Berzina, Cairan Yang Keluar Saat Hamil Muda Visited 91 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1331522164&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Perbedaan Wasiat dan Hibah Pertanyaan: Assalamualaikum Ustadz, mohon penjelasan tentang apa bedanya wasiat dan hibah? Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Kedua akad ini sama-sama akad memberi. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut. Pertama, kalau wasiat harta baru bisa diterima setelah pemberinya meninggal. Adapun hibah adalah harta sudah bisa menjadi hak milik seketika ketika akad diucapkan, tidak harus menunggu pemberi hibah meninggal dunia. Kedua, wasiat tidak boleh lebih dari ⅓ harta peninggalan, adapun hibah boleh lebih bahkan boleh seluruh hartanya. (Referensi: Fatawa Islam nomor 598) Sebagaimana keterangan dalam Sa’ad bin Abi Waqqas berikut, يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَنَا ذُو مَالٍ , وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا اِبْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ , أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ ؟ قَالَ : لَا قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ ؟ قَالَ : اَلثُّلُثُ , وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ , إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ اَلنَّاسَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)  “Ya Rasulullah, aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisi kecuali anak perempuanku satu-satunya. Bolehkah aku bersedekah dengan ⅔ hartaku?“ “Jangan.” Jawab Nabi. Aku bertanya kembali, “Bagaimana kalau aku setengahnya ya Rasulullah?“ Beliau menjawab, “Jangan.” Kalau sepertiganya bagaimana ya Rasulullah?“ Beliau menjawab “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada orang.” Muttafaq Alaih. Ketiga, hibah tidak sah jika pemberinya adalah orang safih (dungu dalam urusan duit/harta). Berbeda dengan wasiat, ia sah meski pemberinya adalah orang yang safih. Keempat, hibah boleh diberikan kepada ahli waris, adapun wasiat tidak boleh diberikan kepada ahli waris kecuali jika ahli waris yang lain merelakannya. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, لا وصية لوارث إلا أن يجيز الورثة “Tidak boleh ada wasiat kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain membolehkan/merelakan.” (HR. Daruqutni, dari sahabat Amr bin Syu’aib) Hadis ini dikuatkan oleh pernyataan sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, لا تجوز وصية لوارث إلا أن يشاء الورثة. “Tidak boleh wasiat diberikan kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain merelakannya.” Wallahu a’lam bish shawab. Baca tulisan kami terkait tema ini: Status Harta Wasiat untuk Ahli Waris https://muslim.or.id/67879-status-harta-wasiat-untuk-ahli-waris.html Referensi: – Website ilmiah asuhan Syaikh Abdul Qadir Assegaf: https://dorar.net/feqhia/5925/ – Website ilmiah Fatawa Islam: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/569/ *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Kalimat Tauhid Arab, Ya'jud Dan Ma'jud, Perempuan Keluar Air Mani, Perhiasan Wanita Emas, Hukum Orang Berzina, Cairan Yang Keluar Saat Hamil Muda Visited 91 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next