Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 2): Keutamaan dan Rukun Hikmah

Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 2): Keutamaan dan Rukun Hikmah

Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah
Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah


Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 1): Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah

Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 1): Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah

Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah
Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah


Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik
Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik


Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik
Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik


Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Laporan Produksi Yufid Bulan September 2023

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan September 2023

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid
Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid


Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/EPLr_BpswfArL2J_Zjyswr57Mfdd5T3VXyiYdiFrhgpYwza79EFFHI5uIoV5Ci4FiFWK7eowu1v7bcIApMGUaMwgIi5oc4wezmw-4bwM4WGDF4Dx-oDm-cjRNPxPYFkA6P3Zpz5HFvZHh2WeCQ9pjyU" alt="" width="512" height="384"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/IpFPyJu2dQZqKOqUP1PvFYEcpbnRL7Jy_pdQxaVP8q3wtY2WFO59yNM580clCQ3yaTMiC0N9YZX12nP4u9lORE8YiQxyKmSwIsGyyxyPI5bNDZ7sj1jd2uOndmbUKBHapnj9fqQw20yXRLZIkYVGdmA" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/CD_PW34Q86fqI6Wx0AUSSjYdP1Ynn3i02DOAw2FoFUVXwKJjawCQk9gqE70zs6Yul38FOrUcubjX0UnkIDbi_F7S3WjkLP4KC54j4c_2dQlmIXHfEBtcVCmM0nWme9zohuZmU7c468vk7ungO6PpBg4" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/iRlOh0nHh2Ma8ipzCixcYOE60sBnrTU6Z5vhbdhdLEPKEiBZKaEPW895ExV7666dhxBd1xI8fR0-S8UVCKEbwdtrsIHb-y5EzKvFYu4s_iRh7mcoB8E1JEhEfAHv4M-oWCCMNkVWTxq5tidwumjlPpE" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/G6du2BKXdud4lg3wmX_ranMu16cNENZ4i-fJn3E6M0JLDlJL6z7gsgIoLwFtq0cQCuWQ6QQUbEt-BBXUiUb-96sKco_wJ7ohCohQeOt414EaHL7nPDJrl5eC2uizcTSgQgx_qqpq09wmWbcR9sWiuOk" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/0JLPjWj8QTmnJ8LTk1iAp6PBrjAUlvMpx3dLaBdwnV9lv3IKDynFgsf_pmHqs_0VZMZSOJiIQROSPPYvDdL_XkvF-Svobe3jT8q69v4HvNW3XYLkQjdIAuZFeJwAvfhTx8VHVSIk45caQADFKm8gHfw" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hadis: Hukum Menaburkan Debu Tanah di Atas Kubur

Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu

Hadis: Hukum Menaburkan Debu Tanah di Atas Kubur

Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu
Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu


Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu

Bagaimana Orang Awam Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama?

Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Orang Awam Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama?

Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fatwa Ulama: Makna Allah Mencintai Keindahan

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama

Fatwa Ulama: Makna Allah Mencintai Keindahan

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama

Fatwa Ulama: Makna Sabar Terletak di Awal Musibah

Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar

Fatwa Ulama: Makna Sabar Terletak di Awal Musibah

Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar
Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar


Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar

Doa ketika Minum Air Zamzam

Pertanyaan : Shahihkah bacaan doa sebelum minum air zamzam berikut ini: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا واسعًا وشفاءً من كلِّ داءٍ “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Pertama, tidak ada doa khusus yang dibaca ketika minum air zamzam yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kecuali hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ماءُ زمزمَ لِما شُرِبَ له “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya” (HR. Ibnu Majah no.3062, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Dan hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh berdoa apa saja secara umum ketika minum air zamzam. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: معناه : من شربه لحاجة نالها ، وقد جربه العلماء والصالحون لحاجات أخروية ودنيوية ، فنالوها بحمد الله تعالى وفضله “Maknanya: Siapa yang meminumnya untuk suatu kebutuhan, ia akan mendapatkannya. Dan para ulama serta orang shalih banyak yang telah mencobanya, baik untuk kebutuhan akhirat maupun kebutuhan dunia. Dan mereka mendapatkan apa yang diinginkan, bi hamdulillah ta’ala wa fadhlihi” (Tahdzibul Asma wal Lughat, 3/450). Adapun doa yang disebutkan di atas, adalah doa dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2738) : نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبَّاسٌ التَّرْقُفِيُّ , نا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْعَدَنِيُّ , حَدَّثَنِي الْحَكَمُ , عَنْ عِكْرِمَةَ , قَالَ: كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ ” إِذَا شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ , قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “ Muhammad bin Makhlad telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abbas At-Tarqufi telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hafs bin Umar Al-Adani telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Hakam menyampaikan hadits kepadaku, dari Ikrimah, ia berkata:  Biasanya Ibnu Abbas ketika minum air zamzam beliau berdoa: “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Dalam riwayat ini ada 2 perawi yang bermasalah: Hafs bin Umar Al-Adani. Ibnu Hibban mengatakan: “Ia perawi yang suka membolak-balik sanad, tidak boleh berhujjah dengannya jika bersendirian”. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan: “Ia layyinul hadits“. An-Nasa’i mengatakan: “Ia tidak tsiqah“. Ikrimah maula Ibnu Abbas. Statusnya diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama menolak riwayatnya karena dianggap banyak berdusta terhadap Ibnu Abbas. Ibnu Umar berkata kepada Nafi’: “Jangan engkau berdusta atas namaku, sebagaimana Ikrimah berdusta atas nama Ibnu Abbas”. Ini juga pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Ibnu Sirin, Yahya bin Sa’id Al-Qathan, dan Imam Malik. Mush’ab bin Abdillah juga mengatakan: “Ikrimah memiliki pemikiran orang Khawarij”. Namun demikian memang Bukhari dan Muslim berhujjah dengan riwayat Ikrimah. Kesimpulannya, riwayat Ikrimah tidak bisa menjadi pegangan kecuali ada penguatnya. Terdapat riwayat lain, diriwayatkan oleh Al-Fakihani dalam Akhbaru Makkah (1107) dengan sanad: وَحَدَّثَنَا هَدِيَّةُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْكَلْبِيُّ قَالَ: ثنا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى قَالَ: ثنا عُثْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Al-Fadhl bin Musa menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Utsman bin Al-Aswad menyampaikan hadits kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu Abbas … dst. Dalam riwayat ini terdapat Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi. Ibnu Hibban mengatakan tentangnya: “Ia terkadang keliru”. Sehingga riwayat ini bisa menguatkan riwayat sebelumnya. Maka atsar doa dari Ibnu Abbas ini derajatnya hasan. Dan terdapat riwayat dari para salaf tentang doa lain yang dibaca ketika minum air zamzam. Yaitu doa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Diriwayatkan Ibnu Muqri dalam Mu’jam-nya (361), dari jalan Al-Hasan bin Isa, حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ دَخَلَ زَمْزَمَ فَاسْتَقَى دَلْوًا وَاسْتَقْبَلَ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُؤَمَّلِ حَدَّثَنِي عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ» . اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Al-Hasan bin Isa menuturkan hadits kepada kami, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnul Mubarak memasukkan cidukan ke dalam air zamzam, kemudian menghadap ke arah kiblat, kemudian beliau berkata: Ya Allah, sesungguhnya Abdullah bin al-Muammal menyampaikan hadits kepadaku dari Abuz Zubair, dari Jabir bin Abdillah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”, maka aku berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Kemudian Abdullah bin Mubarak meminumnya”. Diriwayatkan juga oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (10/166), عن سويد بن سعيد قال : رأيت عبد الله بن المبارك بمكة أتى زمزم فاستقى منه شربة ، ثم استقبل الكعبة “Dari Suwaid bin Sa’id, ia berkata: Aku melihat Abdullah bin Mubarak mendatangi air zamzam kemudian meminumnya sambil menghadap Ka’bah.. dst”. Imam Ahmad mengatakan tentang Suwaid bin Sa’id: “La ba’sa bihi, menurut saya ia shaduq”. Abu Hatim mengatakan: “Ia shaduq”. Oleh karena itu riwayat ini derajatnya hasan. Doa ini juga diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu,  ابن المقرئ يقول كنا عند ابن عيينة فجاءه رجل فقال يا أبا محمد ألستم تزعمون أن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال ماء زمزم لما شرب له قال نعم قال فإني قد شربته لتحدثني بمائتي حديث قال اقعد فحدثه بها قال وسمعت ابن عيينة يقول قال عمر بن الخطاب اللهم إني أشربه لظمأ يوم القيامة “Ibnu Muqri mengatakan: kami pernah bersama Sufyan bin Uyainah. Kemudian datang seorang lelaki yang mengatakan: Bukanlah kalian mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya?” Ibnu Uyainah menjawab: Iya. Adapun aku meminumnya agar mendapatkan periwayatan dari 200 hadits. Ibnu Uyainah mengatakan: Duduklah engkau, sesungguhnya Umar bin Khattab pernah berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”” (Tarikh Dimasyqi, 45/308). Ini menunjukkan bahwa doa dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas bukanlah doa khusus ketika minum air zamzam. Karena ada doa lain yang diamalkan para salaf. Sehingga boleh berdoa apa saja ketika meminum air zamzam, dan boleh juga mengamalkan doa-doa yang diamalkan para salaf di atas. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tulisan Insya Allah, Hukum Mengkafirkan Orang, Surga Dunia Wanita, Waktu Yang Baik Untuk Bersetubuh, Sholat Istiqoro, Doa Undangan Khitanan Visited 1,658 times, 1 visit(s) today Post Views: 660 QRIS donasi Yufid

Doa ketika Minum Air Zamzam

Pertanyaan : Shahihkah bacaan doa sebelum minum air zamzam berikut ini: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا واسعًا وشفاءً من كلِّ داءٍ “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Pertama, tidak ada doa khusus yang dibaca ketika minum air zamzam yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kecuali hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ماءُ زمزمَ لِما شُرِبَ له “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya” (HR. Ibnu Majah no.3062, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Dan hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh berdoa apa saja secara umum ketika minum air zamzam. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: معناه : من شربه لحاجة نالها ، وقد جربه العلماء والصالحون لحاجات أخروية ودنيوية ، فنالوها بحمد الله تعالى وفضله “Maknanya: Siapa yang meminumnya untuk suatu kebutuhan, ia akan mendapatkannya. Dan para ulama serta orang shalih banyak yang telah mencobanya, baik untuk kebutuhan akhirat maupun kebutuhan dunia. Dan mereka mendapatkan apa yang diinginkan, bi hamdulillah ta’ala wa fadhlihi” (Tahdzibul Asma wal Lughat, 3/450). Adapun doa yang disebutkan di atas, adalah doa dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2738) : نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبَّاسٌ التَّرْقُفِيُّ , نا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْعَدَنِيُّ , حَدَّثَنِي الْحَكَمُ , عَنْ عِكْرِمَةَ , قَالَ: كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ ” إِذَا شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ , قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “ Muhammad bin Makhlad telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abbas At-Tarqufi telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hafs bin Umar Al-Adani telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Hakam menyampaikan hadits kepadaku, dari Ikrimah, ia berkata:  Biasanya Ibnu Abbas ketika minum air zamzam beliau berdoa: “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Dalam riwayat ini ada 2 perawi yang bermasalah: Hafs bin Umar Al-Adani. Ibnu Hibban mengatakan: “Ia perawi yang suka membolak-balik sanad, tidak boleh berhujjah dengannya jika bersendirian”. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan: “Ia layyinul hadits“. An-Nasa’i mengatakan: “Ia tidak tsiqah“. Ikrimah maula Ibnu Abbas. Statusnya diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama menolak riwayatnya karena dianggap banyak berdusta terhadap Ibnu Abbas. Ibnu Umar berkata kepada Nafi’: “Jangan engkau berdusta atas namaku, sebagaimana Ikrimah berdusta atas nama Ibnu Abbas”. Ini juga pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Ibnu Sirin, Yahya bin Sa’id Al-Qathan, dan Imam Malik. Mush’ab bin Abdillah juga mengatakan: “Ikrimah memiliki pemikiran orang Khawarij”. Namun demikian memang Bukhari dan Muslim berhujjah dengan riwayat Ikrimah. Kesimpulannya, riwayat Ikrimah tidak bisa menjadi pegangan kecuali ada penguatnya. Terdapat riwayat lain, diriwayatkan oleh Al-Fakihani dalam Akhbaru Makkah (1107) dengan sanad: وَحَدَّثَنَا هَدِيَّةُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْكَلْبِيُّ قَالَ: ثنا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى قَالَ: ثنا عُثْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Al-Fadhl bin Musa menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Utsman bin Al-Aswad menyampaikan hadits kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu Abbas … dst. Dalam riwayat ini terdapat Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi. Ibnu Hibban mengatakan tentangnya: “Ia terkadang keliru”. Sehingga riwayat ini bisa menguatkan riwayat sebelumnya. Maka atsar doa dari Ibnu Abbas ini derajatnya hasan. Dan terdapat riwayat dari para salaf tentang doa lain yang dibaca ketika minum air zamzam. Yaitu doa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Diriwayatkan Ibnu Muqri dalam Mu’jam-nya (361), dari jalan Al-Hasan bin Isa, حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ دَخَلَ زَمْزَمَ فَاسْتَقَى دَلْوًا وَاسْتَقْبَلَ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُؤَمَّلِ حَدَّثَنِي عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ» . اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Al-Hasan bin Isa menuturkan hadits kepada kami, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnul Mubarak memasukkan cidukan ke dalam air zamzam, kemudian menghadap ke arah kiblat, kemudian beliau berkata: Ya Allah, sesungguhnya Abdullah bin al-Muammal menyampaikan hadits kepadaku dari Abuz Zubair, dari Jabir bin Abdillah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”, maka aku berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Kemudian Abdullah bin Mubarak meminumnya”. Diriwayatkan juga oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (10/166), عن سويد بن سعيد قال : رأيت عبد الله بن المبارك بمكة أتى زمزم فاستقى منه شربة ، ثم استقبل الكعبة “Dari Suwaid bin Sa’id, ia berkata: Aku melihat Abdullah bin Mubarak mendatangi air zamzam kemudian meminumnya sambil menghadap Ka’bah.. dst”. Imam Ahmad mengatakan tentang Suwaid bin Sa’id: “La ba’sa bihi, menurut saya ia shaduq”. Abu Hatim mengatakan: “Ia shaduq”. Oleh karena itu riwayat ini derajatnya hasan. Doa ini juga diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu,  ابن المقرئ يقول كنا عند ابن عيينة فجاءه رجل فقال يا أبا محمد ألستم تزعمون أن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال ماء زمزم لما شرب له قال نعم قال فإني قد شربته لتحدثني بمائتي حديث قال اقعد فحدثه بها قال وسمعت ابن عيينة يقول قال عمر بن الخطاب اللهم إني أشربه لظمأ يوم القيامة “Ibnu Muqri mengatakan: kami pernah bersama Sufyan bin Uyainah. Kemudian datang seorang lelaki yang mengatakan: Bukanlah kalian mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya?” Ibnu Uyainah menjawab: Iya. Adapun aku meminumnya agar mendapatkan periwayatan dari 200 hadits. Ibnu Uyainah mengatakan: Duduklah engkau, sesungguhnya Umar bin Khattab pernah berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”” (Tarikh Dimasyqi, 45/308). Ini menunjukkan bahwa doa dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas bukanlah doa khusus ketika minum air zamzam. Karena ada doa lain yang diamalkan para salaf. Sehingga boleh berdoa apa saja ketika meminum air zamzam, dan boleh juga mengamalkan doa-doa yang diamalkan para salaf di atas. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tulisan Insya Allah, Hukum Mengkafirkan Orang, Surga Dunia Wanita, Waktu Yang Baik Untuk Bersetubuh, Sholat Istiqoro, Doa Undangan Khitanan Visited 1,658 times, 1 visit(s) today Post Views: 660 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan : Shahihkah bacaan doa sebelum minum air zamzam berikut ini: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا واسعًا وشفاءً من كلِّ داءٍ “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Pertama, tidak ada doa khusus yang dibaca ketika minum air zamzam yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kecuali hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ماءُ زمزمَ لِما شُرِبَ له “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya” (HR. Ibnu Majah no.3062, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Dan hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh berdoa apa saja secara umum ketika minum air zamzam. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: معناه : من شربه لحاجة نالها ، وقد جربه العلماء والصالحون لحاجات أخروية ودنيوية ، فنالوها بحمد الله تعالى وفضله “Maknanya: Siapa yang meminumnya untuk suatu kebutuhan, ia akan mendapatkannya. Dan para ulama serta orang shalih banyak yang telah mencobanya, baik untuk kebutuhan akhirat maupun kebutuhan dunia. Dan mereka mendapatkan apa yang diinginkan, bi hamdulillah ta’ala wa fadhlihi” (Tahdzibul Asma wal Lughat, 3/450). Adapun doa yang disebutkan di atas, adalah doa dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2738) : نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبَّاسٌ التَّرْقُفِيُّ , نا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْعَدَنِيُّ , حَدَّثَنِي الْحَكَمُ , عَنْ عِكْرِمَةَ , قَالَ: كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ ” إِذَا شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ , قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “ Muhammad bin Makhlad telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abbas At-Tarqufi telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hafs bin Umar Al-Adani telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Hakam menyampaikan hadits kepadaku, dari Ikrimah, ia berkata:  Biasanya Ibnu Abbas ketika minum air zamzam beliau berdoa: “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Dalam riwayat ini ada 2 perawi yang bermasalah: Hafs bin Umar Al-Adani. Ibnu Hibban mengatakan: “Ia perawi yang suka membolak-balik sanad, tidak boleh berhujjah dengannya jika bersendirian”. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan: “Ia layyinul hadits“. An-Nasa’i mengatakan: “Ia tidak tsiqah“. Ikrimah maula Ibnu Abbas. Statusnya diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama menolak riwayatnya karena dianggap banyak berdusta terhadap Ibnu Abbas. Ibnu Umar berkata kepada Nafi’: “Jangan engkau berdusta atas namaku, sebagaimana Ikrimah berdusta atas nama Ibnu Abbas”. Ini juga pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Ibnu Sirin, Yahya bin Sa’id Al-Qathan, dan Imam Malik. Mush’ab bin Abdillah juga mengatakan: “Ikrimah memiliki pemikiran orang Khawarij”. Namun demikian memang Bukhari dan Muslim berhujjah dengan riwayat Ikrimah. Kesimpulannya, riwayat Ikrimah tidak bisa menjadi pegangan kecuali ada penguatnya. Terdapat riwayat lain, diriwayatkan oleh Al-Fakihani dalam Akhbaru Makkah (1107) dengan sanad: وَحَدَّثَنَا هَدِيَّةُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْكَلْبِيُّ قَالَ: ثنا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى قَالَ: ثنا عُثْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Al-Fadhl bin Musa menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Utsman bin Al-Aswad menyampaikan hadits kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu Abbas … dst. Dalam riwayat ini terdapat Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi. Ibnu Hibban mengatakan tentangnya: “Ia terkadang keliru”. Sehingga riwayat ini bisa menguatkan riwayat sebelumnya. Maka atsar doa dari Ibnu Abbas ini derajatnya hasan. Dan terdapat riwayat dari para salaf tentang doa lain yang dibaca ketika minum air zamzam. Yaitu doa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Diriwayatkan Ibnu Muqri dalam Mu’jam-nya (361), dari jalan Al-Hasan bin Isa, حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ دَخَلَ زَمْزَمَ فَاسْتَقَى دَلْوًا وَاسْتَقْبَلَ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُؤَمَّلِ حَدَّثَنِي عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ» . اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Al-Hasan bin Isa menuturkan hadits kepada kami, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnul Mubarak memasukkan cidukan ke dalam air zamzam, kemudian menghadap ke arah kiblat, kemudian beliau berkata: Ya Allah, sesungguhnya Abdullah bin al-Muammal menyampaikan hadits kepadaku dari Abuz Zubair, dari Jabir bin Abdillah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”, maka aku berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Kemudian Abdullah bin Mubarak meminumnya”. Diriwayatkan juga oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (10/166), عن سويد بن سعيد قال : رأيت عبد الله بن المبارك بمكة أتى زمزم فاستقى منه شربة ، ثم استقبل الكعبة “Dari Suwaid bin Sa’id, ia berkata: Aku melihat Abdullah bin Mubarak mendatangi air zamzam kemudian meminumnya sambil menghadap Ka’bah.. dst”. Imam Ahmad mengatakan tentang Suwaid bin Sa’id: “La ba’sa bihi, menurut saya ia shaduq”. Abu Hatim mengatakan: “Ia shaduq”. Oleh karena itu riwayat ini derajatnya hasan. Doa ini juga diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu,  ابن المقرئ يقول كنا عند ابن عيينة فجاءه رجل فقال يا أبا محمد ألستم تزعمون أن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال ماء زمزم لما شرب له قال نعم قال فإني قد شربته لتحدثني بمائتي حديث قال اقعد فحدثه بها قال وسمعت ابن عيينة يقول قال عمر بن الخطاب اللهم إني أشربه لظمأ يوم القيامة “Ibnu Muqri mengatakan: kami pernah bersama Sufyan bin Uyainah. Kemudian datang seorang lelaki yang mengatakan: Bukanlah kalian mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya?” Ibnu Uyainah menjawab: Iya. Adapun aku meminumnya agar mendapatkan periwayatan dari 200 hadits. Ibnu Uyainah mengatakan: Duduklah engkau, sesungguhnya Umar bin Khattab pernah berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”” (Tarikh Dimasyqi, 45/308). Ini menunjukkan bahwa doa dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas bukanlah doa khusus ketika minum air zamzam. Karena ada doa lain yang diamalkan para salaf. Sehingga boleh berdoa apa saja ketika meminum air zamzam, dan boleh juga mengamalkan doa-doa yang diamalkan para salaf di atas. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tulisan Insya Allah, Hukum Mengkafirkan Orang, Surga Dunia Wanita, Waktu Yang Baik Untuk Bersetubuh, Sholat Istiqoro, Doa Undangan Khitanan Visited 1,658 times, 1 visit(s) today Post Views: 660 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan : Shahihkah bacaan doa sebelum minum air zamzam berikut ini: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا واسعًا وشفاءً من كلِّ داءٍ “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Pertama, tidak ada doa khusus yang dibaca ketika minum air zamzam yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kecuali hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ماءُ زمزمَ لِما شُرِبَ له “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya” (HR. Ibnu Majah no.3062, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Dan hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh berdoa apa saja secara umum ketika minum air zamzam. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: معناه : من شربه لحاجة نالها ، وقد جربه العلماء والصالحون لحاجات أخروية ودنيوية ، فنالوها بحمد الله تعالى وفضله “Maknanya: Siapa yang meminumnya untuk suatu kebutuhan, ia akan mendapatkannya. Dan para ulama serta orang shalih banyak yang telah mencobanya, baik untuk kebutuhan akhirat maupun kebutuhan dunia. Dan mereka mendapatkan apa yang diinginkan, bi hamdulillah ta’ala wa fadhlihi” (Tahdzibul Asma wal Lughat, 3/450). Adapun doa yang disebutkan di atas, adalah doa dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2738) : نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبَّاسٌ التَّرْقُفِيُّ , نا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْعَدَنِيُّ , حَدَّثَنِي الْحَكَمُ , عَنْ عِكْرِمَةَ , قَالَ: كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ ” إِذَا شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ , قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “ Muhammad bin Makhlad telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abbas At-Tarqufi telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hafs bin Umar Al-Adani telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Hakam menyampaikan hadits kepadaku, dari Ikrimah, ia berkata:  Biasanya Ibnu Abbas ketika minum air zamzam beliau berdoa: “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah serta kesembuhan dari segala penyakit”. Dalam riwayat ini ada 2 perawi yang bermasalah: Hafs bin Umar Al-Adani. Ibnu Hibban mengatakan: “Ia perawi yang suka membolak-balik sanad, tidak boleh berhujjah dengannya jika bersendirian”. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan: “Ia layyinul hadits“. An-Nasa’i mengatakan: “Ia tidak tsiqah“. Ikrimah maula Ibnu Abbas. Statusnya diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama menolak riwayatnya karena dianggap banyak berdusta terhadap Ibnu Abbas. Ibnu Umar berkata kepada Nafi’: “Jangan engkau berdusta atas namaku, sebagaimana Ikrimah berdusta atas nama Ibnu Abbas”. Ini juga pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Ibnu Sirin, Yahya bin Sa’id Al-Qathan, dan Imam Malik. Mush’ab bin Abdillah juga mengatakan: “Ikrimah memiliki pemikiran orang Khawarij”. Namun demikian memang Bukhari dan Muslim berhujjah dengan riwayat Ikrimah. Kesimpulannya, riwayat Ikrimah tidak bisa menjadi pegangan kecuali ada penguatnya. Terdapat riwayat lain, diriwayatkan oleh Al-Fakihani dalam Akhbaru Makkah (1107) dengan sanad: وَحَدَّثَنَا هَدِيَّةُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْكَلْبِيُّ قَالَ: ثنا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى قَالَ: ثنا عُثْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Al-Fadhl bin Musa menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: Utsman bin Al-Aswad menyampaikan hadits kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu Abbas … dst. Dalam riwayat ini terdapat Hadiyah bin Abdil Wahab Al-Kalbi. Ibnu Hibban mengatakan tentangnya: “Ia terkadang keliru”. Sehingga riwayat ini bisa menguatkan riwayat sebelumnya. Maka atsar doa dari Ibnu Abbas ini derajatnya hasan. Dan terdapat riwayat dari para salaf tentang doa lain yang dibaca ketika minum air zamzam. Yaitu doa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Diriwayatkan Ibnu Muqri dalam Mu’jam-nya (361), dari jalan Al-Hasan bin Isa, حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ دَخَلَ زَمْزَمَ فَاسْتَقَى دَلْوًا وَاسْتَقْبَلَ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُؤَمَّلِ حَدَّثَنِي عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ» . اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْرَبُهُ لِعَطَشِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَشَرِبَ “Al-Hasan bin Isa menuturkan hadits kepada kami, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnul Mubarak memasukkan cidukan ke dalam air zamzam, kemudian menghadap ke arah kiblat, kemudian beliau berkata: Ya Allah, sesungguhnya Abdullah bin al-Muammal menyampaikan hadits kepadaku dari Abuz Zubair, dari Jabir bin Abdillah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”, maka aku berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”. Kemudian Abdullah bin Mubarak meminumnya”. Diriwayatkan juga oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (10/166), عن سويد بن سعيد قال : رأيت عبد الله بن المبارك بمكة أتى زمزم فاستقى منه شربة ، ثم استقبل الكعبة “Dari Suwaid bin Sa’id, ia berkata: Aku melihat Abdullah bin Mubarak mendatangi air zamzam kemudian meminumnya sambil menghadap Ka’bah.. dst”. Imam Ahmad mengatakan tentang Suwaid bin Sa’id: “La ba’sa bihi, menurut saya ia shaduq”. Abu Hatim mengatakan: “Ia shaduq”. Oleh karena itu riwayat ini derajatnya hasan. Doa ini juga diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu,  ابن المقرئ يقول كنا عند ابن عيينة فجاءه رجل فقال يا أبا محمد ألستم تزعمون أن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال ماء زمزم لما شرب له قال نعم قال فإني قد شربته لتحدثني بمائتي حديث قال اقعد فحدثه بها قال وسمعت ابن عيينة يقول قال عمر بن الخطاب اللهم إني أشربه لظمأ يوم القيامة “Ibnu Muqri mengatakan: kami pernah bersama Sufyan bin Uyainah. Kemudian datang seorang lelaki yang mengatakan: Bukanlah kalian mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Khasiat air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya?” Ibnu Uyainah menjawab: Iya. Adapun aku meminumnya agar mendapatkan periwayatan dari 200 hadits. Ibnu Uyainah mengatakan: Duduklah engkau, sesungguhnya Umar bin Khattab pernah berdoa: “Ya Allah aku meminum air ini untuk menghilangkan kehausan di hari Kiamat”” (Tarikh Dimasyqi, 45/308). Ini menunjukkan bahwa doa dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas bukanlah doa khusus ketika minum air zamzam. Karena ada doa lain yang diamalkan para salaf. Sehingga boleh berdoa apa saja ketika meminum air zamzam, dan boleh juga mengamalkan doa-doa yang diamalkan para salaf di atas. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tulisan Insya Allah, Hukum Mengkafirkan Orang, Surga Dunia Wanita, Waktu Yang Baik Untuk Bersetubuh, Sholat Istiqoro, Doa Undangan Khitanan Visited 1,658 times, 1 visit(s) today Post Views: 660 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Teks Khotbah Jumat: Sudah Tepatkah Rasa Cintaku kepada Nabi Muhammad?

Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita akan selalu diberi jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi serta diberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Ketakwaan kita tidak akan sempurna, kecuali dengan menaati Allah dan rasulnya secara totalitas. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52) Wahai kaum muslimin sekalian, Di antara amalan hati paling agung yang dapat kita persembahkan kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecintaan yang menumbuhkan rasa semangat di dalam mengikuti setiap jejak beliau, mentaati seluruh perintahnya, menyebarkan sunahnya, serta menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang. Kita tidak akan bisa merasakan manisnya keimanan, kecuali jika benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna. Di dalam Ash-Shahihain, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ حَلَاوَةَ الإيمَانِ: أنْ يَكونَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممَّا سِوَاهُمَا، وأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ، وأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ كما يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النَّارِ. “Tiga hal yang barangsiapa memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu:) 1) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, 2) mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan 3) benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43) Bahkan, wahai jemaah sekalian. Seorang muslim tidak akan sempurna imannya, kecuali jika ia benar-benar mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لا يُؤمِنُ أحَدُكم حتَّى أكونَ أحَبَّ إليه مِن وَلَدِه ووالدِه والنَّاسِ أجمعينَ “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai diriku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari no 15 dan Muslim no. 44) Mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu pokok keimanan yang terhubung erat dengan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala bahkan mengancam siapa pun yang mendahulukan kecintaannya kepada hal-hal yang secara naluriah dicintai oleh manusia daripada kecintaannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik itu kecintaan kepada sanak saudara, harta benda, ataupun tanah air, dan yang semisalnya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24) Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, يا رَسولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن كُلِّ شَيْءٍ إلَّا مِن نَفْسِي “Duhai rasulullah, dirimu lebih aku cintai dari apapun, kecuali diriku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا، والَّذي نَفْسِي بيَدِهِ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْكَ مِن نَفْسِكَ “Tidak, demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai bahkan dari dirimu sendiri.” Maka Umar pun menjawab, فإنَّه الآنَ، واللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن نَفْسِي “Demi Allah, Sesungguhnya sekarang dirimu lebih aku cintai bahkan daripada diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengatakan, الآنَ يا عُمَرُ. “Sekarang ya Umar (Imanmu telah sempurna).” (HR. Bukhari no. 6632) Lihatlah! Bagaimana pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu?! Pengajaran bahwa kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya harus lebih diutamakan, bahkan melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan rahmat dan ampunan-Nya. Kecintaan kita kepada Rasulullah akan membawa kita lebih dekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan membersamainya di akhirat kelak. Suatu hari, datang seseorang menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah kiamat terjadi?” Beliau menjawab, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” Laki-laki itu menjawab; مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Aku belum mempersiapkan banyak, baik itu salat, puasa, ataupun sedekah. Namun, aku hanya mencintai Allah dan rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari no. 6167 dan Muslim no. 2639) Sungguh sebuah keutamaan yang besar bagi siapapun yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mau mengikuti petunjuknya. Dengan rasa cinta ini serta rasa semangat untuk mengikuti beliau, maka kita semua berpeluang untuk membersamainya di surga kelak. Wahai kaum muslimin sekalian. Mirisnya, konsep mengenai cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengalami perubahan dan pergeseran. Di zaman para sahabat dahulu kala, mereka memaknai kecintaan kepada Rasulullah dengan mengutamakan cintanya kepada beliau melebihi kecintaan mereka kepada hal-hal lainnya serta mengikuti sunah beliau dalam segala hal. Di zaman sekarang, bagi sebagian kalangan yang mengaku mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, definisi dan konsep mencintai Nabi berubah menjadi berinovasi di dalam berselawat, menciptakan zikir-zikir baru yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merayakan maulid, hari kelahiran beliau, menciptakan kasidah pujian, dan mengadakan perayaan-perayaan yang dipenuhi kemungkaran. Sungguh, ini merupakan perkara yang sangat memprihatinkan dan sangat disayangkan. Ketahuilah wahai jemaah sekalian. Pecinta dan pengagum beliau yang sejati adalah mereka yang senantiasa mengagungkan sunah-sunahnya, menjalankan apa-apa yang menjadi syariatnya, serta mengikuti jejak beliau dalam setiap perkataan maupun perbuatan. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ada beberapa tanda yang bisa kita wujudkan agar kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjadi kecintaan yang sia-sia. Tanda-tanda yang akan membedakan dan memperlihatkan siapa saja yang jujur dan tepat di dalam mencintai nabinya dan siapa saja yang hanya mengaku-aku saja. Tanda yang pertama: Beriman kepada beliau dan membenarkan seluruh kabar yang datang darinya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang berupa hadis-hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136) Yang kedua: Menjunjung tinggi dan memuliakan beliau serta memuliakan sunah-sunah dan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ، لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا “Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9) Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman, فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِه وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ “Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Rasa cinta akan memunculkan pengagungan. Pengagungan yang akan membuat seseorang merasa marah apabila orang yang dicintainya tersebut dihina dan dilecehkan. Yang ketiga: Menjalankan seluruh perintahnya dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.” (QS. At-Tagabun: 12) Dan di antara wasiat beliau kepada umatnya yang hidup di akhir zaman adalah berpegang kuat kepada sunah dan berhati-hati dari perkara bid’ah, mengadakan hal-hal baru dalam peribadatan dan ibadah, baik itu membuat prosesi tertentu atau meyakini adanya keutamaan tertentu dari perbuatan bid’ah yang ia lakukan. Karena sungguh mengadakan hal-hal baru terkait ibadah akan mengantarkan seseorang ke dalam kesesatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunahku dan sunah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan Ahmad no. 17185) Berhati-hatilah wahai jemaah sekalian dari melakukan sesuatu berkaitan dengan agama dan bermuatan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berdalih dengan besarnya rasa cinta kepada beliau, namun justru melakukan perkara-perkara yang beliau larang. Mereka yang melakukan ke-bid’ah-an serta membuat perkara baru yang tidak beliau contohkan, maka akan dijauhkan dari telaganya di akhirat nanti. Nabi mengisahkan, “Aku akan mendahului kalian di al-haudh (telaga). Lalu, ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049) Tanda keempat dan yang terakhir wahai jemaah sekalian: Memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan hal tersebut dalam firman-Nya, إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul

Teks Khotbah Jumat: Sudah Tepatkah Rasa Cintaku kepada Nabi Muhammad?

Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita akan selalu diberi jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi serta diberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Ketakwaan kita tidak akan sempurna, kecuali dengan menaati Allah dan rasulnya secara totalitas. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52) Wahai kaum muslimin sekalian, Di antara amalan hati paling agung yang dapat kita persembahkan kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecintaan yang menumbuhkan rasa semangat di dalam mengikuti setiap jejak beliau, mentaati seluruh perintahnya, menyebarkan sunahnya, serta menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang. Kita tidak akan bisa merasakan manisnya keimanan, kecuali jika benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna. Di dalam Ash-Shahihain, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ حَلَاوَةَ الإيمَانِ: أنْ يَكونَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممَّا سِوَاهُمَا، وأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ، وأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ كما يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النَّارِ. “Tiga hal yang barangsiapa memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu:) 1) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, 2) mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan 3) benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43) Bahkan, wahai jemaah sekalian. Seorang muslim tidak akan sempurna imannya, kecuali jika ia benar-benar mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لا يُؤمِنُ أحَدُكم حتَّى أكونَ أحَبَّ إليه مِن وَلَدِه ووالدِه والنَّاسِ أجمعينَ “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai diriku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari no 15 dan Muslim no. 44) Mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu pokok keimanan yang terhubung erat dengan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala bahkan mengancam siapa pun yang mendahulukan kecintaannya kepada hal-hal yang secara naluriah dicintai oleh manusia daripada kecintaannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik itu kecintaan kepada sanak saudara, harta benda, ataupun tanah air, dan yang semisalnya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24) Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, يا رَسولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن كُلِّ شَيْءٍ إلَّا مِن نَفْسِي “Duhai rasulullah, dirimu lebih aku cintai dari apapun, kecuali diriku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا، والَّذي نَفْسِي بيَدِهِ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْكَ مِن نَفْسِكَ “Tidak, demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai bahkan dari dirimu sendiri.” Maka Umar pun menjawab, فإنَّه الآنَ، واللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن نَفْسِي “Demi Allah, Sesungguhnya sekarang dirimu lebih aku cintai bahkan daripada diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengatakan, الآنَ يا عُمَرُ. “Sekarang ya Umar (Imanmu telah sempurna).” (HR. Bukhari no. 6632) Lihatlah! Bagaimana pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu?! Pengajaran bahwa kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya harus lebih diutamakan, bahkan melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan rahmat dan ampunan-Nya. Kecintaan kita kepada Rasulullah akan membawa kita lebih dekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan membersamainya di akhirat kelak. Suatu hari, datang seseorang menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah kiamat terjadi?” Beliau menjawab, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” Laki-laki itu menjawab; مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Aku belum mempersiapkan banyak, baik itu salat, puasa, ataupun sedekah. Namun, aku hanya mencintai Allah dan rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari no. 6167 dan Muslim no. 2639) Sungguh sebuah keutamaan yang besar bagi siapapun yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mau mengikuti petunjuknya. Dengan rasa cinta ini serta rasa semangat untuk mengikuti beliau, maka kita semua berpeluang untuk membersamainya di surga kelak. Wahai kaum muslimin sekalian. Mirisnya, konsep mengenai cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengalami perubahan dan pergeseran. Di zaman para sahabat dahulu kala, mereka memaknai kecintaan kepada Rasulullah dengan mengutamakan cintanya kepada beliau melebihi kecintaan mereka kepada hal-hal lainnya serta mengikuti sunah beliau dalam segala hal. Di zaman sekarang, bagi sebagian kalangan yang mengaku mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, definisi dan konsep mencintai Nabi berubah menjadi berinovasi di dalam berselawat, menciptakan zikir-zikir baru yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merayakan maulid, hari kelahiran beliau, menciptakan kasidah pujian, dan mengadakan perayaan-perayaan yang dipenuhi kemungkaran. Sungguh, ini merupakan perkara yang sangat memprihatinkan dan sangat disayangkan. Ketahuilah wahai jemaah sekalian. Pecinta dan pengagum beliau yang sejati adalah mereka yang senantiasa mengagungkan sunah-sunahnya, menjalankan apa-apa yang menjadi syariatnya, serta mengikuti jejak beliau dalam setiap perkataan maupun perbuatan. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ada beberapa tanda yang bisa kita wujudkan agar kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjadi kecintaan yang sia-sia. Tanda-tanda yang akan membedakan dan memperlihatkan siapa saja yang jujur dan tepat di dalam mencintai nabinya dan siapa saja yang hanya mengaku-aku saja. Tanda yang pertama: Beriman kepada beliau dan membenarkan seluruh kabar yang datang darinya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang berupa hadis-hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136) Yang kedua: Menjunjung tinggi dan memuliakan beliau serta memuliakan sunah-sunah dan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ، لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا “Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9) Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman, فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِه وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ “Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Rasa cinta akan memunculkan pengagungan. Pengagungan yang akan membuat seseorang merasa marah apabila orang yang dicintainya tersebut dihina dan dilecehkan. Yang ketiga: Menjalankan seluruh perintahnya dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.” (QS. At-Tagabun: 12) Dan di antara wasiat beliau kepada umatnya yang hidup di akhir zaman adalah berpegang kuat kepada sunah dan berhati-hati dari perkara bid’ah, mengadakan hal-hal baru dalam peribadatan dan ibadah, baik itu membuat prosesi tertentu atau meyakini adanya keutamaan tertentu dari perbuatan bid’ah yang ia lakukan. Karena sungguh mengadakan hal-hal baru terkait ibadah akan mengantarkan seseorang ke dalam kesesatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunahku dan sunah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan Ahmad no. 17185) Berhati-hatilah wahai jemaah sekalian dari melakukan sesuatu berkaitan dengan agama dan bermuatan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berdalih dengan besarnya rasa cinta kepada beliau, namun justru melakukan perkara-perkara yang beliau larang. Mereka yang melakukan ke-bid’ah-an serta membuat perkara baru yang tidak beliau contohkan, maka akan dijauhkan dari telaganya di akhirat nanti. Nabi mengisahkan, “Aku akan mendahului kalian di al-haudh (telaga). Lalu, ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049) Tanda keempat dan yang terakhir wahai jemaah sekalian: Memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan hal tersebut dalam firman-Nya, إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul
Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita akan selalu diberi jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi serta diberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Ketakwaan kita tidak akan sempurna, kecuali dengan menaati Allah dan rasulnya secara totalitas. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52) Wahai kaum muslimin sekalian, Di antara amalan hati paling agung yang dapat kita persembahkan kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecintaan yang menumbuhkan rasa semangat di dalam mengikuti setiap jejak beliau, mentaati seluruh perintahnya, menyebarkan sunahnya, serta menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang. Kita tidak akan bisa merasakan manisnya keimanan, kecuali jika benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna. Di dalam Ash-Shahihain, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ حَلَاوَةَ الإيمَانِ: أنْ يَكونَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممَّا سِوَاهُمَا، وأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ، وأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ كما يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النَّارِ. “Tiga hal yang barangsiapa memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu:) 1) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, 2) mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan 3) benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43) Bahkan, wahai jemaah sekalian. Seorang muslim tidak akan sempurna imannya, kecuali jika ia benar-benar mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لا يُؤمِنُ أحَدُكم حتَّى أكونَ أحَبَّ إليه مِن وَلَدِه ووالدِه والنَّاسِ أجمعينَ “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai diriku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari no 15 dan Muslim no. 44) Mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu pokok keimanan yang terhubung erat dengan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala bahkan mengancam siapa pun yang mendahulukan kecintaannya kepada hal-hal yang secara naluriah dicintai oleh manusia daripada kecintaannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik itu kecintaan kepada sanak saudara, harta benda, ataupun tanah air, dan yang semisalnya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24) Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, يا رَسولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن كُلِّ شَيْءٍ إلَّا مِن نَفْسِي “Duhai rasulullah, dirimu lebih aku cintai dari apapun, kecuali diriku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا، والَّذي نَفْسِي بيَدِهِ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْكَ مِن نَفْسِكَ “Tidak, demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai bahkan dari dirimu sendiri.” Maka Umar pun menjawab, فإنَّه الآنَ، واللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن نَفْسِي “Demi Allah, Sesungguhnya sekarang dirimu lebih aku cintai bahkan daripada diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengatakan, الآنَ يا عُمَرُ. “Sekarang ya Umar (Imanmu telah sempurna).” (HR. Bukhari no. 6632) Lihatlah! Bagaimana pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu?! Pengajaran bahwa kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya harus lebih diutamakan, bahkan melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan rahmat dan ampunan-Nya. Kecintaan kita kepada Rasulullah akan membawa kita lebih dekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan membersamainya di akhirat kelak. Suatu hari, datang seseorang menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah kiamat terjadi?” Beliau menjawab, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” Laki-laki itu menjawab; مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Aku belum mempersiapkan banyak, baik itu salat, puasa, ataupun sedekah. Namun, aku hanya mencintai Allah dan rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari no. 6167 dan Muslim no. 2639) Sungguh sebuah keutamaan yang besar bagi siapapun yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mau mengikuti petunjuknya. Dengan rasa cinta ini serta rasa semangat untuk mengikuti beliau, maka kita semua berpeluang untuk membersamainya di surga kelak. Wahai kaum muslimin sekalian. Mirisnya, konsep mengenai cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengalami perubahan dan pergeseran. Di zaman para sahabat dahulu kala, mereka memaknai kecintaan kepada Rasulullah dengan mengutamakan cintanya kepada beliau melebihi kecintaan mereka kepada hal-hal lainnya serta mengikuti sunah beliau dalam segala hal. Di zaman sekarang, bagi sebagian kalangan yang mengaku mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, definisi dan konsep mencintai Nabi berubah menjadi berinovasi di dalam berselawat, menciptakan zikir-zikir baru yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merayakan maulid, hari kelahiran beliau, menciptakan kasidah pujian, dan mengadakan perayaan-perayaan yang dipenuhi kemungkaran. Sungguh, ini merupakan perkara yang sangat memprihatinkan dan sangat disayangkan. Ketahuilah wahai jemaah sekalian. Pecinta dan pengagum beliau yang sejati adalah mereka yang senantiasa mengagungkan sunah-sunahnya, menjalankan apa-apa yang menjadi syariatnya, serta mengikuti jejak beliau dalam setiap perkataan maupun perbuatan. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ada beberapa tanda yang bisa kita wujudkan agar kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjadi kecintaan yang sia-sia. Tanda-tanda yang akan membedakan dan memperlihatkan siapa saja yang jujur dan tepat di dalam mencintai nabinya dan siapa saja yang hanya mengaku-aku saja. Tanda yang pertama: Beriman kepada beliau dan membenarkan seluruh kabar yang datang darinya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang berupa hadis-hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136) Yang kedua: Menjunjung tinggi dan memuliakan beliau serta memuliakan sunah-sunah dan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ، لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا “Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9) Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman, فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِه وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ “Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Rasa cinta akan memunculkan pengagungan. Pengagungan yang akan membuat seseorang merasa marah apabila orang yang dicintainya tersebut dihina dan dilecehkan. Yang ketiga: Menjalankan seluruh perintahnya dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.” (QS. At-Tagabun: 12) Dan di antara wasiat beliau kepada umatnya yang hidup di akhir zaman adalah berpegang kuat kepada sunah dan berhati-hati dari perkara bid’ah, mengadakan hal-hal baru dalam peribadatan dan ibadah, baik itu membuat prosesi tertentu atau meyakini adanya keutamaan tertentu dari perbuatan bid’ah yang ia lakukan. Karena sungguh mengadakan hal-hal baru terkait ibadah akan mengantarkan seseorang ke dalam kesesatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunahku dan sunah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan Ahmad no. 17185) Berhati-hatilah wahai jemaah sekalian dari melakukan sesuatu berkaitan dengan agama dan bermuatan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berdalih dengan besarnya rasa cinta kepada beliau, namun justru melakukan perkara-perkara yang beliau larang. Mereka yang melakukan ke-bid’ah-an serta membuat perkara baru yang tidak beliau contohkan, maka akan dijauhkan dari telaganya di akhirat nanti. Nabi mengisahkan, “Aku akan mendahului kalian di al-haudh (telaga). Lalu, ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049) Tanda keempat dan yang terakhir wahai jemaah sekalian: Memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan hal tersebut dalam firman-Nya, إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul


Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita akan selalu diberi jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi serta diberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Ketakwaan kita tidak akan sempurna, kecuali dengan menaati Allah dan rasulnya secara totalitas. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52) Wahai kaum muslimin sekalian, Di antara amalan hati paling agung yang dapat kita persembahkan kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecintaan yang menumbuhkan rasa semangat di dalam mengikuti setiap jejak beliau, mentaati seluruh perintahnya, menyebarkan sunahnya, serta menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang. Kita tidak akan bisa merasakan manisnya keimanan, kecuali jika benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna. Di dalam Ash-Shahihain, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ حَلَاوَةَ الإيمَانِ: أنْ يَكونَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممَّا سِوَاهُمَا، وأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ، وأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ كما يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النَّارِ. “Tiga hal yang barangsiapa memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu:) 1) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, 2) mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan 3) benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43) Bahkan, wahai jemaah sekalian. Seorang muslim tidak akan sempurna imannya, kecuali jika ia benar-benar mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لا يُؤمِنُ أحَدُكم حتَّى أكونَ أحَبَّ إليه مِن وَلَدِه ووالدِه والنَّاسِ أجمعينَ “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai diriku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari no 15 dan Muslim no. 44) Mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu pokok keimanan yang terhubung erat dengan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala bahkan mengancam siapa pun yang mendahulukan kecintaannya kepada hal-hal yang secara naluriah dicintai oleh manusia daripada kecintaannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik itu kecintaan kepada sanak saudara, harta benda, ataupun tanah air, dan yang semisalnya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24) Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, يا رَسولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن كُلِّ شَيْءٍ إلَّا مِن نَفْسِي “Duhai rasulullah, dirimu lebih aku cintai dari apapun, kecuali diriku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا، والَّذي نَفْسِي بيَدِهِ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْكَ مِن نَفْسِكَ “Tidak, demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai bahkan dari dirimu sendiri.” Maka Umar pun menjawab, فإنَّه الآنَ، واللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن نَفْسِي “Demi Allah, Sesungguhnya sekarang dirimu lebih aku cintai bahkan daripada diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengatakan, الآنَ يا عُمَرُ. “Sekarang ya Umar (Imanmu telah sempurna).” (HR. Bukhari no. 6632) Lihatlah! Bagaimana pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu?! Pengajaran bahwa kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya harus lebih diutamakan, bahkan melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan rahmat dan ampunan-Nya. Kecintaan kita kepada Rasulullah akan membawa kita lebih dekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan membersamainya di akhirat kelak. Suatu hari, datang seseorang menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah kiamat terjadi?” Beliau menjawab, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” Laki-laki itu menjawab; مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Aku belum mempersiapkan banyak, baik itu salat, puasa, ataupun sedekah. Namun, aku hanya mencintai Allah dan rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari no. 6167 dan Muslim no. 2639) Sungguh sebuah keutamaan yang besar bagi siapapun yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mau mengikuti petunjuknya. Dengan rasa cinta ini serta rasa semangat untuk mengikuti beliau, maka kita semua berpeluang untuk membersamainya di surga kelak. Wahai kaum muslimin sekalian. Mirisnya, konsep mengenai cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengalami perubahan dan pergeseran. Di zaman para sahabat dahulu kala, mereka memaknai kecintaan kepada Rasulullah dengan mengutamakan cintanya kepada beliau melebihi kecintaan mereka kepada hal-hal lainnya serta mengikuti sunah beliau dalam segala hal. Di zaman sekarang, bagi sebagian kalangan yang mengaku mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, definisi dan konsep mencintai Nabi berubah menjadi berinovasi di dalam berselawat, menciptakan zikir-zikir baru yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merayakan maulid, hari kelahiran beliau, menciptakan kasidah pujian, dan mengadakan perayaan-perayaan yang dipenuhi kemungkaran. Sungguh, ini merupakan perkara yang sangat memprihatinkan dan sangat disayangkan. Ketahuilah wahai jemaah sekalian. Pecinta dan pengagum beliau yang sejati adalah mereka yang senantiasa mengagungkan sunah-sunahnya, menjalankan apa-apa yang menjadi syariatnya, serta mengikuti jejak beliau dalam setiap perkataan maupun perbuatan. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ada beberapa tanda yang bisa kita wujudkan agar kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjadi kecintaan yang sia-sia. Tanda-tanda yang akan membedakan dan memperlihatkan siapa saja yang jujur dan tepat di dalam mencintai nabinya dan siapa saja yang hanya mengaku-aku saja. Tanda yang pertama: Beriman kepada beliau dan membenarkan seluruh kabar yang datang darinya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang berupa hadis-hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136) Yang kedua: Menjunjung tinggi dan memuliakan beliau serta memuliakan sunah-sunah dan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ، لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا “Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9) Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman, فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِه وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ “Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Rasa cinta akan memunculkan pengagungan. Pengagungan yang akan membuat seseorang merasa marah apabila orang yang dicintainya tersebut dihina dan dilecehkan. Yang ketiga: Menjalankan seluruh perintahnya dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.” (QS. At-Tagabun: 12) Dan di antara wasiat beliau kepada umatnya yang hidup di akhir zaman adalah berpegang kuat kepada sunah dan berhati-hati dari perkara bid’ah, mengadakan hal-hal baru dalam peribadatan dan ibadah, baik itu membuat prosesi tertentu atau meyakini adanya keutamaan tertentu dari perbuatan bid’ah yang ia lakukan. Karena sungguh mengadakan hal-hal baru terkait ibadah akan mengantarkan seseorang ke dalam kesesatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunahku dan sunah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan Ahmad no. 17185) Berhati-hatilah wahai jemaah sekalian dari melakukan sesuatu berkaitan dengan agama dan bermuatan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berdalih dengan besarnya rasa cinta kepada beliau, namun justru melakukan perkara-perkara yang beliau larang. Mereka yang melakukan ke-bid’ah-an serta membuat perkara baru yang tidak beliau contohkan, maka akan dijauhkan dari telaganya di akhirat nanti. Nabi mengisahkan, “Aku akan mendahului kalian di al-haudh (telaga). Lalu, ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049) Tanda keempat dan yang terakhir wahai jemaah sekalian: Memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan hal tersebut dalam firman-Nya, إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul

Hukum Membasuh Tangan Melebihi Siku dan Kaki Melebihi Mata Kaki

Pertanyaan: Saya pernah melihat orang yang berwudhu, namun dia membasuh tangan sampai melebihi siku dan membasuh kaki sampai betis. Padahal setahu saya membasuh tangan itu sampai ke siku dan membasuh kaki sampai ke mata kaki. Apakah yang dilakukan orang itu ada dasarnya? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Benar bahwa batasan yang ditetapkan oleh Allah ta’ala untuk membasuh tangan adalah sampai ke siku dan untuk membasuh kaki adalah sampai ke mata kaki. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 6). Demikian juga dalam hadits dari Humran, عن حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أن عثمانَ بنَ عفانٍ رضِيَ اللهُ عنه دعا بوَضوءٍ . فتوضأ . فغسل كَفَّيْهِ ثلاثَ مراتٍ . ثم مضمض واستنثر . ثم غسل وجهَه ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُمْنَى إلى المِرفَقِ ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُسْرَى مِثْلَ ذلك . ثم مسح رأسَه . ثم غسل رجلَه اليُمنَى إلى الكعبين ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل اليُسرَى مِثْلَ ذلك . ثم قال : رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم توضأ نحوَ وُضوئي هذا . ثم قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم من توضأ نحوَ وُضوئي هذا، ثم قام فركع ركعتين، لا يُحَدِّثُ فيهما نفسَه، غُفِرَ له ما تقدم من ذنبِه . قال ابنُ شهابٍ : وكان علماؤُنا يقولونَ : هذا الوُضوءُ أسبغُ ما يُتَوَضَّأُ به أحدٌ للصلاةِ “Dari Humran pembantu Utsman bin ‘Affan, suatu ketika Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu meminta air wudhu, kemudian dia berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung, tentunya didahului memasukkan air ke hidung; istinsyaq). Kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali. Kemudian membasuh tangan kirinya dengan cara yang sama. Kemudian beliau mengusap kepalanya dengan air (satu kali). Kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian membasuh kaki kirinya dengan cara yang sama. Kemudian Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dengan tanpa menyibukan jiwanya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ibnu Syihab mengatakan: Para ulama telah menyatakan bahwa tata cara wudhu ini adalah yang paling sempurna untuk shalat” (HR. Al-Bukhari no. 159, 164, Muslim no. 226). Adapun membasuh tangan melebihi siku dan membasuh kaki melebihi mata kaki, ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Karena terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إنَّ أُمَّتي يُدْعَوْنَ يومَ القيامَةِ غُرًّا مُحجَّلينَ من آثارِ الوُضوءِ، فمَنِ اسْتَطاعَ منكم أنْ يُطيلَ غُرَّتَهُ، فلْيَفْعَلْ “Sesungguhnya umatku akan dipanggil di hari Kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya. Maka siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” (HR. Al-Bukhari no. 136, Muslim no.246). Hadits di atas shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, namun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” bukanlah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan perkataan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan: أمَّا قوله: (فمن استطاع منكم أنْ يطيل غرَّته وتحجيله، فليفعل) فهذه الزيادة مدرجةٌ في الحديث من كلام أبي هريرة، لا من كلام النَّبي -صلى الله عليه وسلم-؛ كما في رواية أحمد (8208)، وقد بين ذلك غير واحدٍ من الحفَّاظ  “Adapun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” ini adalah tambahan yang dimasukkan dalam hadits, dari perkataan Abu Hurairah. Bukan dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana jelas dalam riwayat Ahmad (no. 8208). Dan ini telah dijelaskan oleh para huffazh dalam ilmu hadits” (Taudhihul Ahkam, 1/128). Sebagian ulama memahami dari perkataan Abu Hurairah di atas, bahwa dianjurkan untuk membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki dan mencukupkan diri dengan batasan yang ada dalam Al-Qur’an yaitu mata kaki.  Pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat, yaitu tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki. Karena itulah yang Allah tuntunkan di dalam Al-Qur’an dan juga dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mencontohkan tata cara wudhu, beliau bersabda: مَنْ زادَ على هذا فقدْ أساءَ وظلمَ “Siapa yang menambahkan kadar dari apa yang telah aku contohkan, maka ia telah berbuat keburukan dan berbuat kezaliman” (HR. Abu Daud no.135, dishahihkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir [1/121]).  Demikian juga, istilah memanjangkan ghurrah tidak tepat jika digunakan sebagai alasan untuk membasuh melebihi batasan. Sebagaimana penjelasan dari Syaikhul Islam yang dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahumallah : وكان شيخنا يقول :هذه اللفظة لا يمكن أن تكون من كلام رسول الله ؛ فإن الغرة لا تكون في اليد ؛ لا تكون إلا في الوجه ، وإطالته غير ممكنة ، إذ تدخل في الرأس ، فلا تسمى ذلك غرة “Syaikh kami (yaitu Ibnu Taimiyah) pernah mengatakan: Lafazh ini tidak mungkin merupakan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang namanya ghurrah itu tidak terdapat di tangan. Ghurrah itu hanya terdapat di wajah. Maka tidak mungkin untuk memanjangkan ghurrah. Karena wajah itu termasuk kepala. Maka tidak disebut sebagai ghurrah” (Hadi al-Arwah, hal. 201). Adapun memanjangkan ghurrah (cahaya di wajah) yang ada dalam perkataan Abu Hurairah di atas maksudnya adalah memperbanyak wudhu dan memperbaharui kembali wudhu ketika batal. Sehingga kelak di akhirat ghurrah (cahaya) yang didapatkan akan lama dan panjang. Bukan bermakna menambahkan kadar pembasuhan melebihi yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Dalam Islam, Pengertian Orang Fasik, Doa Thowaf, Khiyar Syarat Adalah, Ciri Ciri Orang Meninggal Masuk Surga, Tafsir Mimpi Menurut Alquran Visited 214 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid

Hukum Membasuh Tangan Melebihi Siku dan Kaki Melebihi Mata Kaki

Pertanyaan: Saya pernah melihat orang yang berwudhu, namun dia membasuh tangan sampai melebihi siku dan membasuh kaki sampai betis. Padahal setahu saya membasuh tangan itu sampai ke siku dan membasuh kaki sampai ke mata kaki. Apakah yang dilakukan orang itu ada dasarnya? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Benar bahwa batasan yang ditetapkan oleh Allah ta’ala untuk membasuh tangan adalah sampai ke siku dan untuk membasuh kaki adalah sampai ke mata kaki. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 6). Demikian juga dalam hadits dari Humran, عن حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أن عثمانَ بنَ عفانٍ رضِيَ اللهُ عنه دعا بوَضوءٍ . فتوضأ . فغسل كَفَّيْهِ ثلاثَ مراتٍ . ثم مضمض واستنثر . ثم غسل وجهَه ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُمْنَى إلى المِرفَقِ ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُسْرَى مِثْلَ ذلك . ثم مسح رأسَه . ثم غسل رجلَه اليُمنَى إلى الكعبين ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل اليُسرَى مِثْلَ ذلك . ثم قال : رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم توضأ نحوَ وُضوئي هذا . ثم قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم من توضأ نحوَ وُضوئي هذا، ثم قام فركع ركعتين، لا يُحَدِّثُ فيهما نفسَه، غُفِرَ له ما تقدم من ذنبِه . قال ابنُ شهابٍ : وكان علماؤُنا يقولونَ : هذا الوُضوءُ أسبغُ ما يُتَوَضَّأُ به أحدٌ للصلاةِ “Dari Humran pembantu Utsman bin ‘Affan, suatu ketika Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu meminta air wudhu, kemudian dia berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung, tentunya didahului memasukkan air ke hidung; istinsyaq). Kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali. Kemudian membasuh tangan kirinya dengan cara yang sama. Kemudian beliau mengusap kepalanya dengan air (satu kali). Kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian membasuh kaki kirinya dengan cara yang sama. Kemudian Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dengan tanpa menyibukan jiwanya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ibnu Syihab mengatakan: Para ulama telah menyatakan bahwa tata cara wudhu ini adalah yang paling sempurna untuk shalat” (HR. Al-Bukhari no. 159, 164, Muslim no. 226). Adapun membasuh tangan melebihi siku dan membasuh kaki melebihi mata kaki, ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Karena terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إنَّ أُمَّتي يُدْعَوْنَ يومَ القيامَةِ غُرًّا مُحجَّلينَ من آثارِ الوُضوءِ، فمَنِ اسْتَطاعَ منكم أنْ يُطيلَ غُرَّتَهُ، فلْيَفْعَلْ “Sesungguhnya umatku akan dipanggil di hari Kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya. Maka siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” (HR. Al-Bukhari no. 136, Muslim no.246). Hadits di atas shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, namun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” bukanlah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan perkataan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan: أمَّا قوله: (فمن استطاع منكم أنْ يطيل غرَّته وتحجيله، فليفعل) فهذه الزيادة مدرجةٌ في الحديث من كلام أبي هريرة، لا من كلام النَّبي -صلى الله عليه وسلم-؛ كما في رواية أحمد (8208)، وقد بين ذلك غير واحدٍ من الحفَّاظ  “Adapun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” ini adalah tambahan yang dimasukkan dalam hadits, dari perkataan Abu Hurairah. Bukan dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana jelas dalam riwayat Ahmad (no. 8208). Dan ini telah dijelaskan oleh para huffazh dalam ilmu hadits” (Taudhihul Ahkam, 1/128). Sebagian ulama memahami dari perkataan Abu Hurairah di atas, bahwa dianjurkan untuk membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki dan mencukupkan diri dengan batasan yang ada dalam Al-Qur’an yaitu mata kaki.  Pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat, yaitu tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki. Karena itulah yang Allah tuntunkan di dalam Al-Qur’an dan juga dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mencontohkan tata cara wudhu, beliau bersabda: مَنْ زادَ على هذا فقدْ أساءَ وظلمَ “Siapa yang menambahkan kadar dari apa yang telah aku contohkan, maka ia telah berbuat keburukan dan berbuat kezaliman” (HR. Abu Daud no.135, dishahihkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir [1/121]).  Demikian juga, istilah memanjangkan ghurrah tidak tepat jika digunakan sebagai alasan untuk membasuh melebihi batasan. Sebagaimana penjelasan dari Syaikhul Islam yang dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahumallah : وكان شيخنا يقول :هذه اللفظة لا يمكن أن تكون من كلام رسول الله ؛ فإن الغرة لا تكون في اليد ؛ لا تكون إلا في الوجه ، وإطالته غير ممكنة ، إذ تدخل في الرأس ، فلا تسمى ذلك غرة “Syaikh kami (yaitu Ibnu Taimiyah) pernah mengatakan: Lafazh ini tidak mungkin merupakan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang namanya ghurrah itu tidak terdapat di tangan. Ghurrah itu hanya terdapat di wajah. Maka tidak mungkin untuk memanjangkan ghurrah. Karena wajah itu termasuk kepala. Maka tidak disebut sebagai ghurrah” (Hadi al-Arwah, hal. 201). Adapun memanjangkan ghurrah (cahaya di wajah) yang ada dalam perkataan Abu Hurairah di atas maksudnya adalah memperbanyak wudhu dan memperbaharui kembali wudhu ketika batal. Sehingga kelak di akhirat ghurrah (cahaya) yang didapatkan akan lama dan panjang. Bukan bermakna menambahkan kadar pembasuhan melebihi yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Dalam Islam, Pengertian Orang Fasik, Doa Thowaf, Khiyar Syarat Adalah, Ciri Ciri Orang Meninggal Masuk Surga, Tafsir Mimpi Menurut Alquran Visited 214 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya pernah melihat orang yang berwudhu, namun dia membasuh tangan sampai melebihi siku dan membasuh kaki sampai betis. Padahal setahu saya membasuh tangan itu sampai ke siku dan membasuh kaki sampai ke mata kaki. Apakah yang dilakukan orang itu ada dasarnya? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Benar bahwa batasan yang ditetapkan oleh Allah ta’ala untuk membasuh tangan adalah sampai ke siku dan untuk membasuh kaki adalah sampai ke mata kaki. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 6). Demikian juga dalam hadits dari Humran, عن حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أن عثمانَ بنَ عفانٍ رضِيَ اللهُ عنه دعا بوَضوءٍ . فتوضأ . فغسل كَفَّيْهِ ثلاثَ مراتٍ . ثم مضمض واستنثر . ثم غسل وجهَه ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُمْنَى إلى المِرفَقِ ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُسْرَى مِثْلَ ذلك . ثم مسح رأسَه . ثم غسل رجلَه اليُمنَى إلى الكعبين ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل اليُسرَى مِثْلَ ذلك . ثم قال : رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم توضأ نحوَ وُضوئي هذا . ثم قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم من توضأ نحوَ وُضوئي هذا، ثم قام فركع ركعتين، لا يُحَدِّثُ فيهما نفسَه، غُفِرَ له ما تقدم من ذنبِه . قال ابنُ شهابٍ : وكان علماؤُنا يقولونَ : هذا الوُضوءُ أسبغُ ما يُتَوَضَّأُ به أحدٌ للصلاةِ “Dari Humran pembantu Utsman bin ‘Affan, suatu ketika Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu meminta air wudhu, kemudian dia berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung, tentunya didahului memasukkan air ke hidung; istinsyaq). Kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali. Kemudian membasuh tangan kirinya dengan cara yang sama. Kemudian beliau mengusap kepalanya dengan air (satu kali). Kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian membasuh kaki kirinya dengan cara yang sama. Kemudian Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dengan tanpa menyibukan jiwanya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ibnu Syihab mengatakan: Para ulama telah menyatakan bahwa tata cara wudhu ini adalah yang paling sempurna untuk shalat” (HR. Al-Bukhari no. 159, 164, Muslim no. 226). Adapun membasuh tangan melebihi siku dan membasuh kaki melebihi mata kaki, ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Karena terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إنَّ أُمَّتي يُدْعَوْنَ يومَ القيامَةِ غُرًّا مُحجَّلينَ من آثارِ الوُضوءِ، فمَنِ اسْتَطاعَ منكم أنْ يُطيلَ غُرَّتَهُ، فلْيَفْعَلْ “Sesungguhnya umatku akan dipanggil di hari Kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya. Maka siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” (HR. Al-Bukhari no. 136, Muslim no.246). Hadits di atas shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, namun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” bukanlah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan perkataan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan: أمَّا قوله: (فمن استطاع منكم أنْ يطيل غرَّته وتحجيله، فليفعل) فهذه الزيادة مدرجةٌ في الحديث من كلام أبي هريرة، لا من كلام النَّبي -صلى الله عليه وسلم-؛ كما في رواية أحمد (8208)، وقد بين ذلك غير واحدٍ من الحفَّاظ  “Adapun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” ini adalah tambahan yang dimasukkan dalam hadits, dari perkataan Abu Hurairah. Bukan dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana jelas dalam riwayat Ahmad (no. 8208). Dan ini telah dijelaskan oleh para huffazh dalam ilmu hadits” (Taudhihul Ahkam, 1/128). Sebagian ulama memahami dari perkataan Abu Hurairah di atas, bahwa dianjurkan untuk membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki dan mencukupkan diri dengan batasan yang ada dalam Al-Qur’an yaitu mata kaki.  Pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat, yaitu tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki. Karena itulah yang Allah tuntunkan di dalam Al-Qur’an dan juga dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mencontohkan tata cara wudhu, beliau bersabda: مَنْ زادَ على هذا فقدْ أساءَ وظلمَ “Siapa yang menambahkan kadar dari apa yang telah aku contohkan, maka ia telah berbuat keburukan dan berbuat kezaliman” (HR. Abu Daud no.135, dishahihkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir [1/121]).  Demikian juga, istilah memanjangkan ghurrah tidak tepat jika digunakan sebagai alasan untuk membasuh melebihi batasan. Sebagaimana penjelasan dari Syaikhul Islam yang dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahumallah : وكان شيخنا يقول :هذه اللفظة لا يمكن أن تكون من كلام رسول الله ؛ فإن الغرة لا تكون في اليد ؛ لا تكون إلا في الوجه ، وإطالته غير ممكنة ، إذ تدخل في الرأس ، فلا تسمى ذلك غرة “Syaikh kami (yaitu Ibnu Taimiyah) pernah mengatakan: Lafazh ini tidak mungkin merupakan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang namanya ghurrah itu tidak terdapat di tangan. Ghurrah itu hanya terdapat di wajah. Maka tidak mungkin untuk memanjangkan ghurrah. Karena wajah itu termasuk kepala. Maka tidak disebut sebagai ghurrah” (Hadi al-Arwah, hal. 201). Adapun memanjangkan ghurrah (cahaya di wajah) yang ada dalam perkataan Abu Hurairah di atas maksudnya adalah memperbanyak wudhu dan memperbaharui kembali wudhu ketika batal. Sehingga kelak di akhirat ghurrah (cahaya) yang didapatkan akan lama dan panjang. Bukan bermakna menambahkan kadar pembasuhan melebihi yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Dalam Islam, Pengertian Orang Fasik, Doa Thowaf, Khiyar Syarat Adalah, Ciri Ciri Orang Meninggal Masuk Surga, Tafsir Mimpi Menurut Alquran Visited 214 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Saya pernah melihat orang yang berwudhu, namun dia membasuh tangan sampai melebihi siku dan membasuh kaki sampai betis. Padahal setahu saya membasuh tangan itu sampai ke siku dan membasuh kaki sampai ke mata kaki. Apakah yang dilakukan orang itu ada dasarnya? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Benar bahwa batasan yang ditetapkan oleh Allah ta’ala untuk membasuh tangan adalah sampai ke siku dan untuk membasuh kaki adalah sampai ke mata kaki. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 6). Demikian juga dalam hadits dari Humran, عن حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أن عثمانَ بنَ عفانٍ رضِيَ اللهُ عنه دعا بوَضوءٍ . فتوضأ . فغسل كَفَّيْهِ ثلاثَ مراتٍ . ثم مضمض واستنثر . ثم غسل وجهَه ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُمْنَى إلى المِرفَقِ ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُسْرَى مِثْلَ ذلك . ثم مسح رأسَه . ثم غسل رجلَه اليُمنَى إلى الكعبين ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل اليُسرَى مِثْلَ ذلك . ثم قال : رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم توضأ نحوَ وُضوئي هذا . ثم قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم من توضأ نحوَ وُضوئي هذا، ثم قام فركع ركعتين، لا يُحَدِّثُ فيهما نفسَه، غُفِرَ له ما تقدم من ذنبِه . قال ابنُ شهابٍ : وكان علماؤُنا يقولونَ : هذا الوُضوءُ أسبغُ ما يُتَوَضَّأُ به أحدٌ للصلاةِ “Dari Humran pembantu Utsman bin ‘Affan, suatu ketika Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu meminta air wudhu, kemudian dia berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung, tentunya didahului memasukkan air ke hidung; istinsyaq). Kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali. Kemudian membasuh tangan kirinya dengan cara yang sama. Kemudian beliau mengusap kepalanya dengan air (satu kali). Kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian membasuh kaki kirinya dengan cara yang sama. Kemudian Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dengan tanpa menyibukan jiwanya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ibnu Syihab mengatakan: Para ulama telah menyatakan bahwa tata cara wudhu ini adalah yang paling sempurna untuk shalat” (HR. Al-Bukhari no. 159, 164, Muslim no. 226). Adapun membasuh tangan melebihi siku dan membasuh kaki melebihi mata kaki, ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Karena terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إنَّ أُمَّتي يُدْعَوْنَ يومَ القيامَةِ غُرًّا مُحجَّلينَ من آثارِ الوُضوءِ، فمَنِ اسْتَطاعَ منكم أنْ يُطيلَ غُرَّتَهُ، فلْيَفْعَلْ “Sesungguhnya umatku akan dipanggil di hari Kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya. Maka siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” (HR. Al-Bukhari no. 136, Muslim no.246). Hadits di atas shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, namun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” bukanlah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan perkataan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan: أمَّا قوله: (فمن استطاع منكم أنْ يطيل غرَّته وتحجيله، فليفعل) فهذه الزيادة مدرجةٌ في الحديث من كلام أبي هريرة، لا من كلام النَّبي -صلى الله عليه وسلم-؛ كما في رواية أحمد (8208)، وقد بين ذلك غير واحدٍ من الحفَّاظ  “Adapun perkataan “siapa yang bisa memanjangkan cahayanya di hari Kiamat, hendaknya lakukanlah” ini adalah tambahan yang dimasukkan dalam hadits, dari perkataan Abu Hurairah. Bukan dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana jelas dalam riwayat Ahmad (no. 8208). Dan ini telah dijelaskan oleh para huffazh dalam ilmu hadits” (Taudhihul Ahkam, 1/128). Sebagian ulama memahami dari perkataan Abu Hurairah di atas, bahwa dianjurkan untuk membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki dan mencukupkan diri dengan batasan yang ada dalam Al-Qur’an yaitu mata kaki.  Pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat, yaitu tidak dianjurkan untuk membasuh lebih dari mata kaki. Karena itulah yang Allah tuntunkan di dalam Al-Qur’an dan juga dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mencontohkan tata cara wudhu, beliau bersabda: مَنْ زادَ على هذا فقدْ أساءَ وظلمَ “Siapa yang menambahkan kadar dari apa yang telah aku contohkan, maka ia telah berbuat keburukan dan berbuat kezaliman” (HR. Abu Daud no.135, dishahihkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir [1/121]).  Demikian juga, istilah memanjangkan ghurrah tidak tepat jika digunakan sebagai alasan untuk membasuh melebihi batasan. Sebagaimana penjelasan dari Syaikhul Islam yang dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahumallah : وكان شيخنا يقول :هذه اللفظة لا يمكن أن تكون من كلام رسول الله ؛ فإن الغرة لا تكون في اليد ؛ لا تكون إلا في الوجه ، وإطالته غير ممكنة ، إذ تدخل في الرأس ، فلا تسمى ذلك غرة “Syaikh kami (yaitu Ibnu Taimiyah) pernah mengatakan: Lafazh ini tidak mungkin merupakan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang namanya ghurrah itu tidak terdapat di tangan. Ghurrah itu hanya terdapat di wajah. Maka tidak mungkin untuk memanjangkan ghurrah. Karena wajah itu termasuk kepala. Maka tidak disebut sebagai ghurrah” (Hadi al-Arwah, hal. 201). Adapun memanjangkan ghurrah (cahaya di wajah) yang ada dalam perkataan Abu Hurairah di atas maksudnya adalah memperbanyak wudhu dan memperbaharui kembali wudhu ketika batal. Sehingga kelak di akhirat ghurrah (cahaya) yang didapatkan akan lama dan panjang. Bukan bermakna menambahkan kadar pembasuhan melebihi yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Dalam Islam, Pengertian Orang Fasik, Doa Thowaf, Khiyar Syarat Adalah, Ciri Ciri Orang Meninggal Masuk Surga, Tafsir Mimpi Menurut Alquran Visited 214 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kiat-Kiat Ikhlaskan Niat, Gandakan Pahala

Daftar Isi Toggle Pertama, Berdoa meminta keikhlasanKedua, Menyembunyikan amalanKetiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Meskipun sumber daya kita dalam beribadah kepada Allah terbatas dalam hal waktu, tenaga maupun harta, ada cara-cara agar pahala yang kita dapatkan bisa sebesar-besarnya. Niat adalah modal untuk mengumpulkan dan memetik pahala di akhirat nanti. Semakin ikhlas seseorang dalam beramal, maka semakin besar pahala yang akan didapatkan. Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata, رُبّ عمل صغير تُعظمه النيۃ ورب عملٍ كبير تصغره النيۃ. “Berapa banyak amalan yang kecil berubah menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amalan yang besar berubah menjadi kecil karena niat.”  (Lihat Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam fii Syarhi Khamsina Hadisan min Jawami’ Al-Kalim, hal. 13) Ada beberapa cara untuk meningkatkan keikhlasan, di antaranya: Pertama, Berdoa meminta keikhlasan Agar kita dimudahkan untuk mengikhlaskan amalan ibadah yang dilakukan, maka perbanyaklah doa kepada Allah Ta’ala dengan bacaan doa sesuai kemampuan. Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini, yaitu: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ “Ya Allah, Sungguh Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu dalam keadaan tahu, dan Aku memohon ampunan dari apa yang tidak saya ketahui.” (HR. Bukhâri dalam Al-Adab Al-Mufrad) Menyekutan Allah (riya’) adalah lawan dari keikhlasan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dan berlindung dari perbuatan riya’. Di antara doa yang dipanjatkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا و اجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصاً “Allahummaj’al ‘amali kullahu shalihan, waj’alhu liwajhika khalishan [Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku adalah amalan saleh dan jadikanlah setiap amalanku ikhlas hanya mengharapkan wajahmu.]” (HR. Ahmad) Baca juga: Pentingnya Tauhid dan Keikhlasan Kedua, Menyembunyikan amalan Seseorang yang beramal dalam kondisi yang tersembunyi akan membantu ia untuk semakin ikhlas. Suatu amalan yang dikerjakan secara sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya daripada yang dilakukan secara terang-terangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali hanya naungan-Nya semata: (salah satunya) Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya …” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa saking seseorang itu menyembunyikan sedekahnya, bahkan tangan kirinya saja tidak mengetahui apa yang ia sedekahkan, apalagi orang lain. Oleh karena itu, pahala yang Allah berikan sangatlah besar. Begitu pula dengan salat sunah yang dikerjakan secara sembunyi (di rumah) lebih utama daripada yang dikerjakan di masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الصَلَاةَ المَكْتُوْبَةَ “Hendaknya kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah (fardu)”. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau yang lain, صلاة الرجل تطوعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين درجة “Salat sunah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat salat sunah yang dia kerjakan di tengah banyak orang.” (HR. Abu Ya’la. Lihat Shahih Al-Jami, no. 7269). Ketiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya, فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَتْ “Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, namun tidak jadi dilakukan, maka ditulis baginya 1 kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, dan jadi dilakukan, maka ditulis baginya 10x sampai 700x kebaikan. Siapa yang berniat melakukan suatu keburukan, namun tidak jadi dilakukan, maka tidak ditulis keburukan tersebut. Dan jika dilakukan, ditulis 1 keburukan.” (HR. Muslim) Maksud hadis “baginya dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat”, bukan untuk pembatasan, karena Allah Ta’ala akan melipatgandakan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberikan dari sisi-Nya apa yang tak terhitung dan tak terhingga, bahkan berkali-kali lipat. Hal ini juga menunjukkan betapa luasnya karunia dan rahmat Allah Ta’ala. Balasan yang banyak tersebut diberikan karena kekuatan iman seorang hamba dan kesempurnaan keikhlasan. Semakin ikhlas amalan seseorang, maka semakin dikalikan pula pahalanya, baik 10, 700, maupun tak terhingga. Karenanya, tak diragukan lagi, setiap kebaikan hendaknya didasari pada keimanan serta keikhlasan yang kuat semata-mata karena Allah Ta’ala. (Lihat Tafsir As-Sa’di ketika menafiskan surah Al-Baqarah ayat 261) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: gandakan pahalaikhlaskan niat

Kiat-Kiat Ikhlaskan Niat, Gandakan Pahala

Daftar Isi Toggle Pertama, Berdoa meminta keikhlasanKedua, Menyembunyikan amalanKetiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Meskipun sumber daya kita dalam beribadah kepada Allah terbatas dalam hal waktu, tenaga maupun harta, ada cara-cara agar pahala yang kita dapatkan bisa sebesar-besarnya. Niat adalah modal untuk mengumpulkan dan memetik pahala di akhirat nanti. Semakin ikhlas seseorang dalam beramal, maka semakin besar pahala yang akan didapatkan. Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata, رُبّ عمل صغير تُعظمه النيۃ ورب عملٍ كبير تصغره النيۃ. “Berapa banyak amalan yang kecil berubah menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amalan yang besar berubah menjadi kecil karena niat.”  (Lihat Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam fii Syarhi Khamsina Hadisan min Jawami’ Al-Kalim, hal. 13) Ada beberapa cara untuk meningkatkan keikhlasan, di antaranya: Pertama, Berdoa meminta keikhlasan Agar kita dimudahkan untuk mengikhlaskan amalan ibadah yang dilakukan, maka perbanyaklah doa kepada Allah Ta’ala dengan bacaan doa sesuai kemampuan. Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini, yaitu: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ “Ya Allah, Sungguh Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu dalam keadaan tahu, dan Aku memohon ampunan dari apa yang tidak saya ketahui.” (HR. Bukhâri dalam Al-Adab Al-Mufrad) Menyekutan Allah (riya’) adalah lawan dari keikhlasan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dan berlindung dari perbuatan riya’. Di antara doa yang dipanjatkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا و اجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصاً “Allahummaj’al ‘amali kullahu shalihan, waj’alhu liwajhika khalishan [Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku adalah amalan saleh dan jadikanlah setiap amalanku ikhlas hanya mengharapkan wajahmu.]” (HR. Ahmad) Baca juga: Pentingnya Tauhid dan Keikhlasan Kedua, Menyembunyikan amalan Seseorang yang beramal dalam kondisi yang tersembunyi akan membantu ia untuk semakin ikhlas. Suatu amalan yang dikerjakan secara sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya daripada yang dilakukan secara terang-terangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali hanya naungan-Nya semata: (salah satunya) Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya …” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa saking seseorang itu menyembunyikan sedekahnya, bahkan tangan kirinya saja tidak mengetahui apa yang ia sedekahkan, apalagi orang lain. Oleh karena itu, pahala yang Allah berikan sangatlah besar. Begitu pula dengan salat sunah yang dikerjakan secara sembunyi (di rumah) lebih utama daripada yang dikerjakan di masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الصَلَاةَ المَكْتُوْبَةَ “Hendaknya kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah (fardu)”. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau yang lain, صلاة الرجل تطوعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين درجة “Salat sunah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat salat sunah yang dia kerjakan di tengah banyak orang.” (HR. Abu Ya’la. Lihat Shahih Al-Jami, no. 7269). Ketiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya, فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَتْ “Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, namun tidak jadi dilakukan, maka ditulis baginya 1 kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, dan jadi dilakukan, maka ditulis baginya 10x sampai 700x kebaikan. Siapa yang berniat melakukan suatu keburukan, namun tidak jadi dilakukan, maka tidak ditulis keburukan tersebut. Dan jika dilakukan, ditulis 1 keburukan.” (HR. Muslim) Maksud hadis “baginya dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat”, bukan untuk pembatasan, karena Allah Ta’ala akan melipatgandakan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberikan dari sisi-Nya apa yang tak terhitung dan tak terhingga, bahkan berkali-kali lipat. Hal ini juga menunjukkan betapa luasnya karunia dan rahmat Allah Ta’ala. Balasan yang banyak tersebut diberikan karena kekuatan iman seorang hamba dan kesempurnaan keikhlasan. Semakin ikhlas amalan seseorang, maka semakin dikalikan pula pahalanya, baik 10, 700, maupun tak terhingga. Karenanya, tak diragukan lagi, setiap kebaikan hendaknya didasari pada keimanan serta keikhlasan yang kuat semata-mata karena Allah Ta’ala. (Lihat Tafsir As-Sa’di ketika menafiskan surah Al-Baqarah ayat 261) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: gandakan pahalaikhlaskan niat
Daftar Isi Toggle Pertama, Berdoa meminta keikhlasanKedua, Menyembunyikan amalanKetiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Meskipun sumber daya kita dalam beribadah kepada Allah terbatas dalam hal waktu, tenaga maupun harta, ada cara-cara agar pahala yang kita dapatkan bisa sebesar-besarnya. Niat adalah modal untuk mengumpulkan dan memetik pahala di akhirat nanti. Semakin ikhlas seseorang dalam beramal, maka semakin besar pahala yang akan didapatkan. Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata, رُبّ عمل صغير تُعظمه النيۃ ورب عملٍ كبير تصغره النيۃ. “Berapa banyak amalan yang kecil berubah menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amalan yang besar berubah menjadi kecil karena niat.”  (Lihat Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam fii Syarhi Khamsina Hadisan min Jawami’ Al-Kalim, hal. 13) Ada beberapa cara untuk meningkatkan keikhlasan, di antaranya: Pertama, Berdoa meminta keikhlasan Agar kita dimudahkan untuk mengikhlaskan amalan ibadah yang dilakukan, maka perbanyaklah doa kepada Allah Ta’ala dengan bacaan doa sesuai kemampuan. Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini, yaitu: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ “Ya Allah, Sungguh Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu dalam keadaan tahu, dan Aku memohon ampunan dari apa yang tidak saya ketahui.” (HR. Bukhâri dalam Al-Adab Al-Mufrad) Menyekutan Allah (riya’) adalah lawan dari keikhlasan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dan berlindung dari perbuatan riya’. Di antara doa yang dipanjatkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا و اجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصاً “Allahummaj’al ‘amali kullahu shalihan, waj’alhu liwajhika khalishan [Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku adalah amalan saleh dan jadikanlah setiap amalanku ikhlas hanya mengharapkan wajahmu.]” (HR. Ahmad) Baca juga: Pentingnya Tauhid dan Keikhlasan Kedua, Menyembunyikan amalan Seseorang yang beramal dalam kondisi yang tersembunyi akan membantu ia untuk semakin ikhlas. Suatu amalan yang dikerjakan secara sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya daripada yang dilakukan secara terang-terangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali hanya naungan-Nya semata: (salah satunya) Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya …” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa saking seseorang itu menyembunyikan sedekahnya, bahkan tangan kirinya saja tidak mengetahui apa yang ia sedekahkan, apalagi orang lain. Oleh karena itu, pahala yang Allah berikan sangatlah besar. Begitu pula dengan salat sunah yang dikerjakan secara sembunyi (di rumah) lebih utama daripada yang dikerjakan di masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الصَلَاةَ المَكْتُوْبَةَ “Hendaknya kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah (fardu)”. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau yang lain, صلاة الرجل تطوعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين درجة “Salat sunah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat salat sunah yang dia kerjakan di tengah banyak orang.” (HR. Abu Ya’la. Lihat Shahih Al-Jami, no. 7269). Ketiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya, فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَتْ “Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, namun tidak jadi dilakukan, maka ditulis baginya 1 kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, dan jadi dilakukan, maka ditulis baginya 10x sampai 700x kebaikan. Siapa yang berniat melakukan suatu keburukan, namun tidak jadi dilakukan, maka tidak ditulis keburukan tersebut. Dan jika dilakukan, ditulis 1 keburukan.” (HR. Muslim) Maksud hadis “baginya dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat”, bukan untuk pembatasan, karena Allah Ta’ala akan melipatgandakan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberikan dari sisi-Nya apa yang tak terhitung dan tak terhingga, bahkan berkali-kali lipat. Hal ini juga menunjukkan betapa luasnya karunia dan rahmat Allah Ta’ala. Balasan yang banyak tersebut diberikan karena kekuatan iman seorang hamba dan kesempurnaan keikhlasan. Semakin ikhlas amalan seseorang, maka semakin dikalikan pula pahalanya, baik 10, 700, maupun tak terhingga. Karenanya, tak diragukan lagi, setiap kebaikan hendaknya didasari pada keimanan serta keikhlasan yang kuat semata-mata karena Allah Ta’ala. (Lihat Tafsir As-Sa’di ketika menafiskan surah Al-Baqarah ayat 261) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: gandakan pahalaikhlaskan niat


Daftar Isi Toggle Pertama, Berdoa meminta keikhlasanKedua, Menyembunyikan amalanKetiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Meskipun sumber daya kita dalam beribadah kepada Allah terbatas dalam hal waktu, tenaga maupun harta, ada cara-cara agar pahala yang kita dapatkan bisa sebesar-besarnya. Niat adalah modal untuk mengumpulkan dan memetik pahala di akhirat nanti. Semakin ikhlas seseorang dalam beramal, maka semakin besar pahala yang akan didapatkan. Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata, رُبّ عمل صغير تُعظمه النيۃ ورب عملٍ كبير تصغره النيۃ. “Berapa banyak amalan yang kecil berubah menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amalan yang besar berubah menjadi kecil karena niat.”  (Lihat Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam fii Syarhi Khamsina Hadisan min Jawami’ Al-Kalim, hal. 13) Ada beberapa cara untuk meningkatkan keikhlasan, di antaranya: Pertama, Berdoa meminta keikhlasan Agar kita dimudahkan untuk mengikhlaskan amalan ibadah yang dilakukan, maka perbanyaklah doa kepada Allah Ta’ala dengan bacaan doa sesuai kemampuan. Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini, yaitu: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ “Ya Allah, Sungguh Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu dalam keadaan tahu, dan Aku memohon ampunan dari apa yang tidak saya ketahui.” (HR. Bukhâri dalam Al-Adab Al-Mufrad) Menyekutan Allah (riya’) adalah lawan dari keikhlasan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dan berlindung dari perbuatan riya’. Di antara doa yang dipanjatkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا و اجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصاً “Allahummaj’al ‘amali kullahu shalihan, waj’alhu liwajhika khalishan [Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku adalah amalan saleh dan jadikanlah setiap amalanku ikhlas hanya mengharapkan wajahmu.]” (HR. Ahmad) Baca juga: Pentingnya Tauhid dan Keikhlasan Kedua, Menyembunyikan amalan Seseorang yang beramal dalam kondisi yang tersembunyi akan membantu ia untuk semakin ikhlas. Suatu amalan yang dikerjakan secara sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya daripada yang dilakukan secara terang-terangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali hanya naungan-Nya semata: (salah satunya) Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya …” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa saking seseorang itu menyembunyikan sedekahnya, bahkan tangan kirinya saja tidak mengetahui apa yang ia sedekahkan, apalagi orang lain. Oleh karena itu, pahala yang Allah berikan sangatlah besar. Begitu pula dengan salat sunah yang dikerjakan secara sembunyi (di rumah) lebih utama daripada yang dikerjakan di masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الصَلَاةَ المَكْتُوْبَةَ “Hendaknya kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah (fardu)”. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau yang lain, صلاة الرجل تطوعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين درجة “Salat sunah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat salat sunah yang dia kerjakan di tengah banyak orang.” (HR. Abu Ya’la. Lihat Shahih Al-Jami, no. 7269). Ketiga, Meyakini bahwa sekecil apapun amalan, pasti Allah akan balas Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya, فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَتْ “Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, namun tidak jadi dilakukan, maka ditulis baginya 1 kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, dan jadi dilakukan, maka ditulis baginya 10x sampai 700x kebaikan. Siapa yang berniat melakukan suatu keburukan, namun tidak jadi dilakukan, maka tidak ditulis keburukan tersebut. Dan jika dilakukan, ditulis 1 keburukan.” (HR. Muslim) Maksud hadis “baginya dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat”, bukan untuk pembatasan, karena Allah Ta’ala akan melipatgandakan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberikan dari sisi-Nya apa yang tak terhitung dan tak terhingga, bahkan berkali-kali lipat. Hal ini juga menunjukkan betapa luasnya karunia dan rahmat Allah Ta’ala. Balasan yang banyak tersebut diberikan karena kekuatan iman seorang hamba dan kesempurnaan keikhlasan. Semakin ikhlas amalan seseorang, maka semakin dikalikan pula pahalanya, baik 10, 700, maupun tak terhingga. Karenanya, tak diragukan lagi, setiap kebaikan hendaknya didasari pada keimanan serta keikhlasan yang kuat semata-mata karena Allah Ta’ala. (Lihat Tafsir As-Sa’di ketika menafiskan surah Al-Baqarah ayat 261) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: gandakan pahalaikhlaskan niat

Hadis: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur

Daftar Isi Toggle Hadis pertamaHadis kedua Hadis pertama Dari Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan di waktu sakit yang menyebabkan kematiannya, الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Buatkan bagiku lahad dan susunkan batu-batu di kuburku sebagaimana yang diperbuat pada kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966) Lahad adalah suatu cekungan di lubang kubur ke arah kiblat untuk meletakkan jenazah. Disebut lahad karena berbelok dari tengah-tengah lubang kubur ke arah samping. Sehingga cara pembuatannya adalah menggali lubang kubur secara tegak lurus, kemudian setelah kedalaman tertentu digali menyamping ke arah kiblat (lihat gambar). Gambar liang lahad Gambar. Model lahad dan syaq. Hadis ini adalah dalil bahwa yang lebih utama berkaitan dengan kubur adalah dibuat lahad. Karena inilah model kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah model kubur yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melalui tangan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Dan tidaklah Allah memilih untuk Nabi-Nya, kecuali itulah yang lebih afdal. Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk selain kami.” (HR. Abu Dawud no. 3208, At-Tirmidzi no. 1045, An-Nasa’i no. 2009, dan Ibnu Majah no. 1554. Dinilai sahih oleh Al-Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (31: 546) disebutkan, اللَّحْدُ لَنَا، وَالشَّقُّ لِأَهْلِ الْكِتَابِ “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk ahli kitab.” Syaq dibuat dengan membuat cekungan di tengah-tengah lubang kubur, kemudian jenazah diletakkan di cekungan tersebut (lihat gambar). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa membuat kubur dengan model lahad dan syaq, kedua-duanya diperbolehkan. Akan tetapi, jika tanahnya itu keras (padat) dan tidak berair, maka lahad lebih utama berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan. Akan tetapi, jika tanahnya lembek dan berair, maka model syaq adalah yang lebih utama.” (Syarh Al-Muhadzdzab, 5: 287) Syekh Abdullah Alu Bassam hafizahullah berkata, “Ulama bersepakat bahwa diperbolehkan membuat liang kubur dengan model lahad dan syaq. Namun, Imam Ahmad menilai makruh membuat syaq jika tanpa uzur.” (Taudhihul Ahkam, 3: 242) Hadis ini juga menjelaskan tentang tata cara memakamkan jenazah. Yaitu, dengan memasukkan jenazah dari sisi letak dua kaki di lubang kubur, berdasarkan penjelasan kami di tulisan sebelumnya. Ketika memasukkan jenazah, dianjurkan membaca doa sebagaimana hadis berikut. Dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم، َ كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan jenazah di dalam lubang kubur, beliau mengucapkan, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA SUNNATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, dinilai sahih oleh Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (8: 430), juga dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ، فَقُولُوا: بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Jika kalian meletakkan jenazah di dalam kubur, maka ucapkanlah, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA MILLATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas millah [agama atau syariat] Rasulullah).” Setelah itu, diletakkan miring ke arah kanan, karena mirip dengan posisi orang tidur. Dan inilah di antara sunah ketika tidur, sehingga badan jenazah menghadap ke arah kiblat. Setelah itu, bata atau papan diletakkan di belakang punggung jenazah dengan kuat. Hal ini bertujuan untuk: 1) bata atau papan tersebut tidak terjatuh ke dalam liang lahad dan sisi-sisi bata/papan tersebut saling menyatu (merekat) kuat dengan tanah, dan 2) agar tanah untuk menimbun kubur tidak langsung menimpa jenazah. Yang terakhir adalah memasukkan tanah ke dalam lubang kubur secara cepat untuk menyelesaikan proses pemakaman. Baca juga: Hukum Memakamkan Dua Jenazah atau Lebih di Satu Lubang Kubur Hadis kedua Dari Fudhail bin Sulaiman, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ لَهُ لَحْدًا، وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنَ نَصْبًا ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ “Dibuatkan lahad untuk kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diletakkan batu di atasnya, dan ditinggikan kuburnya dari permukaan tanah setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Sanad hadis tersebut sahih sesuai dengan syarat Muslim. Akan tetapi, hadis ini juga diriwayatkan secara mursal dari Abdul Aziz, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُشَّ عَلَى قَبْرِهِ الْمَاءُ، وَوُضِعَ عَلَيْهِ حَصْبَاءُ مِنْ حَصْبَاءِ الْعَرْصَةِ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ قَدْرَ شِبْرٍ “Sesungguhnya (Jabir bin ‘Abdillah) memercikkan air di atas kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, meletakkan batu di atasnya, dan meninggikan kuburnya setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Hadis ini adalah dalil bahwa kubur itu hendaknya ditinggikan dari permukaan tanah seukuran satu jengkal, agar dikenal (diketahui) bahwa itu adalah kubur sehingga orang bisa memuliakan atau menghormatinya, tidak menghinakannya dengan diinjak-injak, dan lain sebagainya. Sehingga tanah yang digunakan untuk menimbun (membuat gundukan) hanya menggunakan tanah dari sekitar liang kubur saja. Adapun meninggikan lebih dari sejengkal, hal itu tidak diperbolehkan. Demikian pula, tidak diperbolehkan menambahkan tanah dari luar area pemakaman untuk menutup lubang kubur. Karena hal itu dinilai sama dengan meninggikan bangunan di atas kubur yang diharamkan. Sebagaimana telah kami jelaskan di tulisan kami yang lainnya. Hadis ini juga menjelaskan bolehnya memerciki tanah di kubur dengan air dan meletakkan batu-batu kecil di atas punggung (gundukan) kubur. Karena hal itu bisa mengokohkan kubur dan mencegah gundukan kubur tersebut menjadi tergerus (terkikis). Demikian juga, bisa mencegah hilangnya gundukan kubur karena dibawa oleh angin dan banjir. Demikian pula, diperbolehkan untuk menandai kubur tersebut dengan batu atau sejenisnya, sehingga orang-orang yang hendak berziarah kubur bisa mengetahui letak kuburnya. Dan juga ketika ingin memakamkan kerabatnya di samping kubur tersebut. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang meletakkan batu di sisi letak kepala kubur ‘Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau mengatakan, أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي “Supaya dengan batu itu, aku mengetahui bahwa itu adalah kubur saudaraku dan aku bisa memakamkan keluargaku di dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 3206, dinilai hasan oleh Al-Albani) Zahirnya menunjukkan bahwa penanda itu dengan satu batu saja dan diletakkan di sisi diletakkannya kepala jenazah, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah sunahnya, sebagaimana dikatakan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah (Al-Majmu’, 5: 298). Jika kubur tersebut dapat diketahui tanpa penanda batu dan sejenisnya, hal itu pun juga sudah mencukupi. Demikian sedikit pembahasan ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Beberapa Faedah dari Hadis-Hadis yang Berisi Anjuran Ziarah Kubur *** @Kantor Pogung, 4 Shafar 1445/ 21 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 341-343) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 227-228). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: batu nisanliang lahad

Hadis: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur

Daftar Isi Toggle Hadis pertamaHadis kedua Hadis pertama Dari Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan di waktu sakit yang menyebabkan kematiannya, الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Buatkan bagiku lahad dan susunkan batu-batu di kuburku sebagaimana yang diperbuat pada kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966) Lahad adalah suatu cekungan di lubang kubur ke arah kiblat untuk meletakkan jenazah. Disebut lahad karena berbelok dari tengah-tengah lubang kubur ke arah samping. Sehingga cara pembuatannya adalah menggali lubang kubur secara tegak lurus, kemudian setelah kedalaman tertentu digali menyamping ke arah kiblat (lihat gambar). Gambar liang lahad Gambar. Model lahad dan syaq. Hadis ini adalah dalil bahwa yang lebih utama berkaitan dengan kubur adalah dibuat lahad. Karena inilah model kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah model kubur yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melalui tangan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Dan tidaklah Allah memilih untuk Nabi-Nya, kecuali itulah yang lebih afdal. Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk selain kami.” (HR. Abu Dawud no. 3208, At-Tirmidzi no. 1045, An-Nasa’i no. 2009, dan Ibnu Majah no. 1554. Dinilai sahih oleh Al-Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (31: 546) disebutkan, اللَّحْدُ لَنَا، وَالشَّقُّ لِأَهْلِ الْكِتَابِ “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk ahli kitab.” Syaq dibuat dengan membuat cekungan di tengah-tengah lubang kubur, kemudian jenazah diletakkan di cekungan tersebut (lihat gambar). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa membuat kubur dengan model lahad dan syaq, kedua-duanya diperbolehkan. Akan tetapi, jika tanahnya itu keras (padat) dan tidak berair, maka lahad lebih utama berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan. Akan tetapi, jika tanahnya lembek dan berair, maka model syaq adalah yang lebih utama.” (Syarh Al-Muhadzdzab, 5: 287) Syekh Abdullah Alu Bassam hafizahullah berkata, “Ulama bersepakat bahwa diperbolehkan membuat liang kubur dengan model lahad dan syaq. Namun, Imam Ahmad menilai makruh membuat syaq jika tanpa uzur.” (Taudhihul Ahkam, 3: 242) Hadis ini juga menjelaskan tentang tata cara memakamkan jenazah. Yaitu, dengan memasukkan jenazah dari sisi letak dua kaki di lubang kubur, berdasarkan penjelasan kami di tulisan sebelumnya. Ketika memasukkan jenazah, dianjurkan membaca doa sebagaimana hadis berikut. Dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم، َ كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan jenazah di dalam lubang kubur, beliau mengucapkan, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA SUNNATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, dinilai sahih oleh Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (8: 430), juga dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ، فَقُولُوا: بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Jika kalian meletakkan jenazah di dalam kubur, maka ucapkanlah, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA MILLATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas millah [agama atau syariat] Rasulullah).” Setelah itu, diletakkan miring ke arah kanan, karena mirip dengan posisi orang tidur. Dan inilah di antara sunah ketika tidur, sehingga badan jenazah menghadap ke arah kiblat. Setelah itu, bata atau papan diletakkan di belakang punggung jenazah dengan kuat. Hal ini bertujuan untuk: 1) bata atau papan tersebut tidak terjatuh ke dalam liang lahad dan sisi-sisi bata/papan tersebut saling menyatu (merekat) kuat dengan tanah, dan 2) agar tanah untuk menimbun kubur tidak langsung menimpa jenazah. Yang terakhir adalah memasukkan tanah ke dalam lubang kubur secara cepat untuk menyelesaikan proses pemakaman. Baca juga: Hukum Memakamkan Dua Jenazah atau Lebih di Satu Lubang Kubur Hadis kedua Dari Fudhail bin Sulaiman, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ لَهُ لَحْدًا، وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنَ نَصْبًا ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ “Dibuatkan lahad untuk kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diletakkan batu di atasnya, dan ditinggikan kuburnya dari permukaan tanah setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Sanad hadis tersebut sahih sesuai dengan syarat Muslim. Akan tetapi, hadis ini juga diriwayatkan secara mursal dari Abdul Aziz, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُشَّ عَلَى قَبْرِهِ الْمَاءُ، وَوُضِعَ عَلَيْهِ حَصْبَاءُ مِنْ حَصْبَاءِ الْعَرْصَةِ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ قَدْرَ شِبْرٍ “Sesungguhnya (Jabir bin ‘Abdillah) memercikkan air di atas kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, meletakkan batu di atasnya, dan meninggikan kuburnya setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Hadis ini adalah dalil bahwa kubur itu hendaknya ditinggikan dari permukaan tanah seukuran satu jengkal, agar dikenal (diketahui) bahwa itu adalah kubur sehingga orang bisa memuliakan atau menghormatinya, tidak menghinakannya dengan diinjak-injak, dan lain sebagainya. Sehingga tanah yang digunakan untuk menimbun (membuat gundukan) hanya menggunakan tanah dari sekitar liang kubur saja. Adapun meninggikan lebih dari sejengkal, hal itu tidak diperbolehkan. Demikian pula, tidak diperbolehkan menambahkan tanah dari luar area pemakaman untuk menutup lubang kubur. Karena hal itu dinilai sama dengan meninggikan bangunan di atas kubur yang diharamkan. Sebagaimana telah kami jelaskan di tulisan kami yang lainnya. Hadis ini juga menjelaskan bolehnya memerciki tanah di kubur dengan air dan meletakkan batu-batu kecil di atas punggung (gundukan) kubur. Karena hal itu bisa mengokohkan kubur dan mencegah gundukan kubur tersebut menjadi tergerus (terkikis). Demikian juga, bisa mencegah hilangnya gundukan kubur karena dibawa oleh angin dan banjir. Demikian pula, diperbolehkan untuk menandai kubur tersebut dengan batu atau sejenisnya, sehingga orang-orang yang hendak berziarah kubur bisa mengetahui letak kuburnya. Dan juga ketika ingin memakamkan kerabatnya di samping kubur tersebut. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang meletakkan batu di sisi letak kepala kubur ‘Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau mengatakan, أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي “Supaya dengan batu itu, aku mengetahui bahwa itu adalah kubur saudaraku dan aku bisa memakamkan keluargaku di dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 3206, dinilai hasan oleh Al-Albani) Zahirnya menunjukkan bahwa penanda itu dengan satu batu saja dan diletakkan di sisi diletakkannya kepala jenazah, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah sunahnya, sebagaimana dikatakan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah (Al-Majmu’, 5: 298). Jika kubur tersebut dapat diketahui tanpa penanda batu dan sejenisnya, hal itu pun juga sudah mencukupi. Demikian sedikit pembahasan ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Beberapa Faedah dari Hadis-Hadis yang Berisi Anjuran Ziarah Kubur *** @Kantor Pogung, 4 Shafar 1445/ 21 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 341-343) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 227-228). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: batu nisanliang lahad
Daftar Isi Toggle Hadis pertamaHadis kedua Hadis pertama Dari Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan di waktu sakit yang menyebabkan kematiannya, الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Buatkan bagiku lahad dan susunkan batu-batu di kuburku sebagaimana yang diperbuat pada kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966) Lahad adalah suatu cekungan di lubang kubur ke arah kiblat untuk meletakkan jenazah. Disebut lahad karena berbelok dari tengah-tengah lubang kubur ke arah samping. Sehingga cara pembuatannya adalah menggali lubang kubur secara tegak lurus, kemudian setelah kedalaman tertentu digali menyamping ke arah kiblat (lihat gambar). Gambar liang lahad Gambar. Model lahad dan syaq. Hadis ini adalah dalil bahwa yang lebih utama berkaitan dengan kubur adalah dibuat lahad. Karena inilah model kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah model kubur yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melalui tangan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Dan tidaklah Allah memilih untuk Nabi-Nya, kecuali itulah yang lebih afdal. Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk selain kami.” (HR. Abu Dawud no. 3208, At-Tirmidzi no. 1045, An-Nasa’i no. 2009, dan Ibnu Majah no. 1554. Dinilai sahih oleh Al-Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (31: 546) disebutkan, اللَّحْدُ لَنَا، وَالشَّقُّ لِأَهْلِ الْكِتَابِ “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk ahli kitab.” Syaq dibuat dengan membuat cekungan di tengah-tengah lubang kubur, kemudian jenazah diletakkan di cekungan tersebut (lihat gambar). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa membuat kubur dengan model lahad dan syaq, kedua-duanya diperbolehkan. Akan tetapi, jika tanahnya itu keras (padat) dan tidak berair, maka lahad lebih utama berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan. Akan tetapi, jika tanahnya lembek dan berair, maka model syaq adalah yang lebih utama.” (Syarh Al-Muhadzdzab, 5: 287) Syekh Abdullah Alu Bassam hafizahullah berkata, “Ulama bersepakat bahwa diperbolehkan membuat liang kubur dengan model lahad dan syaq. Namun, Imam Ahmad menilai makruh membuat syaq jika tanpa uzur.” (Taudhihul Ahkam, 3: 242) Hadis ini juga menjelaskan tentang tata cara memakamkan jenazah. Yaitu, dengan memasukkan jenazah dari sisi letak dua kaki di lubang kubur, berdasarkan penjelasan kami di tulisan sebelumnya. Ketika memasukkan jenazah, dianjurkan membaca doa sebagaimana hadis berikut. Dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم، َ كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan jenazah di dalam lubang kubur, beliau mengucapkan, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA SUNNATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, dinilai sahih oleh Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (8: 430), juga dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ، فَقُولُوا: بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Jika kalian meletakkan jenazah di dalam kubur, maka ucapkanlah, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA MILLATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas millah [agama atau syariat] Rasulullah).” Setelah itu, diletakkan miring ke arah kanan, karena mirip dengan posisi orang tidur. Dan inilah di antara sunah ketika tidur, sehingga badan jenazah menghadap ke arah kiblat. Setelah itu, bata atau papan diletakkan di belakang punggung jenazah dengan kuat. Hal ini bertujuan untuk: 1) bata atau papan tersebut tidak terjatuh ke dalam liang lahad dan sisi-sisi bata/papan tersebut saling menyatu (merekat) kuat dengan tanah, dan 2) agar tanah untuk menimbun kubur tidak langsung menimpa jenazah. Yang terakhir adalah memasukkan tanah ke dalam lubang kubur secara cepat untuk menyelesaikan proses pemakaman. Baca juga: Hukum Memakamkan Dua Jenazah atau Lebih di Satu Lubang Kubur Hadis kedua Dari Fudhail bin Sulaiman, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ لَهُ لَحْدًا، وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنَ نَصْبًا ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ “Dibuatkan lahad untuk kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diletakkan batu di atasnya, dan ditinggikan kuburnya dari permukaan tanah setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Sanad hadis tersebut sahih sesuai dengan syarat Muslim. Akan tetapi, hadis ini juga diriwayatkan secara mursal dari Abdul Aziz, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُشَّ عَلَى قَبْرِهِ الْمَاءُ، وَوُضِعَ عَلَيْهِ حَصْبَاءُ مِنْ حَصْبَاءِ الْعَرْصَةِ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ قَدْرَ شِبْرٍ “Sesungguhnya (Jabir bin ‘Abdillah) memercikkan air di atas kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, meletakkan batu di atasnya, dan meninggikan kuburnya setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Hadis ini adalah dalil bahwa kubur itu hendaknya ditinggikan dari permukaan tanah seukuran satu jengkal, agar dikenal (diketahui) bahwa itu adalah kubur sehingga orang bisa memuliakan atau menghormatinya, tidak menghinakannya dengan diinjak-injak, dan lain sebagainya. Sehingga tanah yang digunakan untuk menimbun (membuat gundukan) hanya menggunakan tanah dari sekitar liang kubur saja. Adapun meninggikan lebih dari sejengkal, hal itu tidak diperbolehkan. Demikian pula, tidak diperbolehkan menambahkan tanah dari luar area pemakaman untuk menutup lubang kubur. Karena hal itu dinilai sama dengan meninggikan bangunan di atas kubur yang diharamkan. Sebagaimana telah kami jelaskan di tulisan kami yang lainnya. Hadis ini juga menjelaskan bolehnya memerciki tanah di kubur dengan air dan meletakkan batu-batu kecil di atas punggung (gundukan) kubur. Karena hal itu bisa mengokohkan kubur dan mencegah gundukan kubur tersebut menjadi tergerus (terkikis). Demikian juga, bisa mencegah hilangnya gundukan kubur karena dibawa oleh angin dan banjir. Demikian pula, diperbolehkan untuk menandai kubur tersebut dengan batu atau sejenisnya, sehingga orang-orang yang hendak berziarah kubur bisa mengetahui letak kuburnya. Dan juga ketika ingin memakamkan kerabatnya di samping kubur tersebut. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang meletakkan batu di sisi letak kepala kubur ‘Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau mengatakan, أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي “Supaya dengan batu itu, aku mengetahui bahwa itu adalah kubur saudaraku dan aku bisa memakamkan keluargaku di dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 3206, dinilai hasan oleh Al-Albani) Zahirnya menunjukkan bahwa penanda itu dengan satu batu saja dan diletakkan di sisi diletakkannya kepala jenazah, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah sunahnya, sebagaimana dikatakan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah (Al-Majmu’, 5: 298). Jika kubur tersebut dapat diketahui tanpa penanda batu dan sejenisnya, hal itu pun juga sudah mencukupi. Demikian sedikit pembahasan ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Beberapa Faedah dari Hadis-Hadis yang Berisi Anjuran Ziarah Kubur *** @Kantor Pogung, 4 Shafar 1445/ 21 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 341-343) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 227-228). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: batu nisanliang lahad


Daftar Isi Toggle Hadis pertamaHadis kedua Hadis pertama Dari Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan di waktu sakit yang menyebabkan kematiannya, الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Buatkan bagiku lahad dan susunkan batu-batu di kuburku sebagaimana yang diperbuat pada kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966) Lahad adalah suatu cekungan di lubang kubur ke arah kiblat untuk meletakkan jenazah. Disebut lahad karena berbelok dari tengah-tengah lubang kubur ke arah samping. Sehingga cara pembuatannya adalah menggali lubang kubur secara tegak lurus, kemudian setelah kedalaman tertentu digali menyamping ke arah kiblat (lihat gambar). <img decoding="async" class="aligncenter wp-image-87562 size-full" src="https://cdnm.muslim.or.id/wp-content/uploads/2023/10/Gambar-liang-lahad.webp?strip=all&lossy=1&resize=810%2C484" alt="Gambar liang lahad" width="810" height="484" srcset="https://cdnm.muslim.or.id/wp-content/uploads/2023/10/Gambar-liang-lahad.webp?strip=all&amp;lossy=1&amp;ssl=1 810w, https://cdnm.muslim.or.id/wp-content/uploads/2023/10/Gambar-liang-lahad-300x179.webp?strip=all&amp;lossy=1&amp;ssl=1 300w, https://cdnm.muslim.or.id/wp-content/uploads/2023/10/Gambar-liang-lahad-768x459.webp?strip=all&amp;lossy=1&amp;ssl=1 768w, https://cdnm.muslim.or.id/wp-content/uploads/2023/10/Gambar-liang-lahad-750x448.webp?strip=all&amp;lossy=1&amp;ssl=1 750w, https://cdnm.muslim.or.id/wp-content/uploads/2023/10/Gambar-liang-lahad.webp?strip=all&amp;lossy=1&amp;w=384&amp;ssl=1 384w" sizes="(max-width: 810px) 100vw, 810px" data-eio="l" /> Gambar. Model lahad dan syaq. Hadis ini adalah dalil bahwa yang lebih utama berkaitan dengan kubur adalah dibuat lahad. Karena inilah model kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah model kubur yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melalui tangan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Dan tidaklah Allah memilih untuk Nabi-Nya, kecuali itulah yang lebih afdal. Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk selain kami.” (HR. Abu Dawud no. 3208, At-Tirmidzi no. 1045, An-Nasa’i no. 2009, dan Ibnu Majah no. 1554. Dinilai sahih oleh Al-Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (31: 546) disebutkan, اللَّحْدُ لَنَا، وَالشَّقُّ لِأَهْلِ الْكِتَابِ “Lahad itu untuk kami, sedangkan syaq adalah untuk ahli kitab.” Syaq dibuat dengan membuat cekungan di tengah-tengah lubang kubur, kemudian jenazah diletakkan di cekungan tersebut (lihat gambar). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa membuat kubur dengan model lahad dan syaq, kedua-duanya diperbolehkan. Akan tetapi, jika tanahnya itu keras (padat) dan tidak berair, maka lahad lebih utama berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan. Akan tetapi, jika tanahnya lembek dan berair, maka model syaq adalah yang lebih utama.” (Syarh Al-Muhadzdzab, 5: 287) Syekh Abdullah Alu Bassam hafizahullah berkata, “Ulama bersepakat bahwa diperbolehkan membuat liang kubur dengan model lahad dan syaq. Namun, Imam Ahmad menilai makruh membuat syaq jika tanpa uzur.” (Taudhihul Ahkam, 3: 242) Hadis ini juga menjelaskan tentang tata cara memakamkan jenazah. Yaitu, dengan memasukkan jenazah dari sisi letak dua kaki di lubang kubur, berdasarkan penjelasan kami di tulisan sebelumnya. Ketika memasukkan jenazah, dianjurkan membaca doa sebagaimana hadis berikut. Dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم، َ كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan jenazah di dalam lubang kubur, beliau mengucapkan, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA SUNNATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, dinilai sahih oleh Albani) Sedangkan dalam riwayat Ahmad (8: 430), juga dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ، فَقُولُوا: بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Jika kalian meletakkan jenazah di dalam kubur, maka ucapkanlah, ‘BISMILLAAH WA ‘ALAA MILLATI RASUULILLAAH’ (Dengan nama Allah dan berada di atas millah [agama atau syariat] Rasulullah).” Setelah itu, diletakkan miring ke arah kanan, karena mirip dengan posisi orang tidur. Dan inilah di antara sunah ketika tidur, sehingga badan jenazah menghadap ke arah kiblat. Setelah itu, bata atau papan diletakkan di belakang punggung jenazah dengan kuat. Hal ini bertujuan untuk: 1) bata atau papan tersebut tidak terjatuh ke dalam liang lahad dan sisi-sisi bata/papan tersebut saling menyatu (merekat) kuat dengan tanah, dan 2) agar tanah untuk menimbun kubur tidak langsung menimpa jenazah. Yang terakhir adalah memasukkan tanah ke dalam lubang kubur secara cepat untuk menyelesaikan proses pemakaman. Baca juga: Hukum Memakamkan Dua Jenazah atau Lebih di Satu Lubang Kubur Hadis kedua Dari Fudhail bin Sulaiman, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ لَهُ لَحْدًا، وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنَ نَصْبًا ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ “Dibuatkan lahad untuk kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diletakkan batu di atasnya, dan ditinggikan kuburnya dari permukaan tanah setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Sanad hadis tersebut sahih sesuai dengan syarat Muslim. Akan tetapi, hadis ini juga diriwayatkan secara mursal dari Abdul Aziz, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, beliau berkata, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُشَّ عَلَى قَبْرِهِ الْمَاءُ، وَوُضِعَ عَلَيْهِ حَصْبَاءُ مِنْ حَصْبَاءِ الْعَرْصَةِ، وَرُفِعَ قَبْرُهُ قَدْرَ شِبْرٍ “Sesungguhnya (Jabir bin ‘Abdillah) memercikkan air di atas kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, meletakkan batu di atasnya, dan meninggikan kuburnya setinggi sejengkal.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3: 576) Hadis ini adalah dalil bahwa kubur itu hendaknya ditinggikan dari permukaan tanah seukuran satu jengkal, agar dikenal (diketahui) bahwa itu adalah kubur sehingga orang bisa memuliakan atau menghormatinya, tidak menghinakannya dengan diinjak-injak, dan lain sebagainya. Sehingga tanah yang digunakan untuk menimbun (membuat gundukan) hanya menggunakan tanah dari sekitar liang kubur saja. Adapun meninggikan lebih dari sejengkal, hal itu tidak diperbolehkan. Demikian pula, tidak diperbolehkan menambahkan tanah dari luar area pemakaman untuk menutup lubang kubur. Karena hal itu dinilai sama dengan meninggikan bangunan di atas kubur yang diharamkan. Sebagaimana telah kami jelaskan di tulisan kami yang lainnya. Hadis ini juga menjelaskan bolehnya memerciki tanah di kubur dengan air dan meletakkan batu-batu kecil di atas punggung (gundukan) kubur. Karena hal itu bisa mengokohkan kubur dan mencegah gundukan kubur tersebut menjadi tergerus (terkikis). Demikian juga, bisa mencegah hilangnya gundukan kubur karena dibawa oleh angin dan banjir. Demikian pula, diperbolehkan untuk menandai kubur tersebut dengan batu atau sejenisnya, sehingga orang-orang yang hendak berziarah kubur bisa mengetahui letak kuburnya. Dan juga ketika ingin memakamkan kerabatnya di samping kubur tersebut. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang meletakkan batu di sisi letak kepala kubur ‘Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau mengatakan, أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي “Supaya dengan batu itu, aku mengetahui bahwa itu adalah kubur saudaraku dan aku bisa memakamkan keluargaku di dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 3206, dinilai hasan oleh Al-Albani) Zahirnya menunjukkan bahwa penanda itu dengan satu batu saja dan diletakkan di sisi diletakkannya kepala jenazah, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah sunahnya, sebagaimana dikatakan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah (Al-Majmu’, 5: 298). Jika kubur tersebut dapat diketahui tanpa penanda batu dan sejenisnya, hal itu pun juga sudah mencukupi. Demikian sedikit pembahasan ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Beberapa Faedah dari Hadis-Hadis yang Berisi Anjuran Ziarah Kubur *** @Kantor Pogung, 4 Shafar 1445/ 21 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 341-343) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 227-228). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: batu nisanliang lahad
Prev     Next