Apa Makna Sunnah Nabi?

Pertanyaan: Saya sering mendengar perkataan “dakwah sunnah”, “ustadz sunnah”, “kembali kepada as sunnah”, “berpegang pada sunnah”, dan semisalnya. Sebenarnya apa makna “sunnah” di sini? Karena setahu saya sunnah artinya perkara yang jika dilakukan akan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah. Amma ba’du. Kata “sunnah” atau “as-sunnah” dalam perkataan-perkataan di atas bukanlah sunnah dalam istilah ilmu fikih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah di sini maknanya adalah apa yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang batin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabi’in, dan pengikutnya sampai hari kiamat. Secara bahasa, sunnah artinya as-sirah (perjalanan) hidup atau thariqah (cara hidup). Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan: والسُّنَّة السيرة، حسنة كانت أَو قبيحة “As-Sunnah artinya as-sirah (perjalanan hidup), baik yang bagus maupun yang jelek.” Dijelaskan oleh asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Irsyadhul Fuhul: أما لغة : فهي الطريقة المسلوكة ، وأصلها من قولهم : سننت الشيء بالمسن إذا أمررته عليه ، حتى يؤثر فيه سنا أي طريقا . وقال الكسائي : معناها الدوام ، فقولنا : سنة معناه الأمر بالإدامة من قولهم : سننت الماء إذا واليت في صبه . قال الخطابي : أصلها الطريقة المحمودة ، فإذا أطلقت انصرفت إليها ، وقد يستعمل في غيرها مقيدة ، كقوله : من سن سنة سيئة . وقيل : هي الطريقة المعتادة ، سواء كانت حسنة أو سيئة “Sunnah secara bahasa artinya cara hidup. Jika orang Arab mengatakan sanantu asy-syai’a bil masni maknanya: aku menjalaninya hingga tua. Hatta yuatsiru fihi sunan, maknanya: hingga (perjalanan hidup) itu membuahkan sebuah cara hidup. Al-Kisa’i mengatakan: ‘Sunnah makanya ad-dawaam (kontinu). Maka makna as-sunnah adalah sesuatu yang dilakukan secara kontinu. Sebagaimana perkataan: sunantul ma’a, yang artinya: aku secara kontinu memercikkan air.’ Al-Khathabi mengatakan: ‘as-sunnah artinya cara hidup yang baik. Jika disebutkan secara muthlaq (bersendirian) maka maknanya demikian. Dan terkadang digunakan secara muqayyad (digandengkan) semisal dalam hadits: man sanna sunnatan sayyiatan. Dan sebagian ahli bahasa mengatakan maknanya: cara hidup yang sudah jadi kebiasaan, baik itu bagus ataupun buruk’.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131) Sedangkan makna sunnah dalam istilah syar’i, adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan: وأما معناها شرعا : أي في اصطلاح أهل الشرع ، فهي : قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم وفعله وتقريره ، وتطلق بالمعنى العام على الواجب وغيره في عرف أهل اللغة والحديث ، وأما في عرف أهل الفقه فإنما يطلقونها على ما ليس بواجب ، وتطلق على ما يقابل البدعة كقولهم : فلان من أهل السنة .  “Adapun makna as-sunnah secara syar’i, yaitu dalam istilah para ulama, artinya adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dimaknai dengan makna umum, baik itu perkara yang wajib atau yang selainnya, menurut ahli bahasa dan ahli hadits. Adapun dalam kebiasaan ahli fikih, yang dimaksud as-sunnah adalah semua ibadah yang tidak wajib. Dan terkadang juga maksud as-sunnah adalah lawan dari bid’ah, sebagaimana dalam perkataan ulama: Fulan adalah ahlus sunnah.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131-132) Inilah istilah sunnah yang ada dalam hadits-hadits, di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لكلِّ عملٍ شِرَّةٌ ولكلِّ شِرَّةٍ فَترةٌ فمَن كانَت فترتُهُ إلى سنَّتي فقد اهتَدى ومَن كانَت فترتُهُ إلى غيرِ ذلكَ فقَد هلَكَ “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya. Barang siapa yang futurnya di atas sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk. Barang siapa yang futurnya bukan di atas sunnahku, maka ia akan binasa.” (HR. Ahmad no. 6764, dishahihkan al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah hal.51) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا “Barang siapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: الاقتِصادُ في السُّنَّةِ أحسَنُ منَ الاجتِهادِ في البدعةِ “Sederhana (sedikit) dalam (mengerjakan) sunnah, lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan bid’ah.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 358, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 41) Maka inilah sunnah yang dimaksudkan, yaitu: perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan sunnah dalam definisi ulama fikih, yaitu segala ibadah yang tidak wajib.  Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Banyak orang yang menyangka bahwa yang terdapat dalam al-Qur’an itulah yang wajib, sedangkan yang ada dalam as-sunnah yang suci itu hanya mustahab (dianjurkan) yang diberi pahala jika melakukannya dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Pemahaman keliru ini masuk ke tengah masyarakat karena semrawutnya pengertian mengenai makna as-Sunnah, padahal mereka tahu wajibnya mentaati perintah Rasul.” (Makanatus Sunnah fil Islam, hal. 1) Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang agung dalam Islam karena ia adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Maka wajib untuk memuliakan Sunnah Nabi secara umum, mengamalkannya, menaatinya, dan menjadikannya cara beragama serta cara hidup. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, di antaranya firman Allah ta’ala: قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ “Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.” (QS. Ali Imran: 32) As-Sa’di menjelaskan: “Ayat ini adalah perintah dari Allah ta’ala kepada para hamba-Nya dengan bentuk perintah yang umum, yaitu agar mereka menaati Allah dan menaati Rasul-Nya. Perintah ini mencakup taat dalam masalah iman dan tauhid, dan juga perkara-perkara turunan dari keduanya, baik berupa amalan, perkataan, lahir maupun batin. Bahkan juga mencakup menjauhi apa yang Allah dan Rasul-Nya larang. Karena menjauhi apa yang dilarang juga termasuk menaati perintah Allah.” (Taisir Karimirrahman. 128) Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: لم أسمع أحدًا – نسبه الناس أو نسب نفسه إلى علم – يخالف في أن فرض الله عز وجل اتباعُ أمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، والتسليم لحكمه؛ بأن الله عز وجل لم يجعل لأحد بعده إلا اتباعه، وأنه لا يلزم قول بكل حال إلا بكتاب الله أو سنة رسوله – صلى الله عليه وسلم -، وأن ما سواهما تبع لهما “Tidak pernah aku mendengar orang yang disebut ulama atau yang menisbatkan diri sebagai ulama, yang menentang bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kita ittiba‘ (mengikuti) perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menerima segala hukum dari beliau. Dan Allah ta’ala tidak memberikan kelonggaran untuk siapa pun kecuali mereka harus mengikuti Rasulullah. Dan tidak ada perkataan yang wajib ditaati kecuali Kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang selainnya hanya mengikuti dua hal tersebut.” (Jima’ul ‘Ilmi, hal. 3) Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan).” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Galau Dalam Islam, Doa Agar Tidak Diganggu Setan Saat Tidur, Minhajul Muslim Adalah, Solat Minta Hujan, Solat Malam, Solawat Ibrahim Visited 190 times, 3 visit(s) today Post Views: 421 QRIS donasi Yufid

Apa Makna Sunnah Nabi?

Pertanyaan: Saya sering mendengar perkataan “dakwah sunnah”, “ustadz sunnah”, “kembali kepada as sunnah”, “berpegang pada sunnah”, dan semisalnya. Sebenarnya apa makna “sunnah” di sini? Karena setahu saya sunnah artinya perkara yang jika dilakukan akan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah. Amma ba’du. Kata “sunnah” atau “as-sunnah” dalam perkataan-perkataan di atas bukanlah sunnah dalam istilah ilmu fikih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah di sini maknanya adalah apa yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang batin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabi’in, dan pengikutnya sampai hari kiamat. Secara bahasa, sunnah artinya as-sirah (perjalanan) hidup atau thariqah (cara hidup). Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan: والسُّنَّة السيرة، حسنة كانت أَو قبيحة “As-Sunnah artinya as-sirah (perjalanan hidup), baik yang bagus maupun yang jelek.” Dijelaskan oleh asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Irsyadhul Fuhul: أما لغة : فهي الطريقة المسلوكة ، وأصلها من قولهم : سننت الشيء بالمسن إذا أمررته عليه ، حتى يؤثر فيه سنا أي طريقا . وقال الكسائي : معناها الدوام ، فقولنا : سنة معناه الأمر بالإدامة من قولهم : سننت الماء إذا واليت في صبه . قال الخطابي : أصلها الطريقة المحمودة ، فإذا أطلقت انصرفت إليها ، وقد يستعمل في غيرها مقيدة ، كقوله : من سن سنة سيئة . وقيل : هي الطريقة المعتادة ، سواء كانت حسنة أو سيئة “Sunnah secara bahasa artinya cara hidup. Jika orang Arab mengatakan sanantu asy-syai’a bil masni maknanya: aku menjalaninya hingga tua. Hatta yuatsiru fihi sunan, maknanya: hingga (perjalanan hidup) itu membuahkan sebuah cara hidup. Al-Kisa’i mengatakan: ‘Sunnah makanya ad-dawaam (kontinu). Maka makna as-sunnah adalah sesuatu yang dilakukan secara kontinu. Sebagaimana perkataan: sunantul ma’a, yang artinya: aku secara kontinu memercikkan air.’ Al-Khathabi mengatakan: ‘as-sunnah artinya cara hidup yang baik. Jika disebutkan secara muthlaq (bersendirian) maka maknanya demikian. Dan terkadang digunakan secara muqayyad (digandengkan) semisal dalam hadits: man sanna sunnatan sayyiatan. Dan sebagian ahli bahasa mengatakan maknanya: cara hidup yang sudah jadi kebiasaan, baik itu bagus ataupun buruk’.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131) Sedangkan makna sunnah dalam istilah syar’i, adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan: وأما معناها شرعا : أي في اصطلاح أهل الشرع ، فهي : قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم وفعله وتقريره ، وتطلق بالمعنى العام على الواجب وغيره في عرف أهل اللغة والحديث ، وأما في عرف أهل الفقه فإنما يطلقونها على ما ليس بواجب ، وتطلق على ما يقابل البدعة كقولهم : فلان من أهل السنة .  “Adapun makna as-sunnah secara syar’i, yaitu dalam istilah para ulama, artinya adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dimaknai dengan makna umum, baik itu perkara yang wajib atau yang selainnya, menurut ahli bahasa dan ahli hadits. Adapun dalam kebiasaan ahli fikih, yang dimaksud as-sunnah adalah semua ibadah yang tidak wajib. Dan terkadang juga maksud as-sunnah adalah lawan dari bid’ah, sebagaimana dalam perkataan ulama: Fulan adalah ahlus sunnah.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131-132) Inilah istilah sunnah yang ada dalam hadits-hadits, di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لكلِّ عملٍ شِرَّةٌ ولكلِّ شِرَّةٍ فَترةٌ فمَن كانَت فترتُهُ إلى سنَّتي فقد اهتَدى ومَن كانَت فترتُهُ إلى غيرِ ذلكَ فقَد هلَكَ “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya. Barang siapa yang futurnya di atas sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk. Barang siapa yang futurnya bukan di atas sunnahku, maka ia akan binasa.” (HR. Ahmad no. 6764, dishahihkan al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah hal.51) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا “Barang siapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: الاقتِصادُ في السُّنَّةِ أحسَنُ منَ الاجتِهادِ في البدعةِ “Sederhana (sedikit) dalam (mengerjakan) sunnah, lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan bid’ah.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 358, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 41) Maka inilah sunnah yang dimaksudkan, yaitu: perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan sunnah dalam definisi ulama fikih, yaitu segala ibadah yang tidak wajib.  Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Banyak orang yang menyangka bahwa yang terdapat dalam al-Qur’an itulah yang wajib, sedangkan yang ada dalam as-sunnah yang suci itu hanya mustahab (dianjurkan) yang diberi pahala jika melakukannya dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Pemahaman keliru ini masuk ke tengah masyarakat karena semrawutnya pengertian mengenai makna as-Sunnah, padahal mereka tahu wajibnya mentaati perintah Rasul.” (Makanatus Sunnah fil Islam, hal. 1) Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang agung dalam Islam karena ia adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Maka wajib untuk memuliakan Sunnah Nabi secara umum, mengamalkannya, menaatinya, dan menjadikannya cara beragama serta cara hidup. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, di antaranya firman Allah ta’ala: قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ “Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.” (QS. Ali Imran: 32) As-Sa’di menjelaskan: “Ayat ini adalah perintah dari Allah ta’ala kepada para hamba-Nya dengan bentuk perintah yang umum, yaitu agar mereka menaati Allah dan menaati Rasul-Nya. Perintah ini mencakup taat dalam masalah iman dan tauhid, dan juga perkara-perkara turunan dari keduanya, baik berupa amalan, perkataan, lahir maupun batin. Bahkan juga mencakup menjauhi apa yang Allah dan Rasul-Nya larang. Karena menjauhi apa yang dilarang juga termasuk menaati perintah Allah.” (Taisir Karimirrahman. 128) Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: لم أسمع أحدًا – نسبه الناس أو نسب نفسه إلى علم – يخالف في أن فرض الله عز وجل اتباعُ أمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، والتسليم لحكمه؛ بأن الله عز وجل لم يجعل لأحد بعده إلا اتباعه، وأنه لا يلزم قول بكل حال إلا بكتاب الله أو سنة رسوله – صلى الله عليه وسلم -، وأن ما سواهما تبع لهما “Tidak pernah aku mendengar orang yang disebut ulama atau yang menisbatkan diri sebagai ulama, yang menentang bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kita ittiba‘ (mengikuti) perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menerima segala hukum dari beliau. Dan Allah ta’ala tidak memberikan kelonggaran untuk siapa pun kecuali mereka harus mengikuti Rasulullah. Dan tidak ada perkataan yang wajib ditaati kecuali Kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang selainnya hanya mengikuti dua hal tersebut.” (Jima’ul ‘Ilmi, hal. 3) Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan).” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Galau Dalam Islam, Doa Agar Tidak Diganggu Setan Saat Tidur, Minhajul Muslim Adalah, Solat Minta Hujan, Solat Malam, Solawat Ibrahim Visited 190 times, 3 visit(s) today Post Views: 421 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya sering mendengar perkataan “dakwah sunnah”, “ustadz sunnah”, “kembali kepada as sunnah”, “berpegang pada sunnah”, dan semisalnya. Sebenarnya apa makna “sunnah” di sini? Karena setahu saya sunnah artinya perkara yang jika dilakukan akan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah. Amma ba’du. Kata “sunnah” atau “as-sunnah” dalam perkataan-perkataan di atas bukanlah sunnah dalam istilah ilmu fikih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah di sini maknanya adalah apa yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang batin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabi’in, dan pengikutnya sampai hari kiamat. Secara bahasa, sunnah artinya as-sirah (perjalanan) hidup atau thariqah (cara hidup). Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan: والسُّنَّة السيرة، حسنة كانت أَو قبيحة “As-Sunnah artinya as-sirah (perjalanan hidup), baik yang bagus maupun yang jelek.” Dijelaskan oleh asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Irsyadhul Fuhul: أما لغة : فهي الطريقة المسلوكة ، وأصلها من قولهم : سننت الشيء بالمسن إذا أمررته عليه ، حتى يؤثر فيه سنا أي طريقا . وقال الكسائي : معناها الدوام ، فقولنا : سنة معناه الأمر بالإدامة من قولهم : سننت الماء إذا واليت في صبه . قال الخطابي : أصلها الطريقة المحمودة ، فإذا أطلقت انصرفت إليها ، وقد يستعمل في غيرها مقيدة ، كقوله : من سن سنة سيئة . وقيل : هي الطريقة المعتادة ، سواء كانت حسنة أو سيئة “Sunnah secara bahasa artinya cara hidup. Jika orang Arab mengatakan sanantu asy-syai’a bil masni maknanya: aku menjalaninya hingga tua. Hatta yuatsiru fihi sunan, maknanya: hingga (perjalanan hidup) itu membuahkan sebuah cara hidup. Al-Kisa’i mengatakan: ‘Sunnah makanya ad-dawaam (kontinu). Maka makna as-sunnah adalah sesuatu yang dilakukan secara kontinu. Sebagaimana perkataan: sunantul ma’a, yang artinya: aku secara kontinu memercikkan air.’ Al-Khathabi mengatakan: ‘as-sunnah artinya cara hidup yang baik. Jika disebutkan secara muthlaq (bersendirian) maka maknanya demikian. Dan terkadang digunakan secara muqayyad (digandengkan) semisal dalam hadits: man sanna sunnatan sayyiatan. Dan sebagian ahli bahasa mengatakan maknanya: cara hidup yang sudah jadi kebiasaan, baik itu bagus ataupun buruk’.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131) Sedangkan makna sunnah dalam istilah syar’i, adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan: وأما معناها شرعا : أي في اصطلاح أهل الشرع ، فهي : قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم وفعله وتقريره ، وتطلق بالمعنى العام على الواجب وغيره في عرف أهل اللغة والحديث ، وأما في عرف أهل الفقه فإنما يطلقونها على ما ليس بواجب ، وتطلق على ما يقابل البدعة كقولهم : فلان من أهل السنة .  “Adapun makna as-sunnah secara syar’i, yaitu dalam istilah para ulama, artinya adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dimaknai dengan makna umum, baik itu perkara yang wajib atau yang selainnya, menurut ahli bahasa dan ahli hadits. Adapun dalam kebiasaan ahli fikih, yang dimaksud as-sunnah adalah semua ibadah yang tidak wajib. Dan terkadang juga maksud as-sunnah adalah lawan dari bid’ah, sebagaimana dalam perkataan ulama: Fulan adalah ahlus sunnah.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131-132) Inilah istilah sunnah yang ada dalam hadits-hadits, di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لكلِّ عملٍ شِرَّةٌ ولكلِّ شِرَّةٍ فَترةٌ فمَن كانَت فترتُهُ إلى سنَّتي فقد اهتَدى ومَن كانَت فترتُهُ إلى غيرِ ذلكَ فقَد هلَكَ “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya. Barang siapa yang futurnya di atas sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk. Barang siapa yang futurnya bukan di atas sunnahku, maka ia akan binasa.” (HR. Ahmad no. 6764, dishahihkan al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah hal.51) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا “Barang siapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: الاقتِصادُ في السُّنَّةِ أحسَنُ منَ الاجتِهادِ في البدعةِ “Sederhana (sedikit) dalam (mengerjakan) sunnah, lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan bid’ah.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 358, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 41) Maka inilah sunnah yang dimaksudkan, yaitu: perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan sunnah dalam definisi ulama fikih, yaitu segala ibadah yang tidak wajib.  Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Banyak orang yang menyangka bahwa yang terdapat dalam al-Qur’an itulah yang wajib, sedangkan yang ada dalam as-sunnah yang suci itu hanya mustahab (dianjurkan) yang diberi pahala jika melakukannya dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Pemahaman keliru ini masuk ke tengah masyarakat karena semrawutnya pengertian mengenai makna as-Sunnah, padahal mereka tahu wajibnya mentaati perintah Rasul.” (Makanatus Sunnah fil Islam, hal. 1) Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang agung dalam Islam karena ia adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Maka wajib untuk memuliakan Sunnah Nabi secara umum, mengamalkannya, menaatinya, dan menjadikannya cara beragama serta cara hidup. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, di antaranya firman Allah ta’ala: قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ “Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.” (QS. Ali Imran: 32) As-Sa’di menjelaskan: “Ayat ini adalah perintah dari Allah ta’ala kepada para hamba-Nya dengan bentuk perintah yang umum, yaitu agar mereka menaati Allah dan menaati Rasul-Nya. Perintah ini mencakup taat dalam masalah iman dan tauhid, dan juga perkara-perkara turunan dari keduanya, baik berupa amalan, perkataan, lahir maupun batin. Bahkan juga mencakup menjauhi apa yang Allah dan Rasul-Nya larang. Karena menjauhi apa yang dilarang juga termasuk menaati perintah Allah.” (Taisir Karimirrahman. 128) Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: لم أسمع أحدًا – نسبه الناس أو نسب نفسه إلى علم – يخالف في أن فرض الله عز وجل اتباعُ أمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، والتسليم لحكمه؛ بأن الله عز وجل لم يجعل لأحد بعده إلا اتباعه، وأنه لا يلزم قول بكل حال إلا بكتاب الله أو سنة رسوله – صلى الله عليه وسلم -، وأن ما سواهما تبع لهما “Tidak pernah aku mendengar orang yang disebut ulama atau yang menisbatkan diri sebagai ulama, yang menentang bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kita ittiba‘ (mengikuti) perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menerima segala hukum dari beliau. Dan Allah ta’ala tidak memberikan kelonggaran untuk siapa pun kecuali mereka harus mengikuti Rasulullah. Dan tidak ada perkataan yang wajib ditaati kecuali Kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang selainnya hanya mengikuti dua hal tersebut.” (Jima’ul ‘Ilmi, hal. 3) Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan).” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Galau Dalam Islam, Doa Agar Tidak Diganggu Setan Saat Tidur, Minhajul Muslim Adalah, Solat Minta Hujan, Solat Malam, Solawat Ibrahim Visited 190 times, 3 visit(s) today Post Views: 421 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1361640241&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya sering mendengar perkataan “dakwah sunnah”, “ustadz sunnah”, “kembali kepada as sunnah”, “berpegang pada sunnah”, dan semisalnya. Sebenarnya apa makna “sunnah” di sini? Karena setahu saya sunnah artinya perkara yang jika dilakukan akan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah. Amma ba’du. Kata “sunnah” atau “as-sunnah” dalam perkataan-perkataan di atas bukanlah sunnah dalam istilah ilmu fikih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah di sini maknanya adalah apa yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang batin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabi’in, dan pengikutnya sampai hari kiamat. Secara bahasa, sunnah artinya as-sirah (perjalanan) hidup atau thariqah (cara hidup). Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan: والسُّنَّة السيرة، حسنة كانت أَو قبيحة “As-Sunnah artinya as-sirah (perjalanan hidup), baik yang bagus maupun yang jelek.” Dijelaskan oleh asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Irsyadhul Fuhul: أما لغة : فهي الطريقة المسلوكة ، وأصلها من قولهم : سننت الشيء بالمسن إذا أمررته عليه ، حتى يؤثر فيه سنا أي طريقا . وقال الكسائي : معناها الدوام ، فقولنا : سنة معناه الأمر بالإدامة من قولهم : سننت الماء إذا واليت في صبه . قال الخطابي : أصلها الطريقة المحمودة ، فإذا أطلقت انصرفت إليها ، وقد يستعمل في غيرها مقيدة ، كقوله : من سن سنة سيئة . وقيل : هي الطريقة المعتادة ، سواء كانت حسنة أو سيئة “Sunnah secara bahasa artinya cara hidup. Jika orang Arab mengatakan sanantu asy-syai’a bil masni maknanya: aku menjalaninya hingga tua. Hatta yuatsiru fihi sunan, maknanya: hingga (perjalanan hidup) itu membuahkan sebuah cara hidup. Al-Kisa’i mengatakan: ‘Sunnah makanya ad-dawaam (kontinu). Maka makna as-sunnah adalah sesuatu yang dilakukan secara kontinu. Sebagaimana perkataan: sunantul ma’a, yang artinya: aku secara kontinu memercikkan air.’ Al-Khathabi mengatakan: ‘as-sunnah artinya cara hidup yang baik. Jika disebutkan secara muthlaq (bersendirian) maka maknanya demikian. Dan terkadang digunakan secara muqayyad (digandengkan) semisal dalam hadits: man sanna sunnatan sayyiatan. Dan sebagian ahli bahasa mengatakan maknanya: cara hidup yang sudah jadi kebiasaan, baik itu bagus ataupun buruk’.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131) Sedangkan makna sunnah dalam istilah syar’i, adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan: وأما معناها شرعا : أي في اصطلاح أهل الشرع ، فهي : قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم وفعله وتقريره ، وتطلق بالمعنى العام على الواجب وغيره في عرف أهل اللغة والحديث ، وأما في عرف أهل الفقه فإنما يطلقونها على ما ليس بواجب ، وتطلق على ما يقابل البدعة كقولهم : فلان من أهل السنة .  “Adapun makna as-sunnah secara syar’i, yaitu dalam istilah para ulama, artinya adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dimaknai dengan makna umum, baik itu perkara yang wajib atau yang selainnya, menurut ahli bahasa dan ahli hadits. Adapun dalam kebiasaan ahli fikih, yang dimaksud as-sunnah adalah semua ibadah yang tidak wajib. Dan terkadang juga maksud as-sunnah adalah lawan dari bid’ah, sebagaimana dalam perkataan ulama: Fulan adalah ahlus sunnah.” (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 1/131-132) Inilah istilah sunnah yang ada dalam hadits-hadits, di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لكلِّ عملٍ شِرَّةٌ ولكلِّ شِرَّةٍ فَترةٌ فمَن كانَت فترتُهُ إلى سنَّتي فقد اهتَدى ومَن كانَت فترتُهُ إلى غيرِ ذلكَ فقَد هلَكَ “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya. Barang siapa yang futurnya di atas sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk. Barang siapa yang futurnya bukan di atas sunnahku, maka ia akan binasa.” (HR. Ahmad no. 6764, dishahihkan al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah hal.51) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا “Barang siapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: الاقتِصادُ في السُّنَّةِ أحسَنُ منَ الاجتِهادِ في البدعةِ “Sederhana (sedikit) dalam (mengerjakan) sunnah, lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan bid’ah.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 358, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 41) Maka inilah sunnah yang dimaksudkan, yaitu: perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan sunnah dalam definisi ulama fikih, yaitu segala ibadah yang tidak wajib.  Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Banyak orang yang menyangka bahwa yang terdapat dalam al-Qur’an itulah yang wajib, sedangkan yang ada dalam as-sunnah yang suci itu hanya mustahab (dianjurkan) yang diberi pahala jika melakukannya dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Pemahaman keliru ini masuk ke tengah masyarakat karena semrawutnya pengertian mengenai makna as-Sunnah, padahal mereka tahu wajibnya mentaati perintah Rasul.” (Makanatus Sunnah fil Islam, hal. 1) Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang agung dalam Islam karena ia adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Maka wajib untuk memuliakan Sunnah Nabi secara umum, mengamalkannya, menaatinya, dan menjadikannya cara beragama serta cara hidup. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, di antaranya firman Allah ta’ala: قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ “Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.” (QS. Ali Imran: 32) As-Sa’di menjelaskan: “Ayat ini adalah perintah dari Allah ta’ala kepada para hamba-Nya dengan bentuk perintah yang umum, yaitu agar mereka menaati Allah dan menaati Rasul-Nya. Perintah ini mencakup taat dalam masalah iman dan tauhid, dan juga perkara-perkara turunan dari keduanya, baik berupa amalan, perkataan, lahir maupun batin. Bahkan juga mencakup menjauhi apa yang Allah dan Rasul-Nya larang. Karena menjauhi apa yang dilarang juga termasuk menaati perintah Allah.” (Taisir Karimirrahman. 128) Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: لم أسمع أحدًا – نسبه الناس أو نسب نفسه إلى علم – يخالف في أن فرض الله عز وجل اتباعُ أمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، والتسليم لحكمه؛ بأن الله عز وجل لم يجعل لأحد بعده إلا اتباعه، وأنه لا يلزم قول بكل حال إلا بكتاب الله أو سنة رسوله – صلى الله عليه وسلم -، وأن ما سواهما تبع لهما “Tidak pernah aku mendengar orang yang disebut ulama atau yang menisbatkan diri sebagai ulama, yang menentang bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kita ittiba‘ (mengikuti) perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menerima segala hukum dari beliau. Dan Allah ta’ala tidak memberikan kelonggaran untuk siapa pun kecuali mereka harus mengikuti Rasulullah. Dan tidak ada perkataan yang wajib ditaati kecuali Kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang selainnya hanya mengikuti dua hal tersebut.” (Jima’ul ‘Ilmi, hal. 3) Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan).” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Galau Dalam Islam, Doa Agar Tidak Diganggu Setan Saat Tidur, Minhajul Muslim Adalah, Solat Minta Hujan, Solat Malam, Solawat Ibrahim Visited 190 times, 3 visit(s) today Post Views: 421 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin Abdillah), Jenazahnya Awet Setelah Enam Bulan

Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah

Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin Abdillah), Jenazahnya Awet Setelah Enam Bulan

Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah
Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah


Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah

Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada Allah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat

Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada Allah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat

Kecemburuan Allah – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kecemburuan Allah – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

5 Waktu Doa Mustajab Setiap Hari – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

5 Waktu Doa Mustajab Setiap Hari – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bolehkah Minta Doa kepada Penghuni Kubur?

حكم طلب الدعاء من الميت عند القبر السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا وقف رجل عند القبر وسأل صاحبه فقال: يا فلان إن كنت من أهل الجنة فادع الله لنا فما حكم فعله هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Jika seseorang berdiri di samping kuburan dan meminta penghuninya, ‘Wahai Fulan, jika kamu termasuk ahli surga, berdoalah kepada Allah untukku.’ Apa hukum berbuat demikian?” الاحابة يدعو لكم وهو ميت !! ادع الله أنت، أنت ادع الله، أما الميت لا تطلب منه شيء لا دعاء ولا غيره، لا يقدر على شيء لا دعاء ولا غيره. Jawaban: Bisakah dia berdoa untuk kalian padahal dia adalah mayit? Berdoalah sendiri kepada Allah. Anda yang harus berdoa kepada-Nya! Adapun mayit, tidak bisa dimintai apa pun, baik doa ataupun yang lainnya, karena dia tidak bisa berbuat apa pun, baik doa ataupun yang lainnya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauhīd. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18238 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam, Doa Agar Dia Jadi Jodoh Kita, Cara Menghilangkan Pelet Menurut Islam, Doa Untuk Anak Yang Telah Digugurkan, Hukum Baca Al Quran, Bacaan Atahiat Akhir Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Minta Doa kepada Penghuni Kubur?

حكم طلب الدعاء من الميت عند القبر السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا وقف رجل عند القبر وسأل صاحبه فقال: يا فلان إن كنت من أهل الجنة فادع الله لنا فما حكم فعله هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Jika seseorang berdiri di samping kuburan dan meminta penghuninya, ‘Wahai Fulan, jika kamu termasuk ahli surga, berdoalah kepada Allah untukku.’ Apa hukum berbuat demikian?” الاحابة يدعو لكم وهو ميت !! ادع الله أنت، أنت ادع الله، أما الميت لا تطلب منه شيء لا دعاء ولا غيره، لا يقدر على شيء لا دعاء ولا غيره. Jawaban: Bisakah dia berdoa untuk kalian padahal dia adalah mayit? Berdoalah sendiri kepada Allah. Anda yang harus berdoa kepada-Nya! Adapun mayit, tidak bisa dimintai apa pun, baik doa ataupun yang lainnya, karena dia tidak bisa berbuat apa pun, baik doa ataupun yang lainnya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauhīd. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18238 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam, Doa Agar Dia Jadi Jodoh Kita, Cara Menghilangkan Pelet Menurut Islam, Doa Untuk Anak Yang Telah Digugurkan, Hukum Baca Al Quran, Bacaan Atahiat Akhir Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 QRIS donasi Yufid
حكم طلب الدعاء من الميت عند القبر السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا وقف رجل عند القبر وسأل صاحبه فقال: يا فلان إن كنت من أهل الجنة فادع الله لنا فما حكم فعله هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Jika seseorang berdiri di samping kuburan dan meminta penghuninya, ‘Wahai Fulan, jika kamu termasuk ahli surga, berdoalah kepada Allah untukku.’ Apa hukum berbuat demikian?” الاحابة يدعو لكم وهو ميت !! ادع الله أنت، أنت ادع الله، أما الميت لا تطلب منه شيء لا دعاء ولا غيره، لا يقدر على شيء لا دعاء ولا غيره. Jawaban: Bisakah dia berdoa untuk kalian padahal dia adalah mayit? Berdoalah sendiri kepada Allah. Anda yang harus berdoa kepada-Nya! Adapun mayit, tidak bisa dimintai apa pun, baik doa ataupun yang lainnya, karena dia tidak bisa berbuat apa pun, baik doa ataupun yang lainnya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauhīd. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18238 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam, Doa Agar Dia Jadi Jodoh Kita, Cara Menghilangkan Pelet Menurut Islam, Doa Untuk Anak Yang Telah Digugurkan, Hukum Baca Al Quran, Bacaan Atahiat Akhir Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1382104768&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم طلب الدعاء من الميت عند القبر السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا وقف رجل عند القبر وسأل صاحبه فقال: يا فلان إن كنت من أهل الجنة فادع الله لنا فما حكم فعله هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Jika seseorang berdiri di samping kuburan dan meminta penghuninya, ‘Wahai Fulan, jika kamu termasuk ahli surga, berdoalah kepada Allah untukku.’ Apa hukum berbuat demikian?” الاحابة يدعو لكم وهو ميت !! ادع الله أنت، أنت ادع الله، أما الميت لا تطلب منه شيء لا دعاء ولا غيره، لا يقدر على شيء لا دعاء ولا غيره. Jawaban: Bisakah dia berdoa untuk kalian padahal dia adalah mayit? Berdoalah sendiri kepada Allah. Anda yang harus berdoa kepada-Nya! Adapun mayit, tidak bisa dimintai apa pun, baik doa ataupun yang lainnya, karena dia tidak bisa berbuat apa pun, baik doa ataupun yang lainnya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauhīd. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18238 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam, Doa Agar Dia Jadi Jodoh Kita, Cara Menghilangkan Pelet Menurut Islam, Doa Untuk Anak Yang Telah Digugurkan, Hukum Baca Al Quran, Bacaan Atahiat Akhir Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Meninggalkan Salat Lebih Jelek dari Z1n4 – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Perkara di kehidupan dunia ini sangat genting,sehingga wajib bagi setiap mukmin untuk berhati-hatidan selalu merasa takut kepada Allah,serta senantiasa beristiqamah dan teguh di atas agama-Nya. Di antara hal yang harus dihindari adalah meninggalkan shalat secara sengaja,meskipun ia mengakui kewajibannya, meski ia mengatakan shalat adalah wajib.Namun ia tidak melaksanakan shalat dan tidak memedulikannya. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwaorang yang tidak shalat menjadi murtad dan kafir, meskipun mengakui kewajiban shalat. Dan ulama yang lain berpendapat ia tidak menjadi murtad hingga ia mengingkari kewajiban shalat,akan tetapi ia menjadi kafir di bawah tingkat kekafiran terbesar,dan ia telah mengerjakan kemungkaran besar yang lebih besar dari zina, minum khamr, dan lain sebagainya. Dan pendapat yang benar dalam hal ini adalah ia menjadi kafir,meskipun tidak mengingkari kewajiban shalat, kafir dengan kekafiran terbesarberdasarkan banyak dalil. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamyang diriwayatkan Imam Ahmad dan para penulis kitab-kitab as-Sunan dengan sanad shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bahwa beliau bersabda,“Perjanjian antara kami dan orang-orang kafir adalah shalat,barang siapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. at-Tirmidzi) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam ash-Shahih, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bersabda, “Antara seseorangdan antara kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) Dua hadits ini dan hadits lain yang senada dengannyaadalah hujah yang jelas, yang menjadi dalilatas kekafiran orang yang tidak shalat, meskipun ia tidak mengingkari kewajibannya. Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah meriwayatkan ijma’ para sahabat tentang hal ini,yakni tentang meninggalkan shalat adalah kekafiran. Maka menjadi kewajiban untuk berhati-hati, saling menasehati tentang shalat, dan menjaga shalat,serta saling menasehati untuk beristiqamah di atas agama Allah,dan senantiasa bertakwa dan melakukan hal yang menguatkan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya,serta berhati-hati dari bermaksiat kepada Allah. Juga harus menghindari hal yang mengurangi ketakwaandan melemahkan keimanan, seperti berbagai kemaksiatan dan pelanggaran.Aku memohon pada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar memberi kita taufik menuju keridaan-Nya,mengaruniakan kita keistiqamahan di atas agama-Nya,dan membantu kita semua dalam berzikir dan bersyukur, kepada-Nya, serta menyembah-Nya dengan baik. Dan agar memberi kita taufik untuk tetap menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya,dan selalu bertakwa hingga kita menghadap kepada-Nya Subhanahu.Sungguh Dia Maha Pemurah. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi Muhammaddan kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan para pengikut setia beliau.Demikian. ==== فَالْأَمْرُ خَطِيْرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى وَجَلٍ لِلْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ إِنَّهَا وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَلَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِرًا كُفْرًا دُوْنَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكَرًا عَظِيمًا أَكْثَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَالْخَمْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةٌ ظَاهِرَةٌ قَائِمَةٌ عَلَى كُفْرِ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَدْ حَكَى عَبْدُ اللهِ بْنُ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيُّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَالمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِينِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَالْحَذَرُ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإِيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُم لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ الاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Meninggalkan Salat Lebih Jelek dari Z1n4 – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Perkara di kehidupan dunia ini sangat genting,sehingga wajib bagi setiap mukmin untuk berhati-hatidan selalu merasa takut kepada Allah,serta senantiasa beristiqamah dan teguh di atas agama-Nya. Di antara hal yang harus dihindari adalah meninggalkan shalat secara sengaja,meskipun ia mengakui kewajibannya, meski ia mengatakan shalat adalah wajib.Namun ia tidak melaksanakan shalat dan tidak memedulikannya. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwaorang yang tidak shalat menjadi murtad dan kafir, meskipun mengakui kewajiban shalat. Dan ulama yang lain berpendapat ia tidak menjadi murtad hingga ia mengingkari kewajiban shalat,akan tetapi ia menjadi kafir di bawah tingkat kekafiran terbesar,dan ia telah mengerjakan kemungkaran besar yang lebih besar dari zina, minum khamr, dan lain sebagainya. Dan pendapat yang benar dalam hal ini adalah ia menjadi kafir,meskipun tidak mengingkari kewajiban shalat, kafir dengan kekafiran terbesarberdasarkan banyak dalil. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamyang diriwayatkan Imam Ahmad dan para penulis kitab-kitab as-Sunan dengan sanad shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bahwa beliau bersabda,“Perjanjian antara kami dan orang-orang kafir adalah shalat,barang siapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. at-Tirmidzi) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam ash-Shahih, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bersabda, “Antara seseorangdan antara kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) Dua hadits ini dan hadits lain yang senada dengannyaadalah hujah yang jelas, yang menjadi dalilatas kekafiran orang yang tidak shalat, meskipun ia tidak mengingkari kewajibannya. Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah meriwayatkan ijma’ para sahabat tentang hal ini,yakni tentang meninggalkan shalat adalah kekafiran. Maka menjadi kewajiban untuk berhati-hati, saling menasehati tentang shalat, dan menjaga shalat,serta saling menasehati untuk beristiqamah di atas agama Allah,dan senantiasa bertakwa dan melakukan hal yang menguatkan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya,serta berhati-hati dari bermaksiat kepada Allah. Juga harus menghindari hal yang mengurangi ketakwaandan melemahkan keimanan, seperti berbagai kemaksiatan dan pelanggaran.Aku memohon pada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar memberi kita taufik menuju keridaan-Nya,mengaruniakan kita keistiqamahan di atas agama-Nya,dan membantu kita semua dalam berzikir dan bersyukur, kepada-Nya, serta menyembah-Nya dengan baik. Dan agar memberi kita taufik untuk tetap menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya,dan selalu bertakwa hingga kita menghadap kepada-Nya Subhanahu.Sungguh Dia Maha Pemurah. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi Muhammaddan kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan para pengikut setia beliau.Demikian. ==== فَالْأَمْرُ خَطِيْرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى وَجَلٍ لِلْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ إِنَّهَا وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَلَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِرًا كُفْرًا دُوْنَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكَرًا عَظِيمًا أَكْثَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَالْخَمْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةٌ ظَاهِرَةٌ قَائِمَةٌ عَلَى كُفْرِ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَدْ حَكَى عَبْدُ اللهِ بْنُ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيُّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَالمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِينِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَالْحَذَرُ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإِيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُم لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ الاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Perkara di kehidupan dunia ini sangat genting,sehingga wajib bagi setiap mukmin untuk berhati-hatidan selalu merasa takut kepada Allah,serta senantiasa beristiqamah dan teguh di atas agama-Nya. Di antara hal yang harus dihindari adalah meninggalkan shalat secara sengaja,meskipun ia mengakui kewajibannya, meski ia mengatakan shalat adalah wajib.Namun ia tidak melaksanakan shalat dan tidak memedulikannya. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwaorang yang tidak shalat menjadi murtad dan kafir, meskipun mengakui kewajiban shalat. Dan ulama yang lain berpendapat ia tidak menjadi murtad hingga ia mengingkari kewajiban shalat,akan tetapi ia menjadi kafir di bawah tingkat kekafiran terbesar,dan ia telah mengerjakan kemungkaran besar yang lebih besar dari zina, minum khamr, dan lain sebagainya. Dan pendapat yang benar dalam hal ini adalah ia menjadi kafir,meskipun tidak mengingkari kewajiban shalat, kafir dengan kekafiran terbesarberdasarkan banyak dalil. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamyang diriwayatkan Imam Ahmad dan para penulis kitab-kitab as-Sunan dengan sanad shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bahwa beliau bersabda,“Perjanjian antara kami dan orang-orang kafir adalah shalat,barang siapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. at-Tirmidzi) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam ash-Shahih, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bersabda, “Antara seseorangdan antara kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) Dua hadits ini dan hadits lain yang senada dengannyaadalah hujah yang jelas, yang menjadi dalilatas kekafiran orang yang tidak shalat, meskipun ia tidak mengingkari kewajibannya. Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah meriwayatkan ijma’ para sahabat tentang hal ini,yakni tentang meninggalkan shalat adalah kekafiran. Maka menjadi kewajiban untuk berhati-hati, saling menasehati tentang shalat, dan menjaga shalat,serta saling menasehati untuk beristiqamah di atas agama Allah,dan senantiasa bertakwa dan melakukan hal yang menguatkan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya,serta berhati-hati dari bermaksiat kepada Allah. Juga harus menghindari hal yang mengurangi ketakwaandan melemahkan keimanan, seperti berbagai kemaksiatan dan pelanggaran.Aku memohon pada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar memberi kita taufik menuju keridaan-Nya,mengaruniakan kita keistiqamahan di atas agama-Nya,dan membantu kita semua dalam berzikir dan bersyukur, kepada-Nya, serta menyembah-Nya dengan baik. Dan agar memberi kita taufik untuk tetap menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya,dan selalu bertakwa hingga kita menghadap kepada-Nya Subhanahu.Sungguh Dia Maha Pemurah. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi Muhammaddan kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan para pengikut setia beliau.Demikian. ==== فَالْأَمْرُ خَطِيْرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى وَجَلٍ لِلْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ إِنَّهَا وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَلَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِرًا كُفْرًا دُوْنَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكَرًا عَظِيمًا أَكْثَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَالْخَمْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةٌ ظَاهِرَةٌ قَائِمَةٌ عَلَى كُفْرِ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَدْ حَكَى عَبْدُ اللهِ بْنُ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيُّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَالمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِينِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَالْحَذَرُ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإِيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُم لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ الاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Perkara di kehidupan dunia ini sangat genting,sehingga wajib bagi setiap mukmin untuk berhati-hatidan selalu merasa takut kepada Allah,serta senantiasa beristiqamah dan teguh di atas agama-Nya. Di antara hal yang harus dihindari adalah meninggalkan shalat secara sengaja,meskipun ia mengakui kewajibannya, meski ia mengatakan shalat adalah wajib.Namun ia tidak melaksanakan shalat dan tidak memedulikannya. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwaorang yang tidak shalat menjadi murtad dan kafir, meskipun mengakui kewajiban shalat. Dan ulama yang lain berpendapat ia tidak menjadi murtad hingga ia mengingkari kewajiban shalat,akan tetapi ia menjadi kafir di bawah tingkat kekafiran terbesar,dan ia telah mengerjakan kemungkaran besar yang lebih besar dari zina, minum khamr, dan lain sebagainya. Dan pendapat yang benar dalam hal ini adalah ia menjadi kafir,meskipun tidak mengingkari kewajiban shalat, kafir dengan kekafiran terbesarberdasarkan banyak dalil. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamyang diriwayatkan Imam Ahmad dan para penulis kitab-kitab as-Sunan dengan sanad shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bahwa beliau bersabda,“Perjanjian antara kami dan orang-orang kafir adalah shalat,barang siapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. at-Tirmidzi) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam ash-Shahih, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bersabda, “Antara seseorangdan antara kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) Dua hadits ini dan hadits lain yang senada dengannyaadalah hujah yang jelas, yang menjadi dalilatas kekafiran orang yang tidak shalat, meskipun ia tidak mengingkari kewajibannya. Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah meriwayatkan ijma’ para sahabat tentang hal ini,yakni tentang meninggalkan shalat adalah kekafiran. Maka menjadi kewajiban untuk berhati-hati, saling menasehati tentang shalat, dan menjaga shalat,serta saling menasehati untuk beristiqamah di atas agama Allah,dan senantiasa bertakwa dan melakukan hal yang menguatkan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya,serta berhati-hati dari bermaksiat kepada Allah. Juga harus menghindari hal yang mengurangi ketakwaandan melemahkan keimanan, seperti berbagai kemaksiatan dan pelanggaran.Aku memohon pada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar memberi kita taufik menuju keridaan-Nya,mengaruniakan kita keistiqamahan di atas agama-Nya,dan membantu kita semua dalam berzikir dan bersyukur, kepada-Nya, serta menyembah-Nya dengan baik. Dan agar memberi kita taufik untuk tetap menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya,dan selalu bertakwa hingga kita menghadap kepada-Nya Subhanahu.Sungguh Dia Maha Pemurah. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi Muhammaddan kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan para pengikut setia beliau.Demikian. ==== فَالْأَمْرُ خَطِيْرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى وَجَلٍ لِلْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ إِنَّهَا وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَلَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِرًا كُفْرًا دُوْنَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكَرًا عَظِيمًا أَكْثَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَالْخَمْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةٌ ظَاهِرَةٌ قَائِمَةٌ عَلَى كُفْرِ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَدْ حَكَى عَبْدُ اللهِ بْنُ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيُّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَالمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِينِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَالْحَذَرُ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإِيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُم لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ الاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Adakalanya Agama Adakalanya Dunia – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Pertanyaan pertama berbunyi:Ketika aku berada di majelis-majelis mulia seperti ini dan ketika bersama orang-orang saleh,maka aku merasa diriku baik-baik saja, walhamdulillah,dan ketakwaanku juga baik. Namun ketika aku pergi bersama teman-teman yangmenurutku mereka banyak melalaikan ketaatan (maka aku juga merasa lalai).Nasehat apa yang Anda berikan kepadaku, wahai Syaikh yang mulia. Terima kasih. Ini terjadi padamu dan selainmu, wahai Saudaraku.Hal ini memang ada.Namun kami menasihatkan kepadamu untuk berteman dengan orang-orang baik,sebisa mungkin,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah kebaikan bagimu,menambah keimanan, dan ketakwaanmu. Berhati-hatilah pula berteman dengan orang-orang lalai,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah keburukan dan kelalaian bagimu.Namun masa datangnya malas pasti terjadi. Hanzhalah pernah berkata.Suatu hari dia bertemu dengan (Abu Bakar) ash-Shiddiq.Hanzhalah berkata kepada Abu Bakar, “Hanzhalah telah berbuat nifak.” Abu Bakar bertanya, “Apa itu?”Hanzhalah menjawab, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,beliau mengingatkan kami dengan surga dan neraka, sampai kami seperti melihatnya,sehingga hati kami menjadi lembut. Namun ketika kami pergi dari beliau,maka kami sibuk dengan istri dan anak-anak,dan kami menjadi banyak lalai. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kami juga seperti itu.”Ini terjadi.Maka mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan ini pada beliau. Maka beliau bersabda, “Seandainya kalian selalu dalam keadaan seperti saat bersamaku,niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian ketika di jalan dan di kasur kalian,akan tetapi, wahai Hanzhalah, satu waktu untuk ini dan satu waktu untuk itu.” Yakni satu waktu untuk urusan-urusan agama,mendalami agama, dan belajar.Satu waktu lain untuk urusan-urusan dunia;di kebun dan bersama anak istri,atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah makna hadis itu.(Seseorang terkadang bersama) istri, anak, kebun, dan dagangannya.Keadaannya berubah-ubah dan banyak lupa.Dan ini terjadi. Namun berusahalah tetap di atas kebenaran dan mendekatinya.Seseorang hendaklah berusaha tetap di atas kebenaran dan mendekatinya, dan berusaha tidak tergelincir,serta berusaha berteman dengan orang-orang baik, senantiasa menasihati dan mengarahkan keluarga kepada kebaikan,agar mereka berpegang teguh,agar mereka tidak terjerumus,agar kakinya tidak tergelincir.Dan hanya Allahlah tempat meminta pertolongan. Demikian. ==== السُّؤَالُ الْأَوَّلُ يَقُوْلُ أَنَا إِذَا كُنْتُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَجَالِسِ الْكَرِيمَةِ وَإِذَا كُنْتُ مَعَ الصَّالِحِينَ أُحِسُّ أَنَّنِي بِخَيْرٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَتَقْوَايَ جَيِّدَةٌ وَلَكِنْ إِذَا ذَهَبْتُ مَعَ الرُّفَقَاءِ الَّذِينَ أُحِسُّ أَنَّهُم مُقَصِّرُونَ فِي الطَّاعَةِ بِمَاذَا تَنْصَحُنِي يَا فَضِيلَةَ الشَّيْخِ شُكْرًا أَنَّهُ هَذَا لَكَ وَلِغَيْرِكَ يَا أَخِي هَذَا مَوْجُودٌ لَكِنْ نَنْصَحُكَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ مَهْمَا اسْتَطَعْتَ الَّذِيْنَ صُحْبَتُكَ لَهُم تَزِيدُكَ خَيْرًا وَتَزِيْدُكَ إِيْمَانًا وَتَقْوَى وَأَنْ تَحْذَرَ صُحْبَةَ النَّاسِ الْمُقَصِّرِيْنَ الَّذِين صُحْبَتُهُمْ تَزِيدُكَ شَرًّا وَتَقْصِيْرًا وَإِلَّا فَالْفُتُوْرُ لَا بُدَّ مِنْهُ قَالَ حَنْظَلَةُ فِي ذَاتِ يَوْمٍ قَدْ وَافَقَهُ الصِّدِّيقُ قَالَ قَدْ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَتَرِقُّ قُلُوبُنَا فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَنَسِيْنَا كَثِيرًا قَالَ الصِّدِّيقُ وَنَحْنُ كَذَلِكَ هَذا يَقَعَ فَأَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ لَوْ أَنَّكُمْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ عِنْدِي لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ فِي طُرُقِكُمْ وَعَلَى فُرُشِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ تَارَةً وَتَارَةً أَيْ تَارَةً لِأُمُورِ الدِّينِ وَالتَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ وَتَارَةً لِأُمُورِ الدُّنْيَا الْمَزْرَعَةِ وَمَعَ الْأَهْلِ وَالْأَوْلَادِ أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا مَعْنَى الْحَدِيثِ أَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَمَزْرَعَتِهِ وَتِجَارَتِهِ … تَتَغَيَّرُ حَالُهُ وَيَنْسَى كَثِيرًا وَهَذَا وَاقِعٌ لَكِنْ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا الإِنْسَانُ يُسَدِّدُ وَيُقَارِبُ وَيَحْرِصُ أَنْ لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَيَحْرِصُ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ وَعَلَى وَعْظِ الْأَهْلِ وَتَوْجِيهِهِمْ إِلَى الْخَيْرِ حَتَّى يَكُونُوا مُتَمَاسِكًا حَتَّى لَا يَقَعُ حَتَّى لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Adakalanya Agama Adakalanya Dunia – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Pertanyaan pertama berbunyi:Ketika aku berada di majelis-majelis mulia seperti ini dan ketika bersama orang-orang saleh,maka aku merasa diriku baik-baik saja, walhamdulillah,dan ketakwaanku juga baik. Namun ketika aku pergi bersama teman-teman yangmenurutku mereka banyak melalaikan ketaatan (maka aku juga merasa lalai).Nasehat apa yang Anda berikan kepadaku, wahai Syaikh yang mulia. Terima kasih. Ini terjadi padamu dan selainmu, wahai Saudaraku.Hal ini memang ada.Namun kami menasihatkan kepadamu untuk berteman dengan orang-orang baik,sebisa mungkin,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah kebaikan bagimu,menambah keimanan, dan ketakwaanmu. Berhati-hatilah pula berteman dengan orang-orang lalai,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah keburukan dan kelalaian bagimu.Namun masa datangnya malas pasti terjadi. Hanzhalah pernah berkata.Suatu hari dia bertemu dengan (Abu Bakar) ash-Shiddiq.Hanzhalah berkata kepada Abu Bakar, “Hanzhalah telah berbuat nifak.” Abu Bakar bertanya, “Apa itu?”Hanzhalah menjawab, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,beliau mengingatkan kami dengan surga dan neraka, sampai kami seperti melihatnya,sehingga hati kami menjadi lembut. Namun ketika kami pergi dari beliau,maka kami sibuk dengan istri dan anak-anak,dan kami menjadi banyak lalai. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kami juga seperti itu.”Ini terjadi.Maka mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan ini pada beliau. Maka beliau bersabda, “Seandainya kalian selalu dalam keadaan seperti saat bersamaku,niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian ketika di jalan dan di kasur kalian,akan tetapi, wahai Hanzhalah, satu waktu untuk ini dan satu waktu untuk itu.” Yakni satu waktu untuk urusan-urusan agama,mendalami agama, dan belajar.Satu waktu lain untuk urusan-urusan dunia;di kebun dan bersama anak istri,atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah makna hadis itu.(Seseorang terkadang bersama) istri, anak, kebun, dan dagangannya.Keadaannya berubah-ubah dan banyak lupa.Dan ini terjadi. Namun berusahalah tetap di atas kebenaran dan mendekatinya.Seseorang hendaklah berusaha tetap di atas kebenaran dan mendekatinya, dan berusaha tidak tergelincir,serta berusaha berteman dengan orang-orang baik, senantiasa menasihati dan mengarahkan keluarga kepada kebaikan,agar mereka berpegang teguh,agar mereka tidak terjerumus,agar kakinya tidak tergelincir.Dan hanya Allahlah tempat meminta pertolongan. Demikian. ==== السُّؤَالُ الْأَوَّلُ يَقُوْلُ أَنَا إِذَا كُنْتُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَجَالِسِ الْكَرِيمَةِ وَإِذَا كُنْتُ مَعَ الصَّالِحِينَ أُحِسُّ أَنَّنِي بِخَيْرٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَتَقْوَايَ جَيِّدَةٌ وَلَكِنْ إِذَا ذَهَبْتُ مَعَ الرُّفَقَاءِ الَّذِينَ أُحِسُّ أَنَّهُم مُقَصِّرُونَ فِي الطَّاعَةِ بِمَاذَا تَنْصَحُنِي يَا فَضِيلَةَ الشَّيْخِ شُكْرًا أَنَّهُ هَذَا لَكَ وَلِغَيْرِكَ يَا أَخِي هَذَا مَوْجُودٌ لَكِنْ نَنْصَحُكَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ مَهْمَا اسْتَطَعْتَ الَّذِيْنَ صُحْبَتُكَ لَهُم تَزِيدُكَ خَيْرًا وَتَزِيْدُكَ إِيْمَانًا وَتَقْوَى وَأَنْ تَحْذَرَ صُحْبَةَ النَّاسِ الْمُقَصِّرِيْنَ الَّذِين صُحْبَتُهُمْ تَزِيدُكَ شَرًّا وَتَقْصِيْرًا وَإِلَّا فَالْفُتُوْرُ لَا بُدَّ مِنْهُ قَالَ حَنْظَلَةُ فِي ذَاتِ يَوْمٍ قَدْ وَافَقَهُ الصِّدِّيقُ قَالَ قَدْ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَتَرِقُّ قُلُوبُنَا فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَنَسِيْنَا كَثِيرًا قَالَ الصِّدِّيقُ وَنَحْنُ كَذَلِكَ هَذا يَقَعَ فَأَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ لَوْ أَنَّكُمْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ عِنْدِي لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ فِي طُرُقِكُمْ وَعَلَى فُرُشِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ تَارَةً وَتَارَةً أَيْ تَارَةً لِأُمُورِ الدِّينِ وَالتَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ وَتَارَةً لِأُمُورِ الدُّنْيَا الْمَزْرَعَةِ وَمَعَ الْأَهْلِ وَالْأَوْلَادِ أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا مَعْنَى الْحَدِيثِ أَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَمَزْرَعَتِهِ وَتِجَارَتِهِ … تَتَغَيَّرُ حَالُهُ وَيَنْسَى كَثِيرًا وَهَذَا وَاقِعٌ لَكِنْ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا الإِنْسَانُ يُسَدِّدُ وَيُقَارِبُ وَيَحْرِصُ أَنْ لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَيَحْرِصُ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ وَعَلَى وَعْظِ الْأَهْلِ وَتَوْجِيهِهِمْ إِلَى الْخَيْرِ حَتَّى يَكُونُوا مُتَمَاسِكًا حَتَّى لَا يَقَعُ حَتَّى لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Pertanyaan pertama berbunyi:Ketika aku berada di majelis-majelis mulia seperti ini dan ketika bersama orang-orang saleh,maka aku merasa diriku baik-baik saja, walhamdulillah,dan ketakwaanku juga baik. Namun ketika aku pergi bersama teman-teman yangmenurutku mereka banyak melalaikan ketaatan (maka aku juga merasa lalai).Nasehat apa yang Anda berikan kepadaku, wahai Syaikh yang mulia. Terima kasih. Ini terjadi padamu dan selainmu, wahai Saudaraku.Hal ini memang ada.Namun kami menasihatkan kepadamu untuk berteman dengan orang-orang baik,sebisa mungkin,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah kebaikan bagimu,menambah keimanan, dan ketakwaanmu. Berhati-hatilah pula berteman dengan orang-orang lalai,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah keburukan dan kelalaian bagimu.Namun masa datangnya malas pasti terjadi. Hanzhalah pernah berkata.Suatu hari dia bertemu dengan (Abu Bakar) ash-Shiddiq.Hanzhalah berkata kepada Abu Bakar, “Hanzhalah telah berbuat nifak.” Abu Bakar bertanya, “Apa itu?”Hanzhalah menjawab, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,beliau mengingatkan kami dengan surga dan neraka, sampai kami seperti melihatnya,sehingga hati kami menjadi lembut. Namun ketika kami pergi dari beliau,maka kami sibuk dengan istri dan anak-anak,dan kami menjadi banyak lalai. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kami juga seperti itu.”Ini terjadi.Maka mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan ini pada beliau. Maka beliau bersabda, “Seandainya kalian selalu dalam keadaan seperti saat bersamaku,niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian ketika di jalan dan di kasur kalian,akan tetapi, wahai Hanzhalah, satu waktu untuk ini dan satu waktu untuk itu.” Yakni satu waktu untuk urusan-urusan agama,mendalami agama, dan belajar.Satu waktu lain untuk urusan-urusan dunia;di kebun dan bersama anak istri,atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah makna hadis itu.(Seseorang terkadang bersama) istri, anak, kebun, dan dagangannya.Keadaannya berubah-ubah dan banyak lupa.Dan ini terjadi. Namun berusahalah tetap di atas kebenaran dan mendekatinya.Seseorang hendaklah berusaha tetap di atas kebenaran dan mendekatinya, dan berusaha tidak tergelincir,serta berusaha berteman dengan orang-orang baik, senantiasa menasihati dan mengarahkan keluarga kepada kebaikan,agar mereka berpegang teguh,agar mereka tidak terjerumus,agar kakinya tidak tergelincir.Dan hanya Allahlah tempat meminta pertolongan. Demikian. ==== السُّؤَالُ الْأَوَّلُ يَقُوْلُ أَنَا إِذَا كُنْتُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَجَالِسِ الْكَرِيمَةِ وَإِذَا كُنْتُ مَعَ الصَّالِحِينَ أُحِسُّ أَنَّنِي بِخَيْرٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَتَقْوَايَ جَيِّدَةٌ وَلَكِنْ إِذَا ذَهَبْتُ مَعَ الرُّفَقَاءِ الَّذِينَ أُحِسُّ أَنَّهُم مُقَصِّرُونَ فِي الطَّاعَةِ بِمَاذَا تَنْصَحُنِي يَا فَضِيلَةَ الشَّيْخِ شُكْرًا أَنَّهُ هَذَا لَكَ وَلِغَيْرِكَ يَا أَخِي هَذَا مَوْجُودٌ لَكِنْ نَنْصَحُكَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ مَهْمَا اسْتَطَعْتَ الَّذِيْنَ صُحْبَتُكَ لَهُم تَزِيدُكَ خَيْرًا وَتَزِيْدُكَ إِيْمَانًا وَتَقْوَى وَأَنْ تَحْذَرَ صُحْبَةَ النَّاسِ الْمُقَصِّرِيْنَ الَّذِين صُحْبَتُهُمْ تَزِيدُكَ شَرًّا وَتَقْصِيْرًا وَإِلَّا فَالْفُتُوْرُ لَا بُدَّ مِنْهُ قَالَ حَنْظَلَةُ فِي ذَاتِ يَوْمٍ قَدْ وَافَقَهُ الصِّدِّيقُ قَالَ قَدْ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَتَرِقُّ قُلُوبُنَا فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَنَسِيْنَا كَثِيرًا قَالَ الصِّدِّيقُ وَنَحْنُ كَذَلِكَ هَذا يَقَعَ فَأَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ لَوْ أَنَّكُمْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ عِنْدِي لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ فِي طُرُقِكُمْ وَعَلَى فُرُشِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ تَارَةً وَتَارَةً أَيْ تَارَةً لِأُمُورِ الدِّينِ وَالتَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ وَتَارَةً لِأُمُورِ الدُّنْيَا الْمَزْرَعَةِ وَمَعَ الْأَهْلِ وَالْأَوْلَادِ أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا مَعْنَى الْحَدِيثِ أَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَمَزْرَعَتِهِ وَتِجَارَتِهِ … تَتَغَيَّرُ حَالُهُ وَيَنْسَى كَثِيرًا وَهَذَا وَاقِعٌ لَكِنْ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا الإِنْسَانُ يُسَدِّدُ وَيُقَارِبُ وَيَحْرِصُ أَنْ لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَيَحْرِصُ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ وَعَلَى وَعْظِ الْأَهْلِ وَتَوْجِيهِهِمْ إِلَى الْخَيْرِ حَتَّى يَكُونُوا مُتَمَاسِكًا حَتَّى لَا يَقَعُ حَتَّى لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Pertanyaan pertama berbunyi:Ketika aku berada di majelis-majelis mulia seperti ini dan ketika bersama orang-orang saleh,maka aku merasa diriku baik-baik saja, walhamdulillah,dan ketakwaanku juga baik. Namun ketika aku pergi bersama teman-teman yangmenurutku mereka banyak melalaikan ketaatan (maka aku juga merasa lalai).Nasehat apa yang Anda berikan kepadaku, wahai Syaikh yang mulia. Terima kasih. Ini terjadi padamu dan selainmu, wahai Saudaraku.Hal ini memang ada.Namun kami menasihatkan kepadamu untuk berteman dengan orang-orang baik,sebisa mungkin,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah kebaikan bagimu,menambah keimanan, dan ketakwaanmu. Berhati-hatilah pula berteman dengan orang-orang lalai,yang pertemananmu dengan mereka itu dapat menambah keburukan dan kelalaian bagimu.Namun masa datangnya malas pasti terjadi. Hanzhalah pernah berkata.Suatu hari dia bertemu dengan (Abu Bakar) ash-Shiddiq.Hanzhalah berkata kepada Abu Bakar, “Hanzhalah telah berbuat nifak.” Abu Bakar bertanya, “Apa itu?”Hanzhalah menjawab, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,beliau mengingatkan kami dengan surga dan neraka, sampai kami seperti melihatnya,sehingga hati kami menjadi lembut. Namun ketika kami pergi dari beliau,maka kami sibuk dengan istri dan anak-anak,dan kami menjadi banyak lalai. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kami juga seperti itu.”Ini terjadi.Maka mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan ini pada beliau. Maka beliau bersabda, “Seandainya kalian selalu dalam keadaan seperti saat bersamaku,niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian ketika di jalan dan di kasur kalian,akan tetapi, wahai Hanzhalah, satu waktu untuk ini dan satu waktu untuk itu.” Yakni satu waktu untuk urusan-urusan agama,mendalami agama, dan belajar.Satu waktu lain untuk urusan-urusan dunia;di kebun dan bersama anak istri,atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah makna hadis itu.(Seseorang terkadang bersama) istri, anak, kebun, dan dagangannya.Keadaannya berubah-ubah dan banyak lupa.Dan ini terjadi. Namun berusahalah tetap di atas kebenaran dan mendekatinya.Seseorang hendaklah berusaha tetap di atas kebenaran dan mendekatinya, dan berusaha tidak tergelincir,serta berusaha berteman dengan orang-orang baik, senantiasa menasihati dan mengarahkan keluarga kepada kebaikan,agar mereka berpegang teguh,agar mereka tidak terjerumus,agar kakinya tidak tergelincir.Dan hanya Allahlah tempat meminta pertolongan. Demikian. ==== السُّؤَالُ الْأَوَّلُ يَقُوْلُ أَنَا إِذَا كُنْتُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَجَالِسِ الْكَرِيمَةِ وَإِذَا كُنْتُ مَعَ الصَّالِحِينَ أُحِسُّ أَنَّنِي بِخَيْرٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَتَقْوَايَ جَيِّدَةٌ وَلَكِنْ إِذَا ذَهَبْتُ مَعَ الرُّفَقَاءِ الَّذِينَ أُحِسُّ أَنَّهُم مُقَصِّرُونَ فِي الطَّاعَةِ بِمَاذَا تَنْصَحُنِي يَا فَضِيلَةَ الشَّيْخِ شُكْرًا أَنَّهُ هَذَا لَكَ وَلِغَيْرِكَ يَا أَخِي هَذَا مَوْجُودٌ لَكِنْ نَنْصَحُكَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ مَهْمَا اسْتَطَعْتَ الَّذِيْنَ صُحْبَتُكَ لَهُم تَزِيدُكَ خَيْرًا وَتَزِيْدُكَ إِيْمَانًا وَتَقْوَى وَأَنْ تَحْذَرَ صُحْبَةَ النَّاسِ الْمُقَصِّرِيْنَ الَّذِين صُحْبَتُهُمْ تَزِيدُكَ شَرًّا وَتَقْصِيْرًا وَإِلَّا فَالْفُتُوْرُ لَا بُدَّ مِنْهُ قَالَ حَنْظَلَةُ فِي ذَاتِ يَوْمٍ قَدْ وَافَقَهُ الصِّدِّيقُ قَالَ قَدْ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَتَرِقُّ قُلُوبُنَا فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَنَسِيْنَا كَثِيرًا قَالَ الصِّدِّيقُ وَنَحْنُ كَذَلِكَ هَذا يَقَعَ فَأَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ لَوْ أَنَّكُمْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ عِنْدِي لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ فِي طُرُقِكُمْ وَعَلَى فُرُشِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ تَارَةً وَتَارَةً أَيْ تَارَةً لِأُمُورِ الدِّينِ وَالتَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ وَتَارَةً لِأُمُورِ الدُّنْيَا الْمَزْرَعَةِ وَمَعَ الْأَهْلِ وَالْأَوْلَادِ أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا مَعْنَى الْحَدِيثِ أَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَمَزْرَعَتِهِ وَتِجَارَتِهِ … تَتَغَيَّرُ حَالُهُ وَيَنْسَى كَثِيرًا وَهَذَا وَاقِعٌ لَكِنْ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا الإِنْسَانُ يُسَدِّدُ وَيُقَارِبُ وَيَحْرِصُ أَنْ لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَيَحْرِصُ عَلَى صُحْبَةِ الْأَخْيَارِ وَعَلَى وَعْظِ الْأَهْلِ وَتَوْجِيهِهِمْ إِلَى الْخَيْرِ حَتَّى يَكُونُوا مُتَمَاسِكًا حَتَّى لَا يَقَعُ حَتَّى لَا تَزِلَّ قَدَمُهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Pokok-Pokok Akidah Ahlussunnah dalam Ushulus Sunnah Imam Ahmad

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, mengumpulkan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah dalam kitab beliau yang berjudul Ushulus Sunnah.Berikut ini ringkasan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah yang disebutkan oleh beliau dalam kitab Ushulus Sunnah:Pertama: Berpegang teguh pada cara beragama para sahabat Nabi dan menjadikan mereka sebagai teladan.Kedua: Meninggalkan segala bentuk ke-bid’ah-an.Ketiga: Meyakini bahwa semua ke-bid’ah-an adalah penyimpangan.Keempat: Meninggalkan debat dalam masalah agama.Kelima: Tidak bermajelis bersama ahlul bid’ah.Keenam: Berpegang pada atsar (hadis-hadis) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketujuh: Meyakini bahwa As-Sunnah itu menafsirkan dan menjelaskan makna-makna ayat Al-Qur’an.Kedelapan: Meyakini tidak ada qiyas dalam masalah akidah.Kesembilan: Meyakini bahwa akidah yang sahih bersumber pada nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.Kesepuluh: Tidak menolak dalil dengan akal.Kesebelas: Tidak menolak dalil dengan hawa nafsu.Kedua belas: Mengimani takdir yang baik maupun takdir yang buruk.Ketiga belas: Mengimani dan membenarkan semua ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni, tanpa mempertanyakan “mengapa?” dan “bagaimana mungkin?”Keempat belas: Tetap mengimani ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni walaupun belum memahami makna dari dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menetapkannya.Kelima belas: Mengimani bahwa kaum mukminin dapat melihat wajah Allah di akhirat.Keenam belas: Tidak menolak hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dengan alasan tidak masuk akal.Ketujuh belas: Mengimani bahwa Al-Qur’an adalan firman Allah, bukan makhluk.Kedelapan belas: Mengimani sifat-sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih sesuai dengan zahir nash dengan makna yang hakiki, tidak men-ta’wil-nya.Kesembilan belas: Mengimani adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat.Kedua puluh: Mengimani bahwa Allah akan bicara kepada para hamba-Nya di hari kiamat.Kedua puluh satu: Mengimani adanya haudh (telaga) para nabi di hari kiamat.Kedua puluh dua: Mengimani adanya fitnah kubur, azab, dan nikmat kubur.Kedua puluh tiga: Mengimani adanya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kedua puluh empat: Mengimani munculnya Dajjal di akhir zaman.Kedua puluh lima: Mengimani turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman.Kedua puluh enam: Menetapkan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.Kedua puluh tujuh: Meyakini bahwa orang yang meninggalkan salat bisa keluar dari Islam.Kedua puluh delapan: Meyakini bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berurutan adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan. Kemudian, lima orang sahabat yang termasuk ash-habus syura‘, yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Kemudian, para sahabat yang ikut perang Badar.Kedua puluh sembilan: Meyakini bahwa generasi terbaik dari umat ini adalah para sahabat Nabi kemudian para tabi’in.Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKetiga puluh: Meyakini wajibnya mendengar dan taat kepada ulil amri kaum mukminin dalam perkara ma’ruf, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh satu: Meyakini bahwa jihad perang itu wajib bersama ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim. Demikian juga, pembagian rampasan perang dan penegakan hukuman hadd.Ketiga puluh dua: Meyakini sahnya pembayaran zakat melalui ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh tiga: Meyakini sahnya salat Jumat bermakmum kepada ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh empat: Meyakini bahwa orang yang memberontak kepada ulil amri kaum Mukminin, maka ia telah melakukan penyimpangan dan ke-bid’ah-an, dan andaikan ia mati dalam keadaan demikian, kematiannya seperti kaum jahiliyah terdahulu.Ketiga puluh lima: Meyakini bolehnya memerangi kaum Muslimin yang melakukan perampokan dan pemberontakan.Ketiga puluh enam: Tidak memastikan seseorang secara spesifik pasti menjadi penghuni surga atau pasti menjadi penghuni neraka.Ketiga puluh tujuh: Meyakini bahwa Allah akan menerima tobat hamba-Nya sebesar apapun dosanya.Ketiga puluh delapan: Meyakini bahwa seorang mukmin yang mati dalam keadaan membawa dosa selain kesyirikan, maka bisa jadi ia diampuni oleh Allah dan tidak masuk neraka sama sekali; atau bisa jadi ia diazab di neraka terlebih dahulu, kemudian setelah itu ia dimasukkan ke surga.Ketiga puluh sembilan: Meyakini bahwa seorang yang mati dalam keadaan membawa dosa kesyirikan, maka Allah tidak akan mengampuninya dan ia kekal di neraka.Keempat puluh: Meyakini bahwa hukum rajam itu ada dalam syari’at, bagi pelaku zina yang muhshan.Keempat puluh satu: Meyakini wajibnya menjaga lisan terhadap para sahabat Nabi dan wajibnya mendoakan kebaikan bagi mereka.Keempat puluh dua: Meyakini bahwa orang yang suka mencela para sahabat Nabi, maka ia adalah ahlul bid’ah.Keempat puluh tiga: Meyakini bahwa nifaq adalah kekufuran.Keempat puluh empat: Memahami dalil-dalil wa’id yang berisi ancaman dan hukum dengan cara mengkompromikannya bersama dengan dalil-dalil lain yang menjelaskan maknanya.Keempat puluh lima: Mengimani adanya surga dan neraka dan keduanya sudah diciptakan sekarang.Keempat puluh enam: Meyakini bahwa semua orang yang masih berstatus muslim, bagaimana pun kondisinya, tetap wajib disalatkan dan boleh didoakan ampunan baginya.Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan Tauhid***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Rukun Shalat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Hasbunallah Wanikmal Wakil, Hadits 5 Perkara, Zikir Akhir Zaman ZulkifliTags: ahlussunnahAqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahManhajmanhaj slafpokok aqidahUmam Ahmadushulus sunnah

Pokok-Pokok Akidah Ahlussunnah dalam Ushulus Sunnah Imam Ahmad

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, mengumpulkan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah dalam kitab beliau yang berjudul Ushulus Sunnah.Berikut ini ringkasan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah yang disebutkan oleh beliau dalam kitab Ushulus Sunnah:Pertama: Berpegang teguh pada cara beragama para sahabat Nabi dan menjadikan mereka sebagai teladan.Kedua: Meninggalkan segala bentuk ke-bid’ah-an.Ketiga: Meyakini bahwa semua ke-bid’ah-an adalah penyimpangan.Keempat: Meninggalkan debat dalam masalah agama.Kelima: Tidak bermajelis bersama ahlul bid’ah.Keenam: Berpegang pada atsar (hadis-hadis) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketujuh: Meyakini bahwa As-Sunnah itu menafsirkan dan menjelaskan makna-makna ayat Al-Qur’an.Kedelapan: Meyakini tidak ada qiyas dalam masalah akidah.Kesembilan: Meyakini bahwa akidah yang sahih bersumber pada nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.Kesepuluh: Tidak menolak dalil dengan akal.Kesebelas: Tidak menolak dalil dengan hawa nafsu.Kedua belas: Mengimani takdir yang baik maupun takdir yang buruk.Ketiga belas: Mengimani dan membenarkan semua ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni, tanpa mempertanyakan “mengapa?” dan “bagaimana mungkin?”Keempat belas: Tetap mengimani ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni walaupun belum memahami makna dari dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menetapkannya.Kelima belas: Mengimani bahwa kaum mukminin dapat melihat wajah Allah di akhirat.Keenam belas: Tidak menolak hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dengan alasan tidak masuk akal.Ketujuh belas: Mengimani bahwa Al-Qur’an adalan firman Allah, bukan makhluk.Kedelapan belas: Mengimani sifat-sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih sesuai dengan zahir nash dengan makna yang hakiki, tidak men-ta’wil-nya.Kesembilan belas: Mengimani adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat.Kedua puluh: Mengimani bahwa Allah akan bicara kepada para hamba-Nya di hari kiamat.Kedua puluh satu: Mengimani adanya haudh (telaga) para nabi di hari kiamat.Kedua puluh dua: Mengimani adanya fitnah kubur, azab, dan nikmat kubur.Kedua puluh tiga: Mengimani adanya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kedua puluh empat: Mengimani munculnya Dajjal di akhir zaman.Kedua puluh lima: Mengimani turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman.Kedua puluh enam: Menetapkan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.Kedua puluh tujuh: Meyakini bahwa orang yang meninggalkan salat bisa keluar dari Islam.Kedua puluh delapan: Meyakini bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berurutan adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan. Kemudian, lima orang sahabat yang termasuk ash-habus syura‘, yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Kemudian, para sahabat yang ikut perang Badar.Kedua puluh sembilan: Meyakini bahwa generasi terbaik dari umat ini adalah para sahabat Nabi kemudian para tabi’in.Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKetiga puluh: Meyakini wajibnya mendengar dan taat kepada ulil amri kaum mukminin dalam perkara ma’ruf, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh satu: Meyakini bahwa jihad perang itu wajib bersama ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim. Demikian juga, pembagian rampasan perang dan penegakan hukuman hadd.Ketiga puluh dua: Meyakini sahnya pembayaran zakat melalui ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh tiga: Meyakini sahnya salat Jumat bermakmum kepada ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh empat: Meyakini bahwa orang yang memberontak kepada ulil amri kaum Mukminin, maka ia telah melakukan penyimpangan dan ke-bid’ah-an, dan andaikan ia mati dalam keadaan demikian, kematiannya seperti kaum jahiliyah terdahulu.Ketiga puluh lima: Meyakini bolehnya memerangi kaum Muslimin yang melakukan perampokan dan pemberontakan.Ketiga puluh enam: Tidak memastikan seseorang secara spesifik pasti menjadi penghuni surga atau pasti menjadi penghuni neraka.Ketiga puluh tujuh: Meyakini bahwa Allah akan menerima tobat hamba-Nya sebesar apapun dosanya.Ketiga puluh delapan: Meyakini bahwa seorang mukmin yang mati dalam keadaan membawa dosa selain kesyirikan, maka bisa jadi ia diampuni oleh Allah dan tidak masuk neraka sama sekali; atau bisa jadi ia diazab di neraka terlebih dahulu, kemudian setelah itu ia dimasukkan ke surga.Ketiga puluh sembilan: Meyakini bahwa seorang yang mati dalam keadaan membawa dosa kesyirikan, maka Allah tidak akan mengampuninya dan ia kekal di neraka.Keempat puluh: Meyakini bahwa hukum rajam itu ada dalam syari’at, bagi pelaku zina yang muhshan.Keempat puluh satu: Meyakini wajibnya menjaga lisan terhadap para sahabat Nabi dan wajibnya mendoakan kebaikan bagi mereka.Keempat puluh dua: Meyakini bahwa orang yang suka mencela para sahabat Nabi, maka ia adalah ahlul bid’ah.Keempat puluh tiga: Meyakini bahwa nifaq adalah kekufuran.Keempat puluh empat: Memahami dalil-dalil wa’id yang berisi ancaman dan hukum dengan cara mengkompromikannya bersama dengan dalil-dalil lain yang menjelaskan maknanya.Keempat puluh lima: Mengimani adanya surga dan neraka dan keduanya sudah diciptakan sekarang.Keempat puluh enam: Meyakini bahwa semua orang yang masih berstatus muslim, bagaimana pun kondisinya, tetap wajib disalatkan dan boleh didoakan ampunan baginya.Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan Tauhid***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Rukun Shalat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Hasbunallah Wanikmal Wakil, Hadits 5 Perkara, Zikir Akhir Zaman ZulkifliTags: ahlussunnahAqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahManhajmanhaj slafpokok aqidahUmam Ahmadushulus sunnah
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, mengumpulkan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah dalam kitab beliau yang berjudul Ushulus Sunnah.Berikut ini ringkasan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah yang disebutkan oleh beliau dalam kitab Ushulus Sunnah:Pertama: Berpegang teguh pada cara beragama para sahabat Nabi dan menjadikan mereka sebagai teladan.Kedua: Meninggalkan segala bentuk ke-bid’ah-an.Ketiga: Meyakini bahwa semua ke-bid’ah-an adalah penyimpangan.Keempat: Meninggalkan debat dalam masalah agama.Kelima: Tidak bermajelis bersama ahlul bid’ah.Keenam: Berpegang pada atsar (hadis-hadis) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketujuh: Meyakini bahwa As-Sunnah itu menafsirkan dan menjelaskan makna-makna ayat Al-Qur’an.Kedelapan: Meyakini tidak ada qiyas dalam masalah akidah.Kesembilan: Meyakini bahwa akidah yang sahih bersumber pada nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.Kesepuluh: Tidak menolak dalil dengan akal.Kesebelas: Tidak menolak dalil dengan hawa nafsu.Kedua belas: Mengimani takdir yang baik maupun takdir yang buruk.Ketiga belas: Mengimani dan membenarkan semua ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni, tanpa mempertanyakan “mengapa?” dan “bagaimana mungkin?”Keempat belas: Tetap mengimani ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni walaupun belum memahami makna dari dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menetapkannya.Kelima belas: Mengimani bahwa kaum mukminin dapat melihat wajah Allah di akhirat.Keenam belas: Tidak menolak hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dengan alasan tidak masuk akal.Ketujuh belas: Mengimani bahwa Al-Qur’an adalan firman Allah, bukan makhluk.Kedelapan belas: Mengimani sifat-sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih sesuai dengan zahir nash dengan makna yang hakiki, tidak men-ta’wil-nya.Kesembilan belas: Mengimani adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat.Kedua puluh: Mengimani bahwa Allah akan bicara kepada para hamba-Nya di hari kiamat.Kedua puluh satu: Mengimani adanya haudh (telaga) para nabi di hari kiamat.Kedua puluh dua: Mengimani adanya fitnah kubur, azab, dan nikmat kubur.Kedua puluh tiga: Mengimani adanya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kedua puluh empat: Mengimani munculnya Dajjal di akhir zaman.Kedua puluh lima: Mengimani turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman.Kedua puluh enam: Menetapkan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.Kedua puluh tujuh: Meyakini bahwa orang yang meninggalkan salat bisa keluar dari Islam.Kedua puluh delapan: Meyakini bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berurutan adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan. Kemudian, lima orang sahabat yang termasuk ash-habus syura‘, yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Kemudian, para sahabat yang ikut perang Badar.Kedua puluh sembilan: Meyakini bahwa generasi terbaik dari umat ini adalah para sahabat Nabi kemudian para tabi’in.Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKetiga puluh: Meyakini wajibnya mendengar dan taat kepada ulil amri kaum mukminin dalam perkara ma’ruf, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh satu: Meyakini bahwa jihad perang itu wajib bersama ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim. Demikian juga, pembagian rampasan perang dan penegakan hukuman hadd.Ketiga puluh dua: Meyakini sahnya pembayaran zakat melalui ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh tiga: Meyakini sahnya salat Jumat bermakmum kepada ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh empat: Meyakini bahwa orang yang memberontak kepada ulil amri kaum Mukminin, maka ia telah melakukan penyimpangan dan ke-bid’ah-an, dan andaikan ia mati dalam keadaan demikian, kematiannya seperti kaum jahiliyah terdahulu.Ketiga puluh lima: Meyakini bolehnya memerangi kaum Muslimin yang melakukan perampokan dan pemberontakan.Ketiga puluh enam: Tidak memastikan seseorang secara spesifik pasti menjadi penghuni surga atau pasti menjadi penghuni neraka.Ketiga puluh tujuh: Meyakini bahwa Allah akan menerima tobat hamba-Nya sebesar apapun dosanya.Ketiga puluh delapan: Meyakini bahwa seorang mukmin yang mati dalam keadaan membawa dosa selain kesyirikan, maka bisa jadi ia diampuni oleh Allah dan tidak masuk neraka sama sekali; atau bisa jadi ia diazab di neraka terlebih dahulu, kemudian setelah itu ia dimasukkan ke surga.Ketiga puluh sembilan: Meyakini bahwa seorang yang mati dalam keadaan membawa dosa kesyirikan, maka Allah tidak akan mengampuninya dan ia kekal di neraka.Keempat puluh: Meyakini bahwa hukum rajam itu ada dalam syari’at, bagi pelaku zina yang muhshan.Keempat puluh satu: Meyakini wajibnya menjaga lisan terhadap para sahabat Nabi dan wajibnya mendoakan kebaikan bagi mereka.Keempat puluh dua: Meyakini bahwa orang yang suka mencela para sahabat Nabi, maka ia adalah ahlul bid’ah.Keempat puluh tiga: Meyakini bahwa nifaq adalah kekufuran.Keempat puluh empat: Memahami dalil-dalil wa’id yang berisi ancaman dan hukum dengan cara mengkompromikannya bersama dengan dalil-dalil lain yang menjelaskan maknanya.Keempat puluh lima: Mengimani adanya surga dan neraka dan keduanya sudah diciptakan sekarang.Keempat puluh enam: Meyakini bahwa semua orang yang masih berstatus muslim, bagaimana pun kondisinya, tetap wajib disalatkan dan boleh didoakan ampunan baginya.Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan Tauhid***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Rukun Shalat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Hasbunallah Wanikmal Wakil, Hadits 5 Perkara, Zikir Akhir Zaman ZulkifliTags: ahlussunnahAqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahManhajmanhaj slafpokok aqidahUmam Ahmadushulus sunnah


Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, mengumpulkan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah dalam kitab beliau yang berjudul Ushulus Sunnah.Berikut ini ringkasan poin-poin landasan akidah Ahlussunnah yang disebutkan oleh beliau dalam kitab Ushulus Sunnah:Pertama: Berpegang teguh pada cara beragama para sahabat Nabi dan menjadikan mereka sebagai teladan.Kedua: Meninggalkan segala bentuk ke-bid’ah-an.Ketiga: Meyakini bahwa semua ke-bid’ah-an adalah penyimpangan.Keempat: Meninggalkan debat dalam masalah agama.Kelima: Tidak bermajelis bersama ahlul bid’ah.Keenam: Berpegang pada atsar (hadis-hadis) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketujuh: Meyakini bahwa As-Sunnah itu menafsirkan dan menjelaskan makna-makna ayat Al-Qur’an.Kedelapan: Meyakini tidak ada qiyas dalam masalah akidah.Kesembilan: Meyakini bahwa akidah yang sahih bersumber pada nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.Kesepuluh: Tidak menolak dalil dengan akal.Kesebelas: Tidak menolak dalil dengan hawa nafsu.Kedua belas: Mengimani takdir yang baik maupun takdir yang buruk.Ketiga belas: Mengimani dan membenarkan semua ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni, tanpa mempertanyakan “mengapa?” dan “bagaimana mungkin?”Keempat belas: Tetap mengimani ketetapan Allah yang syar’i maupun kauni walaupun belum memahami makna dari dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menetapkannya.Kelima belas: Mengimani bahwa kaum mukminin dapat melihat wajah Allah di akhirat.Keenam belas: Tidak menolak hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dengan alasan tidak masuk akal.Ketujuh belas: Mengimani bahwa Al-Qur’an adalan firman Allah, bukan makhluk.Kedelapan belas: Mengimani sifat-sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih sesuai dengan zahir nash dengan makna yang hakiki, tidak men-ta’wil-nya.Kesembilan belas: Mengimani adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat.Kedua puluh: Mengimani bahwa Allah akan bicara kepada para hamba-Nya di hari kiamat.Kedua puluh satu: Mengimani adanya haudh (telaga) para nabi di hari kiamat.Kedua puluh dua: Mengimani adanya fitnah kubur, azab, dan nikmat kubur.Kedua puluh tiga: Mengimani adanya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kedua puluh empat: Mengimani munculnya Dajjal di akhir zaman.Kedua puluh lima: Mengimani turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman.Kedua puluh enam: Menetapkan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.Kedua puluh tujuh: Meyakini bahwa orang yang meninggalkan salat bisa keluar dari Islam.Kedua puluh delapan: Meyakini bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berurutan adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan. Kemudian, lima orang sahabat yang termasuk ash-habus syura‘, yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Kemudian, para sahabat yang ikut perang Badar.Kedua puluh sembilan: Meyakini bahwa generasi terbaik dari umat ini adalah para sahabat Nabi kemudian para tabi’in.Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKetiga puluh: Meyakini wajibnya mendengar dan taat kepada ulil amri kaum mukminin dalam perkara ma’ruf, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh satu: Meyakini bahwa jihad perang itu wajib bersama ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim. Demikian juga, pembagian rampasan perang dan penegakan hukuman hadd.Ketiga puluh dua: Meyakini sahnya pembayaran zakat melalui ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh tiga: Meyakini sahnya salat Jumat bermakmum kepada ulil amri, baik mereka saleh maupun zalim.Ketiga puluh empat: Meyakini bahwa orang yang memberontak kepada ulil amri kaum Mukminin, maka ia telah melakukan penyimpangan dan ke-bid’ah-an, dan andaikan ia mati dalam keadaan demikian, kematiannya seperti kaum jahiliyah terdahulu.Ketiga puluh lima: Meyakini bolehnya memerangi kaum Muslimin yang melakukan perampokan dan pemberontakan.Ketiga puluh enam: Tidak memastikan seseorang secara spesifik pasti menjadi penghuni surga atau pasti menjadi penghuni neraka.Ketiga puluh tujuh: Meyakini bahwa Allah akan menerima tobat hamba-Nya sebesar apapun dosanya.Ketiga puluh delapan: Meyakini bahwa seorang mukmin yang mati dalam keadaan membawa dosa selain kesyirikan, maka bisa jadi ia diampuni oleh Allah dan tidak masuk neraka sama sekali; atau bisa jadi ia diazab di neraka terlebih dahulu, kemudian setelah itu ia dimasukkan ke surga.Ketiga puluh sembilan: Meyakini bahwa seorang yang mati dalam keadaan membawa dosa kesyirikan, maka Allah tidak akan mengampuninya dan ia kekal di neraka.Keempat puluh: Meyakini bahwa hukum rajam itu ada dalam syari’at, bagi pelaku zina yang muhshan.Keempat puluh satu: Meyakini wajibnya menjaga lisan terhadap para sahabat Nabi dan wajibnya mendoakan kebaikan bagi mereka.Keempat puluh dua: Meyakini bahwa orang yang suka mencela para sahabat Nabi, maka ia adalah ahlul bid’ah.Keempat puluh tiga: Meyakini bahwa nifaq adalah kekufuran.Keempat puluh empat: Memahami dalil-dalil wa’id yang berisi ancaman dan hukum dengan cara mengkompromikannya bersama dengan dalil-dalil lain yang menjelaskan maknanya.Keempat puluh lima: Mengimani adanya surga dan neraka dan keduanya sudah diciptakan sekarang.Keempat puluh enam: Meyakini bahwa semua orang yang masih berstatus muslim, bagaimana pun kondisinya, tetap wajib disalatkan dan boleh didoakan ampunan baginya.Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan Tauhid***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Rukun Shalat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Hasbunallah Wanikmal Wakil, Hadits 5 Perkara, Zikir Akhir Zaman ZulkifliTags: ahlussunnahAqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahManhajmanhaj slafpokok aqidahUmam Ahmadushulus sunnah

Definisi Bid’ah dan Beberapa Contohnya

Pertanyaan: Apa definisi bid’ah dan apa saja contoh bid’ah? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bid’ah secara bahasa Arab artinya sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Dalam kitab Maqayis al-Lughah disebutkan: الباء والدال والعين أصلان لشيئين:أحدهما: ابتداء الشيء وصنعه لا عن مثال سابق مثال، والله بديع السموات والأرض.الثاني: الانقطاع والكلال كقولهم: أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت “Terdiri dari huruf ب dan د dan ع asalnya menunjukkan dua makna: Pertama, memulai sesuatu atau membuatnya sementara belum ada hal yang semisal itu sebelumnya. sebagaimana ayat: بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah menciptakan langit dan bumi (yang sebelumnya tidak ada).” (QS. al-Baqarah: 117) Kedua, keterputusan atau berhenti karena lelah. Sebagaimana ungkapan أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت (tunggangan itu berhenti ketika lelah atau rusak).” (Maqayis al-Lughah, 1/209) Dalam kitab Lisanul ‘Arab (9/351) disebutkan: بدع الشيء يبدعه بَدْعًا وابتدعه: أنشأه وبدأه، وبدع الركيّة: استنبطها وأحدثها. والبدعة: الحدث، وما ابتدع من الدين بعد الإكمال. ابن السكيت: البدعة كلّ محدثة “Bada’asy syai’, yabda’uhu, bad’an, wab tada’ahu artinya menumbuhkan atau memulai sesuatu. Badda‘ar rakiyyah, artinya menggali sumur atau membuatnya. Al-Bid‘ah artinya hal yang baru, atau (secara istilah, pent.) segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama setelah sempurnanya. Ibnu Sukait berkata, al-bid’ah artinya segala sesuatu yang baru.” Maka secara bahasa, semua yang baru yang tidak ada sebelumnya disebut bid’ah. Contohnya seperti benda-benda modern semisal handphone, internet, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, kereta api, dan semisalnya. Namun bukan ini yang dibahas dalam bahasan bid’ah dalam syariat. Benda-benda tersebut hukum asalnya boleh digunakan dan boleh dibuat. Adapun bid’ah dalam bahasan syariat atau definisi bid’ah secara istilah syar’i, adalah semua bentuk cara beragama yang tidak ada contohnya dan tidak ada tuntunannya dari syariat. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam asy-Syathibi rahimahullah (wafat 790 H): طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية، يقصَد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه “Bid’ah adalah sebuah tata cara beragama yang diada-adakan, menyerupai syariat, dilakukan dengan maksud berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah subhanahu.” (Al-I’tisham, 1/37) Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795 H) juga menjelaskan: والمراد بالبدعة ما أحدِث مما لا أصل له في الشريعة يدلّ عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدلّ عليه فليس ببدعة شرعًا وإن كان بدعة لغة “Makna bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak ada landasan dalil dari syari’at. Sedangkan segala sesuatu yang memiliki landasan dalil dari syari’at, ia bukanlah bid’ah secara syar’i walaupun kadang termasuk bid’ah secara bahasa.” (Jami’ al-‘Ulum Wal Hikam, 265) Imam as-Suyuthi rahimahullah (wafat 911 H) juga berkata: البدعة عبارة عن فعلةٍ تصادم الشريعة بالمخالفة أو توجب التعاطي عليها بزيادة أو نقصان “Bid’ah adalah sebuah istilah untuk perbuatan yang menentang syari’at dengan menyelisihinya atau mengutak-atik syari’at dengan menambah-nambah atau mengurangi.” (Al-Amru Bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, 88) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H) juga menjelaskan: البدعة في الدين هي ما لم يشرعه الله ورسوله، وهو ما لم يأمر به أمر إيجاب ولا استحباب، فأما ما أمر به أمر إيجاب أو استحباب وعلم الأمر به بالأدلة الشرعية فهو من الدين الذي شرعه الله، وإن تنازع أولو الأمر في بعض ذلك، وسواء كان هذا مفعولاً على عهد النبي صلى الله عليه وسلم أو لم يكن “Bid’ah dalam agama adalah segala sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu perkara agama yang tidak diperintahkan dengan pewajiban atau penganjuran. Sedangkan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik dengan bentuk pewajiban atau penganjuran dan itu diketahui dari dalil-dalil syar’i, maka yang demikian merupakan bagian dari agama yang disyariatkan oleh Allah. Walaupun diperselisihkan hukumnya setelah itu, baik pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ataupun belum pernah.” (Majmu’ al-Fatawa, 4/ 107-108) Inilah bid’ah yang dilarang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. asy-Syura: 21) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867) Adapun contoh-contoh bid’ah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam Kitabut Tauhid (hal. 121-127) memberikan beberapa contoh kebid’ahan yang banyak tersebar di tengah kaum muslimin di masa ini, di antaranya: Peringatan Maulid Nabi Tabarruk (ngalap berkah) dengan tempat-tempat keramat, atau peninggalan orang shalih atau kuburan Melafalkan niat dalam ibadah Dzikir jama’i (bersama-sama) setelah shalat  Meminta orang-orang untuk membaca al-Fatihah di acara-acara atau mengirimkannya untuk orang mati Mengadakan acara makan-makan untuk memperingati orang yang meninggal  Perayaan Isra Mi’raj  Perayaan tahun baru Hijriyah  Dzikir-dzikir dengan tata cara tertentu ala kaum Sufi Puasa dan shalat di hari Nishfu Sya’ban  Membangun kuburan dan menjadikannya sebagai tempat ibadah Ziarah kubur untuk tabarruk dan tawassul Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan juga menjelaskan: “Bid’ah dalam agama dibagi menjadi dua: Pertama, bid’ah qauliyah i’tiqadiyah. Seperti bid’ahnya keyakinan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, dan keyakinan sekte-sekte sesat lainnya.  Kedua, bid’ah fil ibadah (bid’ah dalam ibadah). Yaitu menyembah Allah ta’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah. Disebut juga dengan bid’ah amaliyah.  Bid’ah jenis ini ada 4 macam: 1. Bid’ah yang terjadi pada ashlul ibadah (pokok ibadah). Yaitu dengan mengerjakan ibadah yang tidak ada asalnya sama sekali dari syariat. Seperti membuat shalat yang baru atau puasa yang baru atau hari raya yang baru seperti hari perayaan Maulid Nabi, yang sama sekali tidak ada asalnya dari syariat.  2. Bid’ah yang berupa penambahan pada ibadah yang disyariatkan. Seperti jika ditambahkan rakaat yang kelima pada shalat dzuhur atau ashar, dengan sengaja bukan karena lupa. 3. Bid’ah yang berupa membuat tata cara baru dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu mengerjakan ibadah dengan tata cara yang tidak disyariatkan. Contohnya seperti berdzikir dengan dzikir-dzikir yang masyru’ namun dilakukan dengan berjama’ah (bersama-sama) dan satu suara. Contoh lainnya seperti bersengaja menyusahkan diri dalam ibadah sampai keluar dari batas tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 4. Bid’ah yang berupa mengkhususkan satu waktu tertentu untuk beribadah yang disyariatkan namun penentuan waktunya tersebut tidak dikhususkan oleh syariat. Seperti mengkhususkan hari Nisfu Sya’ban untuk puasa dan shalat. Puasa dan shalat pada asalnya disyariatkan, namun ketika dikhususkan pada suatu waktu tertentu ini membutuhkan dalil.” (Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hal. 375) Bid’ah yang disebutkan pada nomor 1 disebut juga dengan bid’ah haqiqiyah. Sedangkan yang disebutkan pada nomor 2 sampai 4, disebutkan juga dengan bid’ah idhafiyah.  Semoga Allah ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk kebid’ahan dan menjadikan kita istiqomah di atas tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Kelahiran Bayi Sesuai Sunnah, Contoh Kata Kata Talak, Hukum Anak Angkat Dalam Islam, Mp3 Kajian, Arti Kalimat Ala Hadiniyah, Orang Adzan Visited 898 times, 1 visit(s) today Post Views: 468 QRIS donasi Yufid

Definisi Bid’ah dan Beberapa Contohnya

Pertanyaan: Apa definisi bid’ah dan apa saja contoh bid’ah? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bid’ah secara bahasa Arab artinya sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Dalam kitab Maqayis al-Lughah disebutkan: الباء والدال والعين أصلان لشيئين:أحدهما: ابتداء الشيء وصنعه لا عن مثال سابق مثال، والله بديع السموات والأرض.الثاني: الانقطاع والكلال كقولهم: أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت “Terdiri dari huruf ب dan د dan ع asalnya menunjukkan dua makna: Pertama, memulai sesuatu atau membuatnya sementara belum ada hal yang semisal itu sebelumnya. sebagaimana ayat: بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah menciptakan langit dan bumi (yang sebelumnya tidak ada).” (QS. al-Baqarah: 117) Kedua, keterputusan atau berhenti karena lelah. Sebagaimana ungkapan أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت (tunggangan itu berhenti ketika lelah atau rusak).” (Maqayis al-Lughah, 1/209) Dalam kitab Lisanul ‘Arab (9/351) disebutkan: بدع الشيء يبدعه بَدْعًا وابتدعه: أنشأه وبدأه، وبدع الركيّة: استنبطها وأحدثها. والبدعة: الحدث، وما ابتدع من الدين بعد الإكمال. ابن السكيت: البدعة كلّ محدثة “Bada’asy syai’, yabda’uhu, bad’an, wab tada’ahu artinya menumbuhkan atau memulai sesuatu. Badda‘ar rakiyyah, artinya menggali sumur atau membuatnya. Al-Bid‘ah artinya hal yang baru, atau (secara istilah, pent.) segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama setelah sempurnanya. Ibnu Sukait berkata, al-bid’ah artinya segala sesuatu yang baru.” Maka secara bahasa, semua yang baru yang tidak ada sebelumnya disebut bid’ah. Contohnya seperti benda-benda modern semisal handphone, internet, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, kereta api, dan semisalnya. Namun bukan ini yang dibahas dalam bahasan bid’ah dalam syariat. Benda-benda tersebut hukum asalnya boleh digunakan dan boleh dibuat. Adapun bid’ah dalam bahasan syariat atau definisi bid’ah secara istilah syar’i, adalah semua bentuk cara beragama yang tidak ada contohnya dan tidak ada tuntunannya dari syariat. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam asy-Syathibi rahimahullah (wafat 790 H): طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية، يقصَد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه “Bid’ah adalah sebuah tata cara beragama yang diada-adakan, menyerupai syariat, dilakukan dengan maksud berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah subhanahu.” (Al-I’tisham, 1/37) Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795 H) juga menjelaskan: والمراد بالبدعة ما أحدِث مما لا أصل له في الشريعة يدلّ عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدلّ عليه فليس ببدعة شرعًا وإن كان بدعة لغة “Makna bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak ada landasan dalil dari syari’at. Sedangkan segala sesuatu yang memiliki landasan dalil dari syari’at, ia bukanlah bid’ah secara syar’i walaupun kadang termasuk bid’ah secara bahasa.” (Jami’ al-‘Ulum Wal Hikam, 265) Imam as-Suyuthi rahimahullah (wafat 911 H) juga berkata: البدعة عبارة عن فعلةٍ تصادم الشريعة بالمخالفة أو توجب التعاطي عليها بزيادة أو نقصان “Bid’ah adalah sebuah istilah untuk perbuatan yang menentang syari’at dengan menyelisihinya atau mengutak-atik syari’at dengan menambah-nambah atau mengurangi.” (Al-Amru Bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, 88) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H) juga menjelaskan: البدعة في الدين هي ما لم يشرعه الله ورسوله، وهو ما لم يأمر به أمر إيجاب ولا استحباب، فأما ما أمر به أمر إيجاب أو استحباب وعلم الأمر به بالأدلة الشرعية فهو من الدين الذي شرعه الله، وإن تنازع أولو الأمر في بعض ذلك، وسواء كان هذا مفعولاً على عهد النبي صلى الله عليه وسلم أو لم يكن “Bid’ah dalam agama adalah segala sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu perkara agama yang tidak diperintahkan dengan pewajiban atau penganjuran. Sedangkan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik dengan bentuk pewajiban atau penganjuran dan itu diketahui dari dalil-dalil syar’i, maka yang demikian merupakan bagian dari agama yang disyariatkan oleh Allah. Walaupun diperselisihkan hukumnya setelah itu, baik pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ataupun belum pernah.” (Majmu’ al-Fatawa, 4/ 107-108) Inilah bid’ah yang dilarang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. asy-Syura: 21) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867) Adapun contoh-contoh bid’ah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam Kitabut Tauhid (hal. 121-127) memberikan beberapa contoh kebid’ahan yang banyak tersebar di tengah kaum muslimin di masa ini, di antaranya: Peringatan Maulid Nabi Tabarruk (ngalap berkah) dengan tempat-tempat keramat, atau peninggalan orang shalih atau kuburan Melafalkan niat dalam ibadah Dzikir jama’i (bersama-sama) setelah shalat  Meminta orang-orang untuk membaca al-Fatihah di acara-acara atau mengirimkannya untuk orang mati Mengadakan acara makan-makan untuk memperingati orang yang meninggal  Perayaan Isra Mi’raj  Perayaan tahun baru Hijriyah  Dzikir-dzikir dengan tata cara tertentu ala kaum Sufi Puasa dan shalat di hari Nishfu Sya’ban  Membangun kuburan dan menjadikannya sebagai tempat ibadah Ziarah kubur untuk tabarruk dan tawassul Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan juga menjelaskan: “Bid’ah dalam agama dibagi menjadi dua: Pertama, bid’ah qauliyah i’tiqadiyah. Seperti bid’ahnya keyakinan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, dan keyakinan sekte-sekte sesat lainnya.  Kedua, bid’ah fil ibadah (bid’ah dalam ibadah). Yaitu menyembah Allah ta’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah. Disebut juga dengan bid’ah amaliyah.  Bid’ah jenis ini ada 4 macam: 1. Bid’ah yang terjadi pada ashlul ibadah (pokok ibadah). Yaitu dengan mengerjakan ibadah yang tidak ada asalnya sama sekali dari syariat. Seperti membuat shalat yang baru atau puasa yang baru atau hari raya yang baru seperti hari perayaan Maulid Nabi, yang sama sekali tidak ada asalnya dari syariat.  2. Bid’ah yang berupa penambahan pada ibadah yang disyariatkan. Seperti jika ditambahkan rakaat yang kelima pada shalat dzuhur atau ashar, dengan sengaja bukan karena lupa. 3. Bid’ah yang berupa membuat tata cara baru dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu mengerjakan ibadah dengan tata cara yang tidak disyariatkan. Contohnya seperti berdzikir dengan dzikir-dzikir yang masyru’ namun dilakukan dengan berjama’ah (bersama-sama) dan satu suara. Contoh lainnya seperti bersengaja menyusahkan diri dalam ibadah sampai keluar dari batas tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 4. Bid’ah yang berupa mengkhususkan satu waktu tertentu untuk beribadah yang disyariatkan namun penentuan waktunya tersebut tidak dikhususkan oleh syariat. Seperti mengkhususkan hari Nisfu Sya’ban untuk puasa dan shalat. Puasa dan shalat pada asalnya disyariatkan, namun ketika dikhususkan pada suatu waktu tertentu ini membutuhkan dalil.” (Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hal. 375) Bid’ah yang disebutkan pada nomor 1 disebut juga dengan bid’ah haqiqiyah. Sedangkan yang disebutkan pada nomor 2 sampai 4, disebutkan juga dengan bid’ah idhafiyah.  Semoga Allah ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk kebid’ahan dan menjadikan kita istiqomah di atas tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Kelahiran Bayi Sesuai Sunnah, Contoh Kata Kata Talak, Hukum Anak Angkat Dalam Islam, Mp3 Kajian, Arti Kalimat Ala Hadiniyah, Orang Adzan Visited 898 times, 1 visit(s) today Post Views: 468 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apa definisi bid’ah dan apa saja contoh bid’ah? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bid’ah secara bahasa Arab artinya sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Dalam kitab Maqayis al-Lughah disebutkan: الباء والدال والعين أصلان لشيئين:أحدهما: ابتداء الشيء وصنعه لا عن مثال سابق مثال، والله بديع السموات والأرض.الثاني: الانقطاع والكلال كقولهم: أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت “Terdiri dari huruf ب dan د dan ع asalnya menunjukkan dua makna: Pertama, memulai sesuatu atau membuatnya sementara belum ada hal yang semisal itu sebelumnya. sebagaimana ayat: بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah menciptakan langit dan bumi (yang sebelumnya tidak ada).” (QS. al-Baqarah: 117) Kedua, keterputusan atau berhenti karena lelah. Sebagaimana ungkapan أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت (tunggangan itu berhenti ketika lelah atau rusak).” (Maqayis al-Lughah, 1/209) Dalam kitab Lisanul ‘Arab (9/351) disebutkan: بدع الشيء يبدعه بَدْعًا وابتدعه: أنشأه وبدأه، وبدع الركيّة: استنبطها وأحدثها. والبدعة: الحدث، وما ابتدع من الدين بعد الإكمال. ابن السكيت: البدعة كلّ محدثة “Bada’asy syai’, yabda’uhu, bad’an, wab tada’ahu artinya menumbuhkan atau memulai sesuatu. Badda‘ar rakiyyah, artinya menggali sumur atau membuatnya. Al-Bid‘ah artinya hal yang baru, atau (secara istilah, pent.) segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama setelah sempurnanya. Ibnu Sukait berkata, al-bid’ah artinya segala sesuatu yang baru.” Maka secara bahasa, semua yang baru yang tidak ada sebelumnya disebut bid’ah. Contohnya seperti benda-benda modern semisal handphone, internet, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, kereta api, dan semisalnya. Namun bukan ini yang dibahas dalam bahasan bid’ah dalam syariat. Benda-benda tersebut hukum asalnya boleh digunakan dan boleh dibuat. Adapun bid’ah dalam bahasan syariat atau definisi bid’ah secara istilah syar’i, adalah semua bentuk cara beragama yang tidak ada contohnya dan tidak ada tuntunannya dari syariat. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam asy-Syathibi rahimahullah (wafat 790 H): طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية، يقصَد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه “Bid’ah adalah sebuah tata cara beragama yang diada-adakan, menyerupai syariat, dilakukan dengan maksud berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah subhanahu.” (Al-I’tisham, 1/37) Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795 H) juga menjelaskan: والمراد بالبدعة ما أحدِث مما لا أصل له في الشريعة يدلّ عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدلّ عليه فليس ببدعة شرعًا وإن كان بدعة لغة “Makna bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak ada landasan dalil dari syari’at. Sedangkan segala sesuatu yang memiliki landasan dalil dari syari’at, ia bukanlah bid’ah secara syar’i walaupun kadang termasuk bid’ah secara bahasa.” (Jami’ al-‘Ulum Wal Hikam, 265) Imam as-Suyuthi rahimahullah (wafat 911 H) juga berkata: البدعة عبارة عن فعلةٍ تصادم الشريعة بالمخالفة أو توجب التعاطي عليها بزيادة أو نقصان “Bid’ah adalah sebuah istilah untuk perbuatan yang menentang syari’at dengan menyelisihinya atau mengutak-atik syari’at dengan menambah-nambah atau mengurangi.” (Al-Amru Bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, 88) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H) juga menjelaskan: البدعة في الدين هي ما لم يشرعه الله ورسوله، وهو ما لم يأمر به أمر إيجاب ولا استحباب، فأما ما أمر به أمر إيجاب أو استحباب وعلم الأمر به بالأدلة الشرعية فهو من الدين الذي شرعه الله، وإن تنازع أولو الأمر في بعض ذلك، وسواء كان هذا مفعولاً على عهد النبي صلى الله عليه وسلم أو لم يكن “Bid’ah dalam agama adalah segala sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu perkara agama yang tidak diperintahkan dengan pewajiban atau penganjuran. Sedangkan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik dengan bentuk pewajiban atau penganjuran dan itu diketahui dari dalil-dalil syar’i, maka yang demikian merupakan bagian dari agama yang disyariatkan oleh Allah. Walaupun diperselisihkan hukumnya setelah itu, baik pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ataupun belum pernah.” (Majmu’ al-Fatawa, 4/ 107-108) Inilah bid’ah yang dilarang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. asy-Syura: 21) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867) Adapun contoh-contoh bid’ah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam Kitabut Tauhid (hal. 121-127) memberikan beberapa contoh kebid’ahan yang banyak tersebar di tengah kaum muslimin di masa ini, di antaranya: Peringatan Maulid Nabi Tabarruk (ngalap berkah) dengan tempat-tempat keramat, atau peninggalan orang shalih atau kuburan Melafalkan niat dalam ibadah Dzikir jama’i (bersama-sama) setelah shalat  Meminta orang-orang untuk membaca al-Fatihah di acara-acara atau mengirimkannya untuk orang mati Mengadakan acara makan-makan untuk memperingati orang yang meninggal  Perayaan Isra Mi’raj  Perayaan tahun baru Hijriyah  Dzikir-dzikir dengan tata cara tertentu ala kaum Sufi Puasa dan shalat di hari Nishfu Sya’ban  Membangun kuburan dan menjadikannya sebagai tempat ibadah Ziarah kubur untuk tabarruk dan tawassul Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan juga menjelaskan: “Bid’ah dalam agama dibagi menjadi dua: Pertama, bid’ah qauliyah i’tiqadiyah. Seperti bid’ahnya keyakinan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, dan keyakinan sekte-sekte sesat lainnya.  Kedua, bid’ah fil ibadah (bid’ah dalam ibadah). Yaitu menyembah Allah ta’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah. Disebut juga dengan bid’ah amaliyah.  Bid’ah jenis ini ada 4 macam: 1. Bid’ah yang terjadi pada ashlul ibadah (pokok ibadah). Yaitu dengan mengerjakan ibadah yang tidak ada asalnya sama sekali dari syariat. Seperti membuat shalat yang baru atau puasa yang baru atau hari raya yang baru seperti hari perayaan Maulid Nabi, yang sama sekali tidak ada asalnya dari syariat.  2. Bid’ah yang berupa penambahan pada ibadah yang disyariatkan. Seperti jika ditambahkan rakaat yang kelima pada shalat dzuhur atau ashar, dengan sengaja bukan karena lupa. 3. Bid’ah yang berupa membuat tata cara baru dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu mengerjakan ibadah dengan tata cara yang tidak disyariatkan. Contohnya seperti berdzikir dengan dzikir-dzikir yang masyru’ namun dilakukan dengan berjama’ah (bersama-sama) dan satu suara. Contoh lainnya seperti bersengaja menyusahkan diri dalam ibadah sampai keluar dari batas tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 4. Bid’ah yang berupa mengkhususkan satu waktu tertentu untuk beribadah yang disyariatkan namun penentuan waktunya tersebut tidak dikhususkan oleh syariat. Seperti mengkhususkan hari Nisfu Sya’ban untuk puasa dan shalat. Puasa dan shalat pada asalnya disyariatkan, namun ketika dikhususkan pada suatu waktu tertentu ini membutuhkan dalil.” (Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hal. 375) Bid’ah yang disebutkan pada nomor 1 disebut juga dengan bid’ah haqiqiyah. Sedangkan yang disebutkan pada nomor 2 sampai 4, disebutkan juga dengan bid’ah idhafiyah.  Semoga Allah ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk kebid’ahan dan menjadikan kita istiqomah di atas tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Kelahiran Bayi Sesuai Sunnah, Contoh Kata Kata Talak, Hukum Anak Angkat Dalam Islam, Mp3 Kajian, Arti Kalimat Ala Hadiniyah, Orang Adzan Visited 898 times, 1 visit(s) today Post Views: 468 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1363547248&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apa definisi bid’ah dan apa saja contoh bid’ah? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bid’ah secara bahasa Arab artinya sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Dalam kitab Maqayis al-Lughah disebutkan: الباء والدال والعين أصلان لشيئين:أحدهما: ابتداء الشيء وصنعه لا عن مثال سابق مثال، والله بديع السموات والأرض.الثاني: الانقطاع والكلال كقولهم: أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت “Terdiri dari huruf ب dan د dan ع asalnya menunjukkan dua makna: Pertama, memulai sesuatu atau membuatnya sementara belum ada hal yang semisal itu sebelumnya. sebagaimana ayat: بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah menciptakan langit dan bumi (yang sebelumnya tidak ada).” (QS. al-Baqarah: 117) Kedua, keterputusan atau berhenti karena lelah. Sebagaimana ungkapan أبدعت الراحلة إذا كلت وعطبت (tunggangan itu berhenti ketika lelah atau rusak).” (Maqayis al-Lughah, 1/209) Dalam kitab Lisanul ‘Arab (9/351) disebutkan: بدع الشيء يبدعه بَدْعًا وابتدعه: أنشأه وبدأه، وبدع الركيّة: استنبطها وأحدثها. والبدعة: الحدث، وما ابتدع من الدين بعد الإكمال. ابن السكيت: البدعة كلّ محدثة “Bada’asy syai’, yabda’uhu, bad’an, wab tada’ahu artinya menumbuhkan atau memulai sesuatu. Badda‘ar rakiyyah, artinya menggali sumur atau membuatnya. Al-Bid‘ah artinya hal yang baru, atau (secara istilah, pent.) segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama setelah sempurnanya. Ibnu Sukait berkata, al-bid’ah artinya segala sesuatu yang baru.” Maka secara bahasa, semua yang baru yang tidak ada sebelumnya disebut bid’ah. Contohnya seperti benda-benda modern semisal handphone, internet, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, kereta api, dan semisalnya. Namun bukan ini yang dibahas dalam bahasan bid’ah dalam syariat. Benda-benda tersebut hukum asalnya boleh digunakan dan boleh dibuat. Adapun bid’ah dalam bahasan syariat atau definisi bid’ah secara istilah syar’i, adalah semua bentuk cara beragama yang tidak ada contohnya dan tidak ada tuntunannya dari syariat. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam asy-Syathibi rahimahullah (wafat 790 H): طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية، يقصَد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه “Bid’ah adalah sebuah tata cara beragama yang diada-adakan, menyerupai syariat, dilakukan dengan maksud berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah subhanahu.” (Al-I’tisham, 1/37) Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795 H) juga menjelaskan: والمراد بالبدعة ما أحدِث مما لا أصل له في الشريعة يدلّ عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدلّ عليه فليس ببدعة شرعًا وإن كان بدعة لغة “Makna bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak ada landasan dalil dari syari’at. Sedangkan segala sesuatu yang memiliki landasan dalil dari syari’at, ia bukanlah bid’ah secara syar’i walaupun kadang termasuk bid’ah secara bahasa.” (Jami’ al-‘Ulum Wal Hikam, 265) Imam as-Suyuthi rahimahullah (wafat 911 H) juga berkata: البدعة عبارة عن فعلةٍ تصادم الشريعة بالمخالفة أو توجب التعاطي عليها بزيادة أو نقصان “Bid’ah adalah sebuah istilah untuk perbuatan yang menentang syari’at dengan menyelisihinya atau mengutak-atik syari’at dengan menambah-nambah atau mengurangi.” (Al-Amru Bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, 88) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H) juga menjelaskan: البدعة في الدين هي ما لم يشرعه الله ورسوله، وهو ما لم يأمر به أمر إيجاب ولا استحباب، فأما ما أمر به أمر إيجاب أو استحباب وعلم الأمر به بالأدلة الشرعية فهو من الدين الذي شرعه الله، وإن تنازع أولو الأمر في بعض ذلك، وسواء كان هذا مفعولاً على عهد النبي صلى الله عليه وسلم أو لم يكن “Bid’ah dalam agama adalah segala sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu perkara agama yang tidak diperintahkan dengan pewajiban atau penganjuran. Sedangkan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik dengan bentuk pewajiban atau penganjuran dan itu diketahui dari dalil-dalil syar’i, maka yang demikian merupakan bagian dari agama yang disyariatkan oleh Allah. Walaupun diperselisihkan hukumnya setelah itu, baik pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ataupun belum pernah.” (Majmu’ al-Fatawa, 4/ 107-108) Inilah bid’ah yang dilarang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. asy-Syura: 21) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867) Adapun contoh-contoh bid’ah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam Kitabut Tauhid (hal. 121-127) memberikan beberapa contoh kebid’ahan yang banyak tersebar di tengah kaum muslimin di masa ini, di antaranya: Peringatan Maulid Nabi Tabarruk (ngalap berkah) dengan tempat-tempat keramat, atau peninggalan orang shalih atau kuburan Melafalkan niat dalam ibadah Dzikir jama’i (bersama-sama) setelah shalat  Meminta orang-orang untuk membaca al-Fatihah di acara-acara atau mengirimkannya untuk orang mati Mengadakan acara makan-makan untuk memperingati orang yang meninggal  Perayaan Isra Mi’raj  Perayaan tahun baru Hijriyah  Dzikir-dzikir dengan tata cara tertentu ala kaum Sufi Puasa dan shalat di hari Nishfu Sya’ban  Membangun kuburan dan menjadikannya sebagai tempat ibadah Ziarah kubur untuk tabarruk dan tawassul Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan juga menjelaskan: “Bid’ah dalam agama dibagi menjadi dua: Pertama, bid’ah qauliyah i’tiqadiyah. Seperti bid’ahnya keyakinan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, dan keyakinan sekte-sekte sesat lainnya.  Kedua, bid’ah fil ibadah (bid’ah dalam ibadah). Yaitu menyembah Allah ta’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah. Disebut juga dengan bid’ah amaliyah.  Bid’ah jenis ini ada 4 macam: 1. Bid’ah yang terjadi pada ashlul ibadah (pokok ibadah). Yaitu dengan mengerjakan ibadah yang tidak ada asalnya sama sekali dari syariat. Seperti membuat shalat yang baru atau puasa yang baru atau hari raya yang baru seperti hari perayaan Maulid Nabi, yang sama sekali tidak ada asalnya dari syariat.  2. Bid’ah yang berupa penambahan pada ibadah yang disyariatkan. Seperti jika ditambahkan rakaat yang kelima pada shalat dzuhur atau ashar, dengan sengaja bukan karena lupa. 3. Bid’ah yang berupa membuat tata cara baru dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu mengerjakan ibadah dengan tata cara yang tidak disyariatkan. Contohnya seperti berdzikir dengan dzikir-dzikir yang masyru’ namun dilakukan dengan berjama’ah (bersama-sama) dan satu suara. Contoh lainnya seperti bersengaja menyusahkan diri dalam ibadah sampai keluar dari batas tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 4. Bid’ah yang berupa mengkhususkan satu waktu tertentu untuk beribadah yang disyariatkan namun penentuan waktunya tersebut tidak dikhususkan oleh syariat. Seperti mengkhususkan hari Nisfu Sya’ban untuk puasa dan shalat. Puasa dan shalat pada asalnya disyariatkan, namun ketika dikhususkan pada suatu waktu tertentu ini membutuhkan dalil.” (Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hal. 375) Bid’ah yang disebutkan pada nomor 1 disebut juga dengan bid’ah haqiqiyah. Sedangkan yang disebutkan pada nomor 2 sampai 4, disebutkan juga dengan bid’ah idhafiyah.  Semoga Allah ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk kebid’ahan dan menjadikan kita istiqomah di atas tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Kelahiran Bayi Sesuai Sunnah, Contoh Kata Kata Talak, Hukum Anak Angkat Dalam Islam, Mp3 Kajian, Arti Kalimat Ala Hadiniyah, Orang Adzan Visited 898 times, 1 visit(s) today Post Views: 468 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Memfoto Khatib ketika Khutbah Jumat

السؤال فضيلة الشيخ وفقكم الله هذا سائل يقول: شخص يقوم  بتصوير الخطيب في خطبة الجمعة هل فعله هذا جائز شرعا من ناحية الإنصات وعدم الانشغال؟ Pertanyaan: Wahai syeikh yang mulia, semoga Allah memberikan Anda taufik. Penanya bertanya, “Seseorang memfoto khatib ketika khutbah Jumat. Apakah perbuatan ini boleh secara syariat dari sisi perintah untuk diam dan tidak sibuk sendiri?” الاحابة لا يجوز لهم ذلك، الحركة وقت الخطبة لا تجوز إلا  للضرورة، التحرك للضرورة لا بأس أما التحرك من غير الضرورة في وقت الخطبة لا يجوز لأن المطلوب الإنصات والإقبال على سماع الخطبة نعم. Jawaban: Tidak boleh dilakukan. Gerakan saat khutbah tidak boleh, kecuali alasan darurat. Bergerak karena alasan darurat tidak mengapa, adapun tanpa alasan darurat ketika khutbah berlangsung, tidak boleh, karena kita diperintahkan untuk diam dan fokus menyimak khutbah. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى 📕 #المنتقى من أخبار المصطفى لمجد الدين ابن تيمية رحمه الله/ السبت/٢١- جمادي الآخرة -١٤٤١هـ Sumber: Pelajaran kitab al-Muntaqā min Aẖbār al-Musṭafā karya syeikh Majduddin ibn Taimiyyah raẖimahullāhu ta’āla. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18355 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Qudsi Adalah, Tugas Nabi Khidir, Hadiah Al Fatihah, Tangan Berdoa Islam, Misanan Adalah, Nyusu Pacar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid

Hukum Memfoto Khatib ketika Khutbah Jumat

السؤال فضيلة الشيخ وفقكم الله هذا سائل يقول: شخص يقوم  بتصوير الخطيب في خطبة الجمعة هل فعله هذا جائز شرعا من ناحية الإنصات وعدم الانشغال؟ Pertanyaan: Wahai syeikh yang mulia, semoga Allah memberikan Anda taufik. Penanya bertanya, “Seseorang memfoto khatib ketika khutbah Jumat. Apakah perbuatan ini boleh secara syariat dari sisi perintah untuk diam dan tidak sibuk sendiri?” الاحابة لا يجوز لهم ذلك، الحركة وقت الخطبة لا تجوز إلا  للضرورة، التحرك للضرورة لا بأس أما التحرك من غير الضرورة في وقت الخطبة لا يجوز لأن المطلوب الإنصات والإقبال على سماع الخطبة نعم. Jawaban: Tidak boleh dilakukan. Gerakan saat khutbah tidak boleh, kecuali alasan darurat. Bergerak karena alasan darurat tidak mengapa, adapun tanpa alasan darurat ketika khutbah berlangsung, tidak boleh, karena kita diperintahkan untuk diam dan fokus menyimak khutbah. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى 📕 #المنتقى من أخبار المصطفى لمجد الدين ابن تيمية رحمه الله/ السبت/٢١- جمادي الآخرة -١٤٤١هـ Sumber: Pelajaran kitab al-Muntaqā min Aẖbār al-Musṭafā karya syeikh Majduddin ibn Taimiyyah raẖimahullāhu ta’āla. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18355 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Qudsi Adalah, Tugas Nabi Khidir, Hadiah Al Fatihah, Tangan Berdoa Islam, Misanan Adalah, Nyusu Pacar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid
السؤال فضيلة الشيخ وفقكم الله هذا سائل يقول: شخص يقوم  بتصوير الخطيب في خطبة الجمعة هل فعله هذا جائز شرعا من ناحية الإنصات وعدم الانشغال؟ Pertanyaan: Wahai syeikh yang mulia, semoga Allah memberikan Anda taufik. Penanya bertanya, “Seseorang memfoto khatib ketika khutbah Jumat. Apakah perbuatan ini boleh secara syariat dari sisi perintah untuk diam dan tidak sibuk sendiri?” الاحابة لا يجوز لهم ذلك، الحركة وقت الخطبة لا تجوز إلا  للضرورة، التحرك للضرورة لا بأس أما التحرك من غير الضرورة في وقت الخطبة لا يجوز لأن المطلوب الإنصات والإقبال على سماع الخطبة نعم. Jawaban: Tidak boleh dilakukan. Gerakan saat khutbah tidak boleh, kecuali alasan darurat. Bergerak karena alasan darurat tidak mengapa, adapun tanpa alasan darurat ketika khutbah berlangsung, tidak boleh, karena kita diperintahkan untuk diam dan fokus menyimak khutbah. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى 📕 #المنتقى من أخبار المصطفى لمجد الدين ابن تيمية رحمه الله/ السبت/٢١- جمادي الآخرة -١٤٤١هـ Sumber: Pelajaran kitab al-Muntaqā min Aẖbār al-Musṭafā karya syeikh Majduddin ibn Taimiyyah raẖimahullāhu ta’āla. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18355 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Qudsi Adalah, Tugas Nabi Khidir, Hadiah Al Fatihah, Tangan Berdoa Islam, Misanan Adalah, Nyusu Pacar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1382105029&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> السؤال فضيلة الشيخ وفقكم الله هذا سائل يقول: شخص يقوم  بتصوير الخطيب في خطبة الجمعة هل فعله هذا جائز شرعا من ناحية الإنصات وعدم الانشغال؟ Pertanyaan: Wahai syeikh yang mulia, semoga Allah memberikan Anda taufik. Penanya bertanya, “Seseorang memfoto khatib ketika khutbah Jumat. Apakah perbuatan ini boleh secara syariat dari sisi perintah untuk diam dan tidak sibuk sendiri?” الاحابة لا يجوز لهم ذلك، الحركة وقت الخطبة لا تجوز إلا  للضرورة، التحرك للضرورة لا بأس أما التحرك من غير الضرورة في وقت الخطبة لا يجوز لأن المطلوب الإنصات والإقبال على سماع الخطبة نعم. Jawaban: Tidak boleh dilakukan. Gerakan saat khutbah tidak boleh, kecuali alasan darurat. Bergerak karena alasan darurat tidak mengapa, adapun tanpa alasan darurat ketika khutbah berlangsung, tidak boleh, karena kita diperintahkan untuk diam dan fokus menyimak khutbah. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى 📕 #المنتقى من أخبار المصطفى لمجد الدين ابن تيمية رحمه الله/ السبت/٢١- جمادي الآخرة -١٤٤١هـ Sumber: Pelajaran kitab al-Muntaqā min Aẖbār al-Musṭafā karya syeikh Majduddin ibn Taimiyyah raẖimahullāhu ta’āla. https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18355 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Qudsi Adalah, Tugas Nabi Khidir, Hadiah Al Fatihah, Tangan Berdoa Islam, Misanan Adalah, Nyusu Pacar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Tawasul dengan Kedudukan Nabi? – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apa hukum bertawasul dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Apakah benar bahwa tawasul dibolehkan,dan tidak ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah? Saya tidak tahu, apakah kamu sudah membaca seluruh pendapat para ulama,sehingga kamu dapat berkata bahwa tidak ada yang menyelisihi hal itu, kecuali Syaikhul Islam? Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka berdoalah dengan menyebutnya.” (QS. Al-A’raf: 180) Jadi, berdoa hanya dengan kedudukan Allah yang ditujukan kepada-Nya.Adapun meminta doa dari orang yang masih hidup yang kamu kiraakan berdoa untukmu, maka itu tidak mengapa dilakukan. Sedangkan meminta doa dari orang yang telah wafat, maka itu tidak boleh.Tidak ada orang yang boleh berdoa, “Aku memohon kepada Engkau dengan perantara kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Allah telah berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma al-Husna …” Namun ada orang yang berpaling dari ayat ini,ia berkata, “Ini berkat kedudukan Nabi.” Allah juga berfirman, “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah.” (QS. Al-Anbiya: 28)Apakah kita tahu—wahai Penanya—bahwa Allah meridaiku untuk mendapat syafaat dari Nabi? Hendaklah setiap orang beradab yang baik terhadap doa,dan beradab yang baik terhadap hal yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Jalla wa ‘Ala,serta beradab yang baik juga terhadap kedudukan Nabi. Saat ada sahabat yang berkata, “Ini kehendak Allah dan engkau (Nabi),” beliau bersabda, “Tidak!Apakah kamu menjadikanku tandingan bagi Allah?Namun yang benar adalah ‘Ini kehendak Allah semata’.”Demikian. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ التَّوَسُّلِ بِجَاهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ وَهَلْ صَحِيحٌ أَنَّ التَّوَسُّلَ جَائِزٌ وَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ؟ مَا أَدْرِي هَلْ أَنْتَ اِطَّلَعْتَ عَلَى جَمِيعِ أَهْلِ الْعِلْمِ كَلَامَهُمْ حَتَّى تَقُوْلَ لَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ؟ اللهُ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا فَالدُّعَاءُ إِنَّمَا يَكُونُ بِوَجْهِهِ إِلَى اللهِ وَأَمَّا أَنْ يُطْلَبَ مِنَ الْحَيِّ الَّذِي يُحْسَنُ بِهِ الظَّنُّ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ هَذَا لَا حَرَجَ فِيْهِ وَأَمَّا الْأَمْوَاتُ فَلَا وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ أَسْأَلُكَ بِجَاهِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللهُ يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ وَالْوَاحِدُ يُعْرِضُ عَنِ الْآيَةِ وَيَقُولُ هَذِهِ مِنْ جَاهِ النَّبِيِّ وَاللهُ يَقُولُ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى هَل نَعْلَمُ أَنَّ اللهَ ارْتَضَى لِي أَنَا يَا هَذَا السَّائِلُ أَنَّهُ يَشْفَعُ لِي النَّبِيُّ؟ لَا بُدَّ أَنَّ الْوَاحِدَ يَتَأَدَّبُ مَعَ الْأَدْعِيَةِ وَيَتَأَدَّبُ مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَسْمَاءِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَصِفَاتِهِ وَيَتَأَدَّبُ أَيْضًا مَعَ مَقَامِ النَّبِيِّ لَمَّا قَالَ الْوَاحِدُ مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ قَالَ لَا أَجَعَلْتَنِي لِلهِ نِدًّا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bolehkah Tawasul dengan Kedudukan Nabi? – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apa hukum bertawasul dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Apakah benar bahwa tawasul dibolehkan,dan tidak ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah? Saya tidak tahu, apakah kamu sudah membaca seluruh pendapat para ulama,sehingga kamu dapat berkata bahwa tidak ada yang menyelisihi hal itu, kecuali Syaikhul Islam? Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka berdoalah dengan menyebutnya.” (QS. Al-A’raf: 180) Jadi, berdoa hanya dengan kedudukan Allah yang ditujukan kepada-Nya.Adapun meminta doa dari orang yang masih hidup yang kamu kiraakan berdoa untukmu, maka itu tidak mengapa dilakukan. Sedangkan meminta doa dari orang yang telah wafat, maka itu tidak boleh.Tidak ada orang yang boleh berdoa, “Aku memohon kepada Engkau dengan perantara kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Allah telah berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma al-Husna …” Namun ada orang yang berpaling dari ayat ini,ia berkata, “Ini berkat kedudukan Nabi.” Allah juga berfirman, “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah.” (QS. Al-Anbiya: 28)Apakah kita tahu—wahai Penanya—bahwa Allah meridaiku untuk mendapat syafaat dari Nabi? Hendaklah setiap orang beradab yang baik terhadap doa,dan beradab yang baik terhadap hal yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Jalla wa ‘Ala,serta beradab yang baik juga terhadap kedudukan Nabi. Saat ada sahabat yang berkata, “Ini kehendak Allah dan engkau (Nabi),” beliau bersabda, “Tidak!Apakah kamu menjadikanku tandingan bagi Allah?Namun yang benar adalah ‘Ini kehendak Allah semata’.”Demikian. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ التَّوَسُّلِ بِجَاهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ وَهَلْ صَحِيحٌ أَنَّ التَّوَسُّلَ جَائِزٌ وَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ؟ مَا أَدْرِي هَلْ أَنْتَ اِطَّلَعْتَ عَلَى جَمِيعِ أَهْلِ الْعِلْمِ كَلَامَهُمْ حَتَّى تَقُوْلَ لَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ؟ اللهُ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا فَالدُّعَاءُ إِنَّمَا يَكُونُ بِوَجْهِهِ إِلَى اللهِ وَأَمَّا أَنْ يُطْلَبَ مِنَ الْحَيِّ الَّذِي يُحْسَنُ بِهِ الظَّنُّ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ هَذَا لَا حَرَجَ فِيْهِ وَأَمَّا الْأَمْوَاتُ فَلَا وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ أَسْأَلُكَ بِجَاهِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللهُ يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ وَالْوَاحِدُ يُعْرِضُ عَنِ الْآيَةِ وَيَقُولُ هَذِهِ مِنْ جَاهِ النَّبِيِّ وَاللهُ يَقُولُ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى هَل نَعْلَمُ أَنَّ اللهَ ارْتَضَى لِي أَنَا يَا هَذَا السَّائِلُ أَنَّهُ يَشْفَعُ لِي النَّبِيُّ؟ لَا بُدَّ أَنَّ الْوَاحِدَ يَتَأَدَّبُ مَعَ الْأَدْعِيَةِ وَيَتَأَدَّبُ مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَسْمَاءِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَصِفَاتِهِ وَيَتَأَدَّبُ أَيْضًا مَعَ مَقَامِ النَّبِيِّ لَمَّا قَالَ الْوَاحِدُ مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ قَالَ لَا أَجَعَلْتَنِي لِلهِ نِدًّا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apa hukum bertawasul dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Apakah benar bahwa tawasul dibolehkan,dan tidak ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah? Saya tidak tahu, apakah kamu sudah membaca seluruh pendapat para ulama,sehingga kamu dapat berkata bahwa tidak ada yang menyelisihi hal itu, kecuali Syaikhul Islam? Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka berdoalah dengan menyebutnya.” (QS. Al-A’raf: 180) Jadi, berdoa hanya dengan kedudukan Allah yang ditujukan kepada-Nya.Adapun meminta doa dari orang yang masih hidup yang kamu kiraakan berdoa untukmu, maka itu tidak mengapa dilakukan. Sedangkan meminta doa dari orang yang telah wafat, maka itu tidak boleh.Tidak ada orang yang boleh berdoa, “Aku memohon kepada Engkau dengan perantara kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Allah telah berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma al-Husna …” Namun ada orang yang berpaling dari ayat ini,ia berkata, “Ini berkat kedudukan Nabi.” Allah juga berfirman, “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah.” (QS. Al-Anbiya: 28)Apakah kita tahu—wahai Penanya—bahwa Allah meridaiku untuk mendapat syafaat dari Nabi? Hendaklah setiap orang beradab yang baik terhadap doa,dan beradab yang baik terhadap hal yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Jalla wa ‘Ala,serta beradab yang baik juga terhadap kedudukan Nabi. Saat ada sahabat yang berkata, “Ini kehendak Allah dan engkau (Nabi),” beliau bersabda, “Tidak!Apakah kamu menjadikanku tandingan bagi Allah?Namun yang benar adalah ‘Ini kehendak Allah semata’.”Demikian. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ التَّوَسُّلِ بِجَاهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ وَهَلْ صَحِيحٌ أَنَّ التَّوَسُّلَ جَائِزٌ وَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ؟ مَا أَدْرِي هَلْ أَنْتَ اِطَّلَعْتَ عَلَى جَمِيعِ أَهْلِ الْعِلْمِ كَلَامَهُمْ حَتَّى تَقُوْلَ لَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ؟ اللهُ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا فَالدُّعَاءُ إِنَّمَا يَكُونُ بِوَجْهِهِ إِلَى اللهِ وَأَمَّا أَنْ يُطْلَبَ مِنَ الْحَيِّ الَّذِي يُحْسَنُ بِهِ الظَّنُّ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ هَذَا لَا حَرَجَ فِيْهِ وَأَمَّا الْأَمْوَاتُ فَلَا وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ أَسْأَلُكَ بِجَاهِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللهُ يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ وَالْوَاحِدُ يُعْرِضُ عَنِ الْآيَةِ وَيَقُولُ هَذِهِ مِنْ جَاهِ النَّبِيِّ وَاللهُ يَقُولُ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى هَل نَعْلَمُ أَنَّ اللهَ ارْتَضَى لِي أَنَا يَا هَذَا السَّائِلُ أَنَّهُ يَشْفَعُ لِي النَّبِيُّ؟ لَا بُدَّ أَنَّ الْوَاحِدَ يَتَأَدَّبُ مَعَ الْأَدْعِيَةِ وَيَتَأَدَّبُ مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَسْمَاءِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَصِفَاتِهِ وَيَتَأَدَّبُ أَيْضًا مَعَ مَقَامِ النَّبِيِّ لَمَّا قَالَ الْوَاحِدُ مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ قَالَ لَا أَجَعَلْتَنِي لِلهِ نِدًّا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apa hukum bertawasul dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Apakah benar bahwa tawasul dibolehkan,dan tidak ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah? Saya tidak tahu, apakah kamu sudah membaca seluruh pendapat para ulama,sehingga kamu dapat berkata bahwa tidak ada yang menyelisihi hal itu, kecuali Syaikhul Islam? Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka berdoalah dengan menyebutnya.” (QS. Al-A’raf: 180) Jadi, berdoa hanya dengan kedudukan Allah yang ditujukan kepada-Nya.Adapun meminta doa dari orang yang masih hidup yang kamu kiraakan berdoa untukmu, maka itu tidak mengapa dilakukan. Sedangkan meminta doa dari orang yang telah wafat, maka itu tidak boleh.Tidak ada orang yang boleh berdoa, “Aku memohon kepada Engkau dengan perantara kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Allah telah berfirman, “Hanya milik Allah al-Asma al-Husna …” Namun ada orang yang berpaling dari ayat ini,ia berkata, “Ini berkat kedudukan Nabi.” Allah juga berfirman, “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah.” (QS. Al-Anbiya: 28)Apakah kita tahu—wahai Penanya—bahwa Allah meridaiku untuk mendapat syafaat dari Nabi? Hendaklah setiap orang beradab yang baik terhadap doa,dan beradab yang baik terhadap hal yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Jalla wa ‘Ala,serta beradab yang baik juga terhadap kedudukan Nabi. Saat ada sahabat yang berkata, “Ini kehendak Allah dan engkau (Nabi),” beliau bersabda, “Tidak!Apakah kamu menjadikanku tandingan bagi Allah?Namun yang benar adalah ‘Ini kehendak Allah semata’.”Demikian. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ التَّوَسُّلِ بِجَاهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ وَهَلْ صَحِيحٌ أَنَّ التَّوَسُّلَ جَائِزٌ وَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ؟ مَا أَدْرِي هَلْ أَنْتَ اِطَّلَعْتَ عَلَى جَمِيعِ أَهْلِ الْعِلْمِ كَلَامَهُمْ حَتَّى تَقُوْلَ لَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا شَيْخُ الْإِسْلَامِ؟ اللهُ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا فَالدُّعَاءُ إِنَّمَا يَكُونُ بِوَجْهِهِ إِلَى اللهِ وَأَمَّا أَنْ يُطْلَبَ مِنَ الْحَيِّ الَّذِي يُحْسَنُ بِهِ الظَّنُّ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ هَذَا لَا حَرَجَ فِيْهِ وَأَمَّا الْأَمْوَاتُ فَلَا وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ أَسْأَلُكَ بِجَاهِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللهُ يَقُولُ وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ وَالْوَاحِدُ يُعْرِضُ عَنِ الْآيَةِ وَيَقُولُ هَذِهِ مِنْ جَاهِ النَّبِيِّ وَاللهُ يَقُولُ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى هَل نَعْلَمُ أَنَّ اللهَ ارْتَضَى لِي أَنَا يَا هَذَا السَّائِلُ أَنَّهُ يَشْفَعُ لِي النَّبِيُّ؟ لَا بُدَّ أَنَّ الْوَاحِدَ يَتَأَدَّبُ مَعَ الْأَدْعِيَةِ وَيَتَأَدَّبُ مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَسْمَاءِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَصِفَاتِهِ وَيَتَأَدَّبُ أَيْضًا مَعَ مَقَامِ النَّبِيِّ لَمَّا قَالَ الْوَاحِدُ مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ قَالَ لَا أَجَعَلْتَنِي لِلهِ نِدًّا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ciri-ciri Istri Salihah – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

Baik. Bab Membuat Suami Marah.Allah Jalla wa ‘Ala menetapkan hak-hak bagi istri yang harus ditunaikan suaminya,dengan berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An-Nisa: 19)“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang baik. Dan para suami memiliki hak setingkat lebih tinggi yang harus ditunaikan para istri.” (QS. Al-Baqarah: 228)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berwasiat untuk berbuat baik kepada para wanita. Dan suami memiliki hak atas istrinya melebihi hak istri atas suami.Di antaranya adalahistri wajib menghormati suamidan menaatinya dalam perkara yang tidak berupa kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (فَالصَّالِحَاتُ) Yakni para istri salihah.(قَانِتَاتٌ) kata ini sebagai khabar mubtada’(فَالصَّالِحَاتُ) adalah mubtada’ dan (قَانِتَاتٌ) (adalah khabarnya).“Maka para salihat yang qanitat …”Yakni para istri salihah yang taat kepada suami mereka. Yakni pertama mereka taat kepada Allah, taat juga kepada suami mereka.Jadi, kata (الْقُنُوْتُ) dalam ayat ini maknanya taat.Yakni para wanita salihah yang qanitat, yaitu yang taat kepada Allah Jalla wa ‘Aladan taat kepada suami mereka,dan senantiasa dalam keadaan taat. “… yang menjaga kehormatan saat sendiri karena Allah menjaga mereka …” (QS. An-Nisa: 34)Yakni para istri yang menjaga diri jika suami mereka tidak ada di sisi mereka.Para wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya, hingga suaminya pulang. Pendapat lain mengatakan makna (حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ) yakni para wanita yang menjaga rahasia yang ada di antara dirinya dengan suaminya.Inilah sifat-sifat agungyang wajib dimiliki oleh seorang istri dalam berinteraksi dengan suaminya. Demikian. ==== نَعَمْ بَابُ إِغْضَابِ الزَّوْجِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا جَعَلَ لِلزَّوْجَةِ حُقُوقًا عَلَى زَوْجِهَا قَالَ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِالنِّسَاءِ وَالرَّجُلُ لَهُ حَقٌّ عَلَى زَوْجَتِهِ أَكْثَرُ مِنْ حَقِّهَا عَلَيْهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهَا تَحْتَرِمُهُ وَتُطِيْعُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالصَّالِحَاتُ النِّسَاءُ الصَّالِحَاتُ حَافِظَاتٌ (قَانِتَاتٌ) هَذَا خَبَرُ الْمُبْتَدَأ فَالصَّالِحَاتُ هَذَا مُبْتَدَأٌ قَانِتَاتٌ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ مُطِيعَةٌ لِلهِ أَوَّلًا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ فَالْقُنُوْتُ هُنَا المُرَادُ بِهِ الطَّاعَةُ الصَّالِحَاتُ مِنَ النِّسَاءِ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ لِلهِ جَلَّ وَعَلَا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ وَيُدَاوِمْنَ عَلَى ذَلِكَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ حَافِظَاتٌ إِذَا غَابَ أَزْوَاجُهُنَّ عَنْهُنَّ حَافِظَاتٌ فِي نَفْسِهَا وَفِي مَالِهِ حَتَّى يَرْجِعَ وَقِيْلَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ أَيْ حَافِظَاتٌ لِلسِّرِّ الَّذِي بَيْنَهَا وَبَيْنَ زَوْجِهَا هَذِهِ صِفَاتٌ عَظِيمَةٌ يَجِبُ عَلَى الزَّوْجَةِ أَنْ تَتَحَلَّى بِهَا مَعَ زَوْجِهَا نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ciri-ciri Istri Salihah – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

Baik. Bab Membuat Suami Marah.Allah Jalla wa ‘Ala menetapkan hak-hak bagi istri yang harus ditunaikan suaminya,dengan berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An-Nisa: 19)“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang baik. Dan para suami memiliki hak setingkat lebih tinggi yang harus ditunaikan para istri.” (QS. Al-Baqarah: 228)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berwasiat untuk berbuat baik kepada para wanita. Dan suami memiliki hak atas istrinya melebihi hak istri atas suami.Di antaranya adalahistri wajib menghormati suamidan menaatinya dalam perkara yang tidak berupa kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (فَالصَّالِحَاتُ) Yakni para istri salihah.(قَانِتَاتٌ) kata ini sebagai khabar mubtada’(فَالصَّالِحَاتُ) adalah mubtada’ dan (قَانِتَاتٌ) (adalah khabarnya).“Maka para salihat yang qanitat …”Yakni para istri salihah yang taat kepada suami mereka. Yakni pertama mereka taat kepada Allah, taat juga kepada suami mereka.Jadi, kata (الْقُنُوْتُ) dalam ayat ini maknanya taat.Yakni para wanita salihah yang qanitat, yaitu yang taat kepada Allah Jalla wa ‘Aladan taat kepada suami mereka,dan senantiasa dalam keadaan taat. “… yang menjaga kehormatan saat sendiri karena Allah menjaga mereka …” (QS. An-Nisa: 34)Yakni para istri yang menjaga diri jika suami mereka tidak ada di sisi mereka.Para wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya, hingga suaminya pulang. Pendapat lain mengatakan makna (حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ) yakni para wanita yang menjaga rahasia yang ada di antara dirinya dengan suaminya.Inilah sifat-sifat agungyang wajib dimiliki oleh seorang istri dalam berinteraksi dengan suaminya. Demikian. ==== نَعَمْ بَابُ إِغْضَابِ الزَّوْجِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا جَعَلَ لِلزَّوْجَةِ حُقُوقًا عَلَى زَوْجِهَا قَالَ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِالنِّسَاءِ وَالرَّجُلُ لَهُ حَقٌّ عَلَى زَوْجَتِهِ أَكْثَرُ مِنْ حَقِّهَا عَلَيْهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهَا تَحْتَرِمُهُ وَتُطِيْعُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالصَّالِحَاتُ النِّسَاءُ الصَّالِحَاتُ حَافِظَاتٌ (قَانِتَاتٌ) هَذَا خَبَرُ الْمُبْتَدَأ فَالصَّالِحَاتُ هَذَا مُبْتَدَأٌ قَانِتَاتٌ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ مُطِيعَةٌ لِلهِ أَوَّلًا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ فَالْقُنُوْتُ هُنَا المُرَادُ بِهِ الطَّاعَةُ الصَّالِحَاتُ مِنَ النِّسَاءِ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ لِلهِ جَلَّ وَعَلَا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ وَيُدَاوِمْنَ عَلَى ذَلِكَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ حَافِظَاتٌ إِذَا غَابَ أَزْوَاجُهُنَّ عَنْهُنَّ حَافِظَاتٌ فِي نَفْسِهَا وَفِي مَالِهِ حَتَّى يَرْجِعَ وَقِيْلَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ أَيْ حَافِظَاتٌ لِلسِّرِّ الَّذِي بَيْنَهَا وَبَيْنَ زَوْجِهَا هَذِهِ صِفَاتٌ عَظِيمَةٌ يَجِبُ عَلَى الزَّوْجَةِ أَنْ تَتَحَلَّى بِهَا مَعَ زَوْجِهَا نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Baik. Bab Membuat Suami Marah.Allah Jalla wa ‘Ala menetapkan hak-hak bagi istri yang harus ditunaikan suaminya,dengan berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An-Nisa: 19)“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang baik. Dan para suami memiliki hak setingkat lebih tinggi yang harus ditunaikan para istri.” (QS. Al-Baqarah: 228)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berwasiat untuk berbuat baik kepada para wanita. Dan suami memiliki hak atas istrinya melebihi hak istri atas suami.Di antaranya adalahistri wajib menghormati suamidan menaatinya dalam perkara yang tidak berupa kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (فَالصَّالِحَاتُ) Yakni para istri salihah.(قَانِتَاتٌ) kata ini sebagai khabar mubtada’(فَالصَّالِحَاتُ) adalah mubtada’ dan (قَانِتَاتٌ) (adalah khabarnya).“Maka para salihat yang qanitat …”Yakni para istri salihah yang taat kepada suami mereka. Yakni pertama mereka taat kepada Allah, taat juga kepada suami mereka.Jadi, kata (الْقُنُوْتُ) dalam ayat ini maknanya taat.Yakni para wanita salihah yang qanitat, yaitu yang taat kepada Allah Jalla wa ‘Aladan taat kepada suami mereka,dan senantiasa dalam keadaan taat. “… yang menjaga kehormatan saat sendiri karena Allah menjaga mereka …” (QS. An-Nisa: 34)Yakni para istri yang menjaga diri jika suami mereka tidak ada di sisi mereka.Para wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya, hingga suaminya pulang. Pendapat lain mengatakan makna (حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ) yakni para wanita yang menjaga rahasia yang ada di antara dirinya dengan suaminya.Inilah sifat-sifat agungyang wajib dimiliki oleh seorang istri dalam berinteraksi dengan suaminya. Demikian. ==== نَعَمْ بَابُ إِغْضَابِ الزَّوْجِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا جَعَلَ لِلزَّوْجَةِ حُقُوقًا عَلَى زَوْجِهَا قَالَ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِالنِّسَاءِ وَالرَّجُلُ لَهُ حَقٌّ عَلَى زَوْجَتِهِ أَكْثَرُ مِنْ حَقِّهَا عَلَيْهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهَا تَحْتَرِمُهُ وَتُطِيْعُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالصَّالِحَاتُ النِّسَاءُ الصَّالِحَاتُ حَافِظَاتٌ (قَانِتَاتٌ) هَذَا خَبَرُ الْمُبْتَدَأ فَالصَّالِحَاتُ هَذَا مُبْتَدَأٌ قَانِتَاتٌ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ مُطِيعَةٌ لِلهِ أَوَّلًا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ فَالْقُنُوْتُ هُنَا المُرَادُ بِهِ الطَّاعَةُ الصَّالِحَاتُ مِنَ النِّسَاءِ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ لِلهِ جَلَّ وَعَلَا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ وَيُدَاوِمْنَ عَلَى ذَلِكَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ حَافِظَاتٌ إِذَا غَابَ أَزْوَاجُهُنَّ عَنْهُنَّ حَافِظَاتٌ فِي نَفْسِهَا وَفِي مَالِهِ حَتَّى يَرْجِعَ وَقِيْلَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ أَيْ حَافِظَاتٌ لِلسِّرِّ الَّذِي بَيْنَهَا وَبَيْنَ زَوْجِهَا هَذِهِ صِفَاتٌ عَظِيمَةٌ يَجِبُ عَلَى الزَّوْجَةِ أَنْ تَتَحَلَّى بِهَا مَعَ زَوْجِهَا نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Baik. Bab Membuat Suami Marah.Allah Jalla wa ‘Ala menetapkan hak-hak bagi istri yang harus ditunaikan suaminya,dengan berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An-Nisa: 19)“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang baik. Dan para suami memiliki hak setingkat lebih tinggi yang harus ditunaikan para istri.” (QS. Al-Baqarah: 228)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berwasiat untuk berbuat baik kepada para wanita. Dan suami memiliki hak atas istrinya melebihi hak istri atas suami.Di antaranya adalahistri wajib menghormati suamidan menaatinya dalam perkara yang tidak berupa kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (فَالصَّالِحَاتُ) Yakni para istri salihah.(قَانِتَاتٌ) kata ini sebagai khabar mubtada’(فَالصَّالِحَاتُ) adalah mubtada’ dan (قَانِتَاتٌ) (adalah khabarnya).“Maka para salihat yang qanitat …”Yakni para istri salihah yang taat kepada suami mereka. Yakni pertama mereka taat kepada Allah, taat juga kepada suami mereka.Jadi, kata (الْقُنُوْتُ) dalam ayat ini maknanya taat.Yakni para wanita salihah yang qanitat, yaitu yang taat kepada Allah Jalla wa ‘Aladan taat kepada suami mereka,dan senantiasa dalam keadaan taat. “… yang menjaga kehormatan saat sendiri karena Allah menjaga mereka …” (QS. An-Nisa: 34)Yakni para istri yang menjaga diri jika suami mereka tidak ada di sisi mereka.Para wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya, hingga suaminya pulang. Pendapat lain mengatakan makna (حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ) yakni para wanita yang menjaga rahasia yang ada di antara dirinya dengan suaminya.Inilah sifat-sifat agungyang wajib dimiliki oleh seorang istri dalam berinteraksi dengan suaminya. Demikian. ==== نَعَمْ بَابُ إِغْضَابِ الزَّوْجِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا جَعَلَ لِلزَّوْجَةِ حُقُوقًا عَلَى زَوْجِهَا قَالَ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِالنِّسَاءِ وَالرَّجُلُ لَهُ حَقٌّ عَلَى زَوْجَتِهِ أَكْثَرُ مِنْ حَقِّهَا عَلَيْهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهَا تَحْتَرِمُهُ وَتُطِيْعُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالصَّالِحَاتُ النِّسَاءُ الصَّالِحَاتُ حَافِظَاتٌ (قَانِتَاتٌ) هَذَا خَبَرُ الْمُبْتَدَأ فَالصَّالِحَاتُ هَذَا مُبْتَدَأٌ قَانِتَاتٌ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ مُطِيعَةٌ لِلهِ أَوَّلًا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ فَالْقُنُوْتُ هُنَا المُرَادُ بِهِ الطَّاعَةُ الصَّالِحَاتُ مِنَ النِّسَاءِ قَانِتَاتٌ أَيْ مُطِيْعَاتٌ لِلهِ جَلَّ وَعَلَا مُطِيْعَاتٌ لِأَزْوَاجِهِنَّ وَيُدَاوِمْنَ عَلَى ذَلِكَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ حَافِظَاتٌ إِذَا غَابَ أَزْوَاجُهُنَّ عَنْهُنَّ حَافِظَاتٌ فِي نَفْسِهَا وَفِي مَالِهِ حَتَّى يَرْجِعَ وَقِيْلَ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ أَيْ حَافِظَاتٌ لِلسِّرِّ الَّذِي بَيْنَهَا وَبَيْنَ زَوْجِهَا هَذِهِ صِفَاتٌ عَظِيمَةٌ يَجِبُ عَلَى الزَّوْجَةِ أَنْ تَتَحَلَّى بِهَا مَعَ زَوْجِهَا نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bulughul Maram – Shalat: Cara, Bacaan, dan Takbir dalam Sujud Tilawah

Bagaimanakah cara, bacaan, dan takbir dalam sujud tilawah?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah 2. Hadits 8/346 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah Hadits 8/346 عَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا القُرْآنَ، فإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ، كَبَّرَ، وَسَجَدَ، وسَجَدْنَا مَعَهُ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ لِينُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an kepada kami, apabila melewati bacaan sajadah, beliau bertakbir, kemudian sujud, lalu kami sujud bersama beliau.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang lemah) [HR. Abu Daud, no. 1413 dan sanad hadits ini liin, yaitu lemah. Imam Nawawi mendhaifkan hadits ini. Ada sanad yang sahih dari Al-Hakim, 1:222].   Faedah hadits Jika ingin sujud tilawah disyariatkan untuk takbir, yaitu dengan ucapan ALLAHU AKBAR, kemudian sujud. Syaikh Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa tetap ada takbir ketika turun dan bangkit sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud mengenai cara sujud secara umum, tetapi tidak ada tasyahud, kemudian salam. Namun, yang tepat, cukup sujud, tanpa tasyahud, dan tanpa salam sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Orang yang mendengarkan ayat sajadah disunnahkan untuk sujud jika yang membaca melakukan sujud. Tidak disyariatkan mengangkat tangan ketika melakukan sujud tilawah. Sujud tilawah yang dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat shalat (menutup aurat, bersuci, menghadap kiblat) itu lebih afdal dan lebih sempurna sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 23:165. Bacaan ketika sujud tilawah sama dengan bacaan ketika sujud dalam shalat. Namun, jika menambah bacaan lainnya yang ada riwayatnya, itu juga bagus. Ada riwayat yang menyebutkan bacaan sujud tilawah. سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasai). Hadits ini terdapat kritikan, tetapi punya penguat dalam hadits berikut ini. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca: اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “ALLAHUMMA LAKA SAJADTU, WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU, SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:254-258. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:566-567. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Seputar Hukum Sujud Tilawah —   Diselesaikan 9 Shafar 1444 H, 6 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud tilawah sujud tilawah takbir sujud tilawah

Bulughul Maram – Shalat: Cara, Bacaan, dan Takbir dalam Sujud Tilawah

Bagaimanakah cara, bacaan, dan takbir dalam sujud tilawah?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah 2. Hadits 8/346 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah Hadits 8/346 عَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا القُرْآنَ، فإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ، كَبَّرَ، وَسَجَدَ، وسَجَدْنَا مَعَهُ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ لِينُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an kepada kami, apabila melewati bacaan sajadah, beliau bertakbir, kemudian sujud, lalu kami sujud bersama beliau.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang lemah) [HR. Abu Daud, no. 1413 dan sanad hadits ini liin, yaitu lemah. Imam Nawawi mendhaifkan hadits ini. Ada sanad yang sahih dari Al-Hakim, 1:222].   Faedah hadits Jika ingin sujud tilawah disyariatkan untuk takbir, yaitu dengan ucapan ALLAHU AKBAR, kemudian sujud. Syaikh Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa tetap ada takbir ketika turun dan bangkit sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud mengenai cara sujud secara umum, tetapi tidak ada tasyahud, kemudian salam. Namun, yang tepat, cukup sujud, tanpa tasyahud, dan tanpa salam sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Orang yang mendengarkan ayat sajadah disunnahkan untuk sujud jika yang membaca melakukan sujud. Tidak disyariatkan mengangkat tangan ketika melakukan sujud tilawah. Sujud tilawah yang dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat shalat (menutup aurat, bersuci, menghadap kiblat) itu lebih afdal dan lebih sempurna sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 23:165. Bacaan ketika sujud tilawah sama dengan bacaan ketika sujud dalam shalat. Namun, jika menambah bacaan lainnya yang ada riwayatnya, itu juga bagus. Ada riwayat yang menyebutkan bacaan sujud tilawah. سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasai). Hadits ini terdapat kritikan, tetapi punya penguat dalam hadits berikut ini. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca: اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “ALLAHUMMA LAKA SAJADTU, WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU, SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:254-258. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:566-567. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Seputar Hukum Sujud Tilawah —   Diselesaikan 9 Shafar 1444 H, 6 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud tilawah sujud tilawah takbir sujud tilawah
Bagaimanakah cara, bacaan, dan takbir dalam sujud tilawah?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah 2. Hadits 8/346 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah Hadits 8/346 عَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا القُرْآنَ، فإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ، كَبَّرَ، وَسَجَدَ، وسَجَدْنَا مَعَهُ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ لِينُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an kepada kami, apabila melewati bacaan sajadah, beliau bertakbir, kemudian sujud, lalu kami sujud bersama beliau.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang lemah) [HR. Abu Daud, no. 1413 dan sanad hadits ini liin, yaitu lemah. Imam Nawawi mendhaifkan hadits ini. Ada sanad yang sahih dari Al-Hakim, 1:222].   Faedah hadits Jika ingin sujud tilawah disyariatkan untuk takbir, yaitu dengan ucapan ALLAHU AKBAR, kemudian sujud. Syaikh Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa tetap ada takbir ketika turun dan bangkit sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud mengenai cara sujud secara umum, tetapi tidak ada tasyahud, kemudian salam. Namun, yang tepat, cukup sujud, tanpa tasyahud, dan tanpa salam sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Orang yang mendengarkan ayat sajadah disunnahkan untuk sujud jika yang membaca melakukan sujud. Tidak disyariatkan mengangkat tangan ketika melakukan sujud tilawah. Sujud tilawah yang dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat shalat (menutup aurat, bersuci, menghadap kiblat) itu lebih afdal dan lebih sempurna sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 23:165. Bacaan ketika sujud tilawah sama dengan bacaan ketika sujud dalam shalat. Namun, jika menambah bacaan lainnya yang ada riwayatnya, itu juga bagus. Ada riwayat yang menyebutkan bacaan sujud tilawah. سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasai). Hadits ini terdapat kritikan, tetapi punya penguat dalam hadits berikut ini. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca: اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “ALLAHUMMA LAKA SAJADTU, WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU, SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:254-258. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:566-567. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Seputar Hukum Sujud Tilawah —   Diselesaikan 9 Shafar 1444 H, 6 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud tilawah sujud tilawah takbir sujud tilawah


Bagaimanakah cara, bacaan, dan takbir dalam sujud tilawah?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah 2. Hadits 8/346 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Seputar Takbir untuk Sujud Tilawah Hadits 8/346 عَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا القُرْآنَ، فإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ، كَبَّرَ، وَسَجَدَ، وسَجَدْنَا مَعَهُ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ لِينُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an kepada kami, apabila melewati bacaan sajadah, beliau bertakbir, kemudian sujud, lalu kami sujud bersama beliau.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang lemah) [HR. Abu Daud, no. 1413 dan sanad hadits ini liin, yaitu lemah. Imam Nawawi mendhaifkan hadits ini. Ada sanad yang sahih dari Al-Hakim, 1:222].   Faedah hadits Jika ingin sujud tilawah disyariatkan untuk takbir, yaitu dengan ucapan ALLAHU AKBAR, kemudian sujud. Syaikh Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa tetap ada takbir ketika turun dan bangkit sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud mengenai cara sujud secara umum, tetapi tidak ada tasyahud, kemudian salam. Namun, yang tepat, cukup sujud, tanpa tasyahud, dan tanpa salam sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Orang yang mendengarkan ayat sajadah disunnahkan untuk sujud jika yang membaca melakukan sujud. Tidak disyariatkan mengangkat tangan ketika melakukan sujud tilawah. Sujud tilawah yang dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat shalat (menutup aurat, bersuci, menghadap kiblat) itu lebih afdal dan lebih sempurna sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 23:165. Bacaan ketika sujud tilawah sama dengan bacaan ketika sujud dalam shalat. Namun, jika menambah bacaan lainnya yang ada riwayatnya, itu juga bagus. Ada riwayat yang menyebutkan bacaan sujud tilawah. سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasai). Hadits ini terdapat kritikan, tetapi punya penguat dalam hadits berikut ini. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca: اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “ALLAHUMMA LAKA SAJADTU, WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU, SAJADA WAJHI LILLADZI KHOLAQOHU, WA SHOWWAROHU, WA SYAQQO SAM’AHU, WA BASHOROHU. TABARAKALLAHU AHSANUL KHOLIQIIN.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:254-258. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:566-567. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Seputar Hukum Sujud Tilawah —   Diselesaikan 9 Shafar 1444 H, 6 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud tilawah sujud tilawah takbir sujud tilawah
Prev     Next